Sugeng Rawuh
image

PEPADI JATENG


Hambangun budi pakarti tumrap jagad pewayangan
Unduhan
Pengunjung

Peningkatan Peran Dalang dan Keunggulan Pewayangan Menyongsong Visit Jawa Tengah Tahun 2013

 

Dalang dan wayang dapat digambarkan dalam kata-kata indah berbahasa Jawa (pepiridan, pepindhan) yaitu : ‘kadya suruh lumah kurepe, yen sinawang beda rupane, yen ginigit padha rasane’. Kata indah ini memiliki arti dan makna bahwa antara dalang dan wayang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu lahirlah pengembangan konsep (term, concept, content)   yang disebut dengan Pedalangan, Pewayangan, dan Pakeliran. Ke tiga kata kunci ini telah menyatu, dan telah dilahirkan sebagai  sebuah caraka (cipta, rasa dan karsa) yang indah dan menyentuh rasa. Penggambaran tentang hal ini, tertulis dalam K akawin Arjunawiwaha , karya Mpu Kanwa seorang pujangga kraton pada masa peme-rintahan Raja Airlangga di Jawa Timur, pada abad XI (1019-1042), Bab V bait 9, sebagai berikut:

 

‘H anânonton ringgit manangis asĕkĕl mudha hiděpan

huwus wruh towin yan walulang inukir molah angucap

atur ning wang tŗşņêng wişaya malahā tan wihikanhina

ri tattwanyan māyā sahana-hana ning bhāwa siluman .

 

              Terjemahan :

 

Ada orang menonton wayang, menangis, sedih, kacau hatinya.

Telah tahu pula, bahwa kulit yang dipahatlah yang bergerak dan bercakap itu.

Begitulah rupanya orang yang lekat akan sasaran indera, melongo saja, sampai  

tak tahu, bahwa pada hakikatnya mayalah segala yang ada, sulapan belaka .

 

            Di balik penggambaran tentang indahnya wayang waktu itu, Ki Dalang memegang peranan yang amat menentukan. Konsep dalang merujuk pada tokoh atau sosok utama dalam pewayangan. Peran dan fungsinya begitu penting dan strategis. Dalam manajemen, dalang adalah manajer utama, atau pemegang ‘top management’   yang memiliki peran amat penting di jagad pewayangan dan pakeliran. Dengan peranan yang dimainkan Ki Dalang, nuansa dan pesona wayang dipergelarkan. Di balik wayang ada sang dalang yang berada di  posisi sentral. Dinamika dan keindahan pergelaran wayang sangat ditentukan oleh sosok dalang. Dalam kasanah pewayangan dalang adalah ‘segalanya’. Dalam konteks   ini, Victoria M Clara van Gronendael (1987) telah menguraikan secara lengkap dalam bukunya yang berjudul: ‘Dalang Di Balik Wayang’ . Secara ringkas telah disusun synopsis tentang buku ini, sebagai berikut:  

 

            Sebagai pelaku utama, dalang menduduki tempat yang sentral dalam pertunjukan wayang yang telah berurat-berakar dalam sejarah kebudayaan Jawa. Dari buku yang lebih menekankan studi antropologi ini, memusatkan perhatian pada peran dalang dalam masya-rakat, maupun di lingkungan kerajaan-kerajaan khususnya di Jawa Tengah.

 

 

 

Beberapa hal yang dikedepankan, antara lain mencakup pembicaraan tentang pendidikan latihan dalang, silsilah dalang, perbedaan gaya antara tradisi Karaton dan umum, dan kedudukan dalang di lingkungan atau di luar tembok karaton. Selain itu juga diuraikan bagaimana seorang dalang menjalankan tugasnya, pada suasana dan kesempatan apa sang dalang memainkan wayang’.

 

             

Peran Dalang dalam Pewayangan dan Pakeliran

             Istilah Dalang asal muasalnya dari kata Dahyang , yang maknanya sebagai insan penyembuh berbagai macam penyakit. Prof Dr Seno Hamijoyo (1964), dalam bukunya ‘Renungan Pertunjukan Wayang Kulit’, mengartikan Dalang sebagai ‘Wedha-Wulang’. Arti dan maknanya adalah menyampaikan piwulang yang terdapat dalam Kitab Suci Wedha. Handhalang berarti ‘hangudhal-udhal piwulang’ atau memberikan pelajaran tentang ilmu atau ngelmu. Itulah sebabnya, seorang dalang harus mempunyai bekal keilmuan yang cukup. Berbagai bidang keilmuan harus dipelajari, sehingga dalam membangun substansi, lakon atau ceritera bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman, perubahan budaya, dan aneka persoalan kekinian.

              Dalang di jagad pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai ke-ahlian khusus dalam memainkan wayang   atau ‘ ndhalang ’. Keahlian ini sering diperoleh dari bakat (talenta) turun-temurun dari leluhurnya . Seorang anak dalang akan bisa mendalang tanpa harus belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membantu/membawakan peralatan, memasang kelir, menata panggung, mengatur wayang ( nyimping ), menjadi niyaga/ pengrawit , atau duduk dibelakang ayahnya mempersiapkan wayang yang akan dimainkan . Dalam konteks kekinian, Dalang adalah seorang sutradara , seniman penulis lakon , seorang narator , sesepuh atau guru, peñata karakter, penyusun dan pelantun gendhing, penata seni pentas , sebagai humoris yang menghibur (dhagelan), penari dan lain sebagainya. Dengan kata lain, dalang adalah seorang seniman atau seniwati yang mempunyai kelebihan, keahlian dan kemampuan yang beraneka ragam.

             Dalam tataran ideal, seorang dalang perlu memiliki landasan dan obsesi spiritual, yaitu: ‘kasutapan, katiyasan dan kawicaksanan’ dalam memilih peranannya di jagad pewayangan. Itulah sebabnya, ada beberapa sebutan dalang dengan klasifikasi: Dalang Jati, Dalang Purba, Dalang Wasesa, Dalang Guna, dan Dalang Wikalpa. Dalang Jati adalah dalang yang menitik beratkan garapannya pada berbagai cerita yang dapat dipakai sebagai tauladan bagi masyarakat. Dalang Purba adalah dalang sebagai penuntun dan pemberi wejangan pada masyarakat tentang hidup dan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat dengan mengurai lakon - lakon yang digarapnya. Dalang Wasesa adalah dalang yang dapat membaca, menguasai dan mengenal situasi yang diinginkan penonton dalam membawakan lakon nya. Dalang Guna adalah seorang dalang yang mementingkan jalinan ceritanya sesuai dengan aturan seni pedalangan. Dalang Wikalpa adalah dalang yang menyampaikan ngelmu dan ilmu pengetahuan, sedangkan lakon atau ceritanya masih berpegang pada pakem pedalangan.

                Berdasarkan ketrampilan dan kepandaiannya mendalang, dalang dapat dikelom-pokan menjadi tiga. Tiga kelompok tersebut yaitu Dalang Utama, Dalang Madya, Dalang Purana.

 

Dalang Utama adalah dalang yang dalam pengalaman garapannya sudah sampai pada puncak garapan. Dalang Madya adalah dalang yang berada dalam pertengahan kepandaian garapan. Dalang Purana adalah dalang yang berada dalam tahap belajar. Dari tiga golongan yang besar tersebut, dapat diperinci menjadi lima golongan, yaitu Dalang Banyol, Dalang Sabet , Dalang Antawacana , Dalang Suluk , dan Dalang Pakem. Dalam pakeliran, Dalang Pakem tetap berpegang teguh pada cerita-cerita yang telah digariskan dalam Buku Pakem Pedalangan.

 

            Dalam konteks pewayangan, dalang   mempergelarkan kisah-kisah dalam kitab atau susastra Ramayana atau Mahabarata. Para pujangga Jawa telah menggubah kitab-kitab tersebut sesuai dengan nuansa yang tipikal Jawa. Adi karya gubahan bukan hanya dilaku-kan terhadap nama-nama tokoh wayang, tetapi juga dalam kisah-kisah, atau lakonnya. Gubahannya disesuaikan dengan suasana kebatinan, situasi dan kondisi  kesejarahan ke-budayaan di Indonesia. Dalam pertunjukan wayang, pada awalnya sang dalang mem-pergelarkan wayang semalam suntuk dengan durasi waktu kurang lebih 8 (delapan) jam. Dalam perkembangan kemudian, lama waktu pentasnya dipadatkan atau dikurangi.

           Dalam mempergelarkan wayang kulit Ki Dalang duduk bersila dalam naungan sinar Blencong, berhadapan dengan bentangan kain putih yang disebut Kelir , berhiaskan Simpingan-Wayang yang simetris tertancap di Gedebog . Di sebelah kiri dalang tersedia Keprak , Kotak Wayang , dan Cempala yang terbuat dari kayu (galih) untuk Dhodogan . Sang Dalang dalam mengkisahkan Lakon sering diiringi dengan Sulukan sebagai syair/ nyanyian yang dilantunkan untuk menghadirkan nuansa atau suasana tertentu. Di dalam sulukan ber-bahasa Kawi terangkai dengan: ‘ada-ada, sendon, bendhengan, kombangan’. Dalam kaitan dengan hal-hal ini, dalang menyampaikan Janturan atau Pocapan berupa narasi tentang Lakon Wayang ; diiringi dengan Gendhing , sebagai sebuah orkestra yang mengalunkan lelangen swara oleh seperangkat Gamelan , dan disemarakkan oleh bebe-rapa   Pesindhen atau Swarawati, Niyaga , dan Wira Swara.

             Dari aspek kesejarahan, peran dalang dalam pewayangan telah mengalami banyak perubahan. Pada waktu ini, klasifikasi atau sebutan untuk dalang telah menjadi bermacam-macam. Predikat Dalang Jati, Dalang Purba, Dalang Wasesa, Dalang Guna, dan Dalang Wikalpa, sudah ‘menjadi cerita masa lalu’, karena kurang dekat dengan konteks kekinian.  Dewasa ini telah terjadi evolusi perubahan dan pergeseran sebutan, dari ‘Dalang Pakem, Dalang Tradisional, Dalang Wejangan, Dalang Nges, Dalang Gandem, dan Dalang Cucut’, ke arah sebutan dalang yang lebih populer sesuai dengan permintaan pasar maupun trend masa kini, antara lain: Dalang Sabet, Dalang Setan, Dalang Edan, Dalang Spektakuler, Dalang Mbeling, dan lain-lainnya.

               Dalam pewayangan terkandung nilai-nilai: keadiluhungan, filsafat, religio spiritual, etika, moral, seni budaya, dan lain-lain. Hazim Amir (1991)   dalam bukunya ‘Nilai-nilai Etis Dalam Wayang’, melukiskan gambaran atau citra Raja yang ideal, Ksatria yang ideal, Pandhita yang ideal, Kawula yang ideal, untuk selalu melaksanakan dharma-dharmanya, tugas dan kewajiban dalam gumelarnya kehidupan. Hazim Amir juga menguraikan adanya 20 (dua puluh)   nilai-nilai etis yang terkandung dalam pewayangan, yaitu meliputi:

 

 

‘Kesempurnaan sejati, Kesatuan sejati, Kebenaran sejati, Kesucian sejati, Keadilan sejati, Keagungan sejati, Kemercusuaran sejati, Keabadian sejati, Keteraturan Makro-kosmos sejati, Keteraturan Mikrokosmos sejati, Kebijaksanaan sejati, Pengetahuan sejati. Kesadaran dan Keyakinan sejati, Kekasihsayangan sejati, Ketanggungjawaban sejati, Kehendak, Niat dan Tekad sejati, Keberanian, Semangat dan Pengabdian sejati, Kekuatan sejati, Kekuasaan dan Kemerdekaan sejati, dan Kebahagiaan sejati’.

               Dalam pergelaran wayang, peran dalang sangat mewarnai pewayangan dan pake-liran. Dinamika dan perkembangan di jagad pewayangan dan pakeliran secara perlahan terus berubah. Dari fenomena yang nampak, ada elemen pakem atau paugeran pewa-yangan yang dipertahankan, tetapi ada juga yang  mulai diubah, diringkas, atau disesuai-kan. Filosofi, arti dan makna pewayangan  juga telah mengalami evolusi perubahan. Nilai-nilai atau keadiluhungan wayang mulai tergerus oleh tuntutan dan dinamika jaman. Dimensi nilai sebagaimana diuraikan oleh Hazim Amir, mulai banyak dilupakan atau disisihkan.  Dewasa ini formula atau substansi pewayangan dan pakeliran, yang terdiri dari: ‘Tatanan, Tuntunan dan Tontonan ’ mulai sulit untuk diwujudkan secara serasi dan seimbang. Usai pergelaran wayang, banyak pertanyaan atau penilaian yang sering muncul, antara lain: ‘pentas wayang   koq ora ana rasane’ . Paska pagelaran wayang ada juga yang bertanya: ‘iki mau lakone apa?’ .

               Jagad pakeliran selama sepuluh tahun terakhir ini, banyak sekali perubahan yang menerjang paugeran wayang. Fenomena perubahan tentang hal ini, banyak diuraikan oleh Dhanang Respati Puguh dalam makalahnya yang berjudul: ‘Dari Pakeliran Adiluhung Ke Pakeliran Glamor-Spektakuler’. Seiring dengan perkembangan zaman, telah terjadi peru-bahan format pakeliran . Banyak dhalang yang mulai mengambil langkah untuk melakukan ‘ pembaharuan’ pakeliran. Trilogi pewayangan yang menjadi tema utama dalam Kongres Pewayangan  di Yogyakarta pada tahun 2005, yaitu: Tatanan, Tuntunan, Tontonan’, ada yang mengusulkan untuk   ditambah dengan istilah ‘tuntutan’ untuk memenuhi   permintaan atau selera pasar.  Dhanang Respati Puguh (2009) memerinci terjadinya perubahan format pakeliran, antara lain: (1) penambahan jumlah dalang dan penambahan lebar kelir pada pentas wayang; (2) penambahan pelaku pertunjukan, yaitu: pemusik, pelawak, pemain wayang orang, penari, penyanyi, dan pejabat pemerintah yang ditempatkan di panggung tersendiri ; (3) masuknya beberapa instrumen musik non-gamelan sebagai sarana pendukung pertunjukan, antara lain: keyboard , drum , bass guitar , dan rhythm guitar ; (4) hadirnya pemusik dan penyanyii campur sari, penyanyi dhang-dut, dan lain-lain.

               Pertunjukan wayang kulit tidak lagi dipusatkan pada kelir , tetapi mulai banyak dikedepankan pada atraksi bernuansa tetrikal, interaksi atau dialog antara dalang dengan pejabat, dialog antar seniman, dan unsur masyarakat yang menjadi pendukungnya. Suasana dialogis dalam pentas wayang mulai terbuka untuk seluruh komunitas pendukung dan penikmat pewayangan. Dalam pakeliran jenis ini terbuka ruang untuk mendaya-gunakan pewayangan sebagai media penyampaian berbagai pesan. Substansi atau muatan pesan yang disampaikan dalam adegan ini bisa beraneka ragam. Penyampaian pesan untuk mendukung pencapaian sasaran-sasaran dalam penyelenggaraan peme-rintahan dan pembangunan dapat dioptimalkan.

 

Selain dari pada itu, sesuai dengan ‘karakter’ seorang dalang sebagai seniman yang apresiatif, apalagi di era transisi demokrasi yang lebih mem-beri kebebasan (kadang kala ditafsirkan untuk dapat berbuat ‘sebebas-bebasnya’), budaya kritik sering member warna format pakeliran ini. Itulah sebabnya, aspek tontonan menjadi lebih dominan daripada aspek tuntunan. Dimensi spiritual atau keadiluhungan dalam seni pewayangan mulai terpinggirkan. Dalam format pakeliran ini, nilai-nilai filosofis, pitutur luhur atau piwulang kautaman telah terlanda oleh dinamika dan kemajuan jaman. Dalam format pakeliran ini, fenomena ‘pengarus-utamaan’ masalah dan persoalan keduniawian lebih menonjol dari pada pengutamaan aspek-aspek religio spiritual. Pewayangan yang kaya dengan nilai-nilai filosofis, etis, estetis dan paedagogis, mulai menipis dan terkikis.

             Dengan terkikisnya nilai-nilai filosofis, etis, dan estetis dalam pewayangan, bebe-rapa kalangan memprihatinkan kondisi seperti itu. Para pakar pewayangan juga me-lontarkan peringatan terhadap perubahan dalam pewayangan. H Bambang Murtiyoso (2010) memberi peringatan dalam sebuah artikel menarik di Solo Pos: ‘Jangan Main-main dengan Wayang’. Dalam kaitan dengan kondisi, situasi dan perubahan di ranah pewayangan, Ki B Subono dalam ‘Dalang Goyang-Gendheng-Gendhung’, menggubah dalam geguritan yang indah:

 

                                                                                                            Wayangku

Wayangku wis dudu lakuning urip kang sejati/

Wayangku wis dudu pralampita/

Tus turasing janma kang tulus jiwa utama/

Wayangku wis kelangan adeg-adeg traping budaya/

Wayangku wis kelangan satriya-satriya pinandhita/

Wayangku mung dinggo srana mungkaring hawa nepsu/

Wayangku mung dinggo kudhung kedhok ing kekarepan/

Wayangku mung dinggo kudhung eden-eden simbul lelamisan/

Oh wayangku/

mesakake temen nasibmu/

Oh wayangku/

Werkudara njegur segara/ Gatutkaca prawira tama wis ora ana/

sing ana mung Durna cidra, Sengkuni maling/

Bilung ngejawantah/

Oh wayangku/

sing salah ki kowe apa dhalange/

yen dhalang-dhalang saiki padha wedi karo sing ndhalangi/

nanging ora wedi karo Sang Maha Dhalang/

wayang keplantrang/

kombak-kombul, kerut-katut ing lakuning jaman.

 

 

Keunggulan Pewayangan dan Pakeliran

                 Dalam mengidentifikasi keunggulan pewayangan dan pakeliran, perlu bersumber pada sejarah asal-usul wayang. Berkaitan dengan hal ini, ada dua pendapat yang perlu diperhatikan. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir di Pulau Jawa. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga dari hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan dan pertimbangan mereka cukup kuat. Di antaranya adalah bahwa seni wayang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak ada di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), bukan dari kasanah  bahasa lain.

 

              Sementara itu, pendapat kedua menduga bahwa wayang berasal dari India, yang dibawa   bersamaan   dengan   masuknya   agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India. Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pewayangan banyak menyebutkan bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, bukan dari negara lain.

 

             Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012),   tatkala kerajaan di Jawa Timur itu sedang mengalami kemakmurannya. Karya sastra yang menjadi sumber cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, pada abad ke X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin yang berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910). Dari perjalanan sejarah dan budaya wayang yang sudah berabad-abad lamanya, sampai dengan sekarang ini wayang masih eksis, di-nikmati dan disenangi oleh masyarakat. Sungguh banyak nilai-nilai (values) yang bermutu tinggi dalam kandungan pewayangan dan pakeliran .

 

                 Dalam hal wayang yang telah menempuh sejarah panjang, wayang Indonesia telah dikukuhkan UNESCO-PBB sebagai ‘Masterpiece of Oral and Intangibel Heritage of Humanity”   tanggal 7 November 2003, di kota Paris Perancis. Dengan pengukuhan itu, merupakan prestasi budaya bangsa Indonesia yang sangat membanggakan. Penetapan oleh UNESCO, antara lain didasarkan pada alasan dan pertimbangan sebagai berikut: 

1.  Memiliki nilai-nilai yang luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia;

2.  Berakar dalam tradisi budaya atau sejarah budaya masyarakat yang bersangkutan;

3.  Berperan sebagai sarana pernyataan jati diri bangsa yang bersangkutan, fungsinya sebagai sumber inspirasi pertukaran budaya, dan peranan sosialnya bagi masyarakat;

4.  Kegunaannya  dalam penerapan keterampilan dan sifat teknik yang diperlihatkan;

5.  Peranannya sebagai   sebuah tradisi budaya yang hidup;

6.  Resiko budaya yang bisa punah karena kekurangan sarana untuk melestarikan dan melindunginya.        

 

               Wayang  yang diakui oleh UNESCO PBB bukan hanya wayang Jawa tetapi wayang Indonesia, termasuk dalam hal ini wayang Bali, wayang golek Sunda, wayang Lombok, dan lain-lain. Wayang yang lebih dikenal di Indonesia adalah wayang kulit purwo yang terbuat dari kulit hewan yaitu sapi, lembu, atau kambing. Bentuk wayang sangat menarik untuk dilihat atau diamati, karena memiliki keindahan artistik, terutama pada rumitnya pahatan dan pewarnaan wayang (tatah kulit, tatah sungging). Cerita atau lakon-lakon yang dimain-kan berkisah tentang dewa-dewi, raja-raja, ksatria-ksatria, pendeta atau resi, aneka kisah tentang peperangan, kepahlawanan, perebutan kekuasaan, kisah percintaan, aneka satwa, lingkungan, dan lain-lain. Kandungan nilai-nilai dalam pewayangan sangat tinggi mutunya. Keadiluhungan dan nuansa dalam pewayangan dan pakeliran, yang hidup dan berkembang berabad-abad lamanya telah diakui, dikagumi, dan menarik perhatian   para   pakar dan peneliti Barat.

             Dalam disertasinya yang berjudul ‘Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel’ (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keya-kinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan wewayangan apabila dilihat bayangannya di balik tirai kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang. Dalam pewayangan ada pandangan menarik yang perlu dan layak untuk diperhatikan yaitu peran dan fungsinya sebagai refleksi dari keanekaragaman kehidupan, moralitas dan karakter manusia. Melalui wayang  dapat dibaca karakter masing-masing. ‘Pluralitas moral’ digambarkan dalam tokoh-tokoh wayang yang dipergelarkan dalam pentas wayang (Benedict ROG Anderson, 1965). Dalam pergelar-an wayang dapat dilihat bermacam-macam bentuk figur wayang. Perbedaan tersebut perlu dilihat bukan hanya segi visual tetapi arti dan maknanya yang beraneka ragam. Melalui cerita atau lakon yang digelar, wayang merupakan lambang dari kisah-kisah perjalanan ke- hidupan manusia.  

 

           Pergelaran wayang untuk semalam suntuk maupun untuk pakeliran padat dengan durasi waktu 2 (dua) atau 4 (empat) jam, peran sang Dalang dan Lakon   mempunyai kedudukan penting dan strategis. Lakon-lakon dalam pewayangan dibingkai dalam pakem sebagai : pathokan, paugeran atau wewaton. Pada dasarnya pakem dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian, ialah: (1). Lakon wayang yang disebut pakem; (2). Lakon wayang yang disebut carangan; (3). Lakon wayang yang disebut gubahan; dan (4). Lakon wayang yang disebut karangan. Dalam pergelaran wayang, lakon atau cerita memegang peran penting.

Suasana, nuansa keindahan, dan semaraknya pakeliran terletak ditangan sang dalang.               

 

             Wayang sebagai representasi ‘karakter manusia’ yang menjadi lakon wayang (Sri Mulyana, 1981), tidak dapat dipisahkan dengan peran Dalang yang harus mumpuni atau lebda ing kawruh, ngelmu , pangawikan , lelungidan , filsafat, etika dan moral. Oleh karena itu Dalang menempati posisi yang sangat strategis sebagai ‘agent’ untuk menanamkan dan menginternalisasikan nilai-nilai etika dan moral. Dalang merupakan ‘aset dan modal sosial’ yang dapat didayagunakan dalam rangka pembangunan karakter atau pekerti Bangsa. Dalam pewayangan dan pedalangan banyak sekali nilai-nilai, ajaran, dan wulangan yang dapat dijadikan masukan (input) untuk pembangunan karakter bangsa.

 

Apabila dikaitkan dengan tradisi ritual, dewasa ini masih banyak dijumpai pergelaran wayang dalam rangka Ruwatan, Merti Bumi, dan Bersih Desa di bulan Sura atau Ruwahan. Dalam konteks ini pewayangan dapat dijadikan sebagai wahana dan sarana pembebasan atau penyucian diri dari dosa, atau agar terbebas dari   ‘sukerta’.

 

           Dari sudut pandang visual seni lukis, wayang mempunyai pesona yang unik Jawa. Beberapa pakar mengagumi keindahan dan keunikan seni lukisnya. Ratusan tokoh wayang terlukis dengan indah dan beragam sebagai representasi keaneragaman karakter manusia. Keindahan dan keunikan lukisan terdapat pada jenis-jenis Gunungan atau Kayon yang beraneka ragam. Dimensi filosofis Kayon tidak hanya bermakna religio spiritual tetapi juga kekayaan di ranah lingkungan alam. Pewayangan  telah menjadi sumber penciptaan karya seni lukis yang tinggi mutunya. Sehingga bentuk dan variasi seni lukis pada wayang   banyak yang dituangkan pada logo, tetenger bangunan, motif kain batik dan kaos, kayu sekat ruangan, kaligrafi wayang, lukisan kaca, dan lain-lainnya.

 

 

             Dalam kaitan dengan keunggulan pewayangan dan pakeliran, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian SENA WANGI Drs H Solichin (2003) dalam buku ‘Karya Agung Budaya Dunia’, menjelaskan bahwa wayang merupakan salah satu unsur jatidiri bangsa Indonesia. Dalam pergelaran wayang dijumpai 5 (lima) unsur, yaitu (1) Seni Cipta ; (2) Seni Pentas ; (3) Seni Kriya ; (4) Seni Ripta ; (5) Seni Widya . Selanjutnya juga dinyatakan bahwa pewayangan dan pedalangan mempunyai peran yang bermakna dalam ranah seni budaya. Melalui keunggulan pewayangan dan pakeliran, pesan-pesan dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan dapat disosialisasikan.

 

Menyongsong Visit Jawa Tengah 2013

 

            Dalam perjalanan sejarah, keberadaan ‘dalang-pewayangan-pakeliran’ masih eksis dalam kehidupan masyarakat. Ke tiga hal tersebut, telah menjadi ikon yang masih kuat daya tariknya untuk berbagai keperluan. Dalam menyikapi dan memberdayakan ke tiga hal tersebut, ada dua acuan sikap yang layak untuk dipertimbangkan. Dalang-pewayangan-pakeliran, perlu dilihat dalam perspektif konservatif. Artinya, warisan atau karya budaya yang telah menjadi jatidiri bangsa   tetap diuri-uri dan dilestarikan. Dalam hubungan dengan hal ini, pewayangan telah menjadi lambang atau simbol yang  memasuki atau menembus inti permasalahan manusia yang sangat universal, yaitu: (1). masalah etika dalam pergulatan manusia mencari nilai antara baik dan buruk; (2). masalah hubungan manusia dengan alam dan penciptaNya; (3). masalah hubungan manusia dengan Dhat yang sifatnya fana maupun Yang Mutlak. Apabila dikaitkan dengan persoalan kekuasaan dalam pemerintahan, sungguh banyak ajaran kenegaraan atau kepemimpinan yang masih layak untuk diimplementasikan. Sebagai contoh adalah  ajaran Hasthabrata dalam lakon Wahyu Makutharama. Untuk itu, dalam acuan pemikiran pertama, nilai-nilai filosofis dan keadiluhungan yang ada dalam pewayangan tetap perlu dilestarikan dan didayagunakan sebagai masukan dalam rangka pembangunan pekerti bangsa.

 

 

 

           Acuan sikap yang ke dua adalah memandang ‘dalang-pewayangan-pakeliran’ dalam perspektif progresif dengan wawasan untuk masa depan. Dengan pendekatan progresif, akan lebih mendorong kita untuk melakukan inovasi dan pembaharuan. Dimensi ‘tatanan-tuntunan-tontonan’ tetap dijaga dan dikembangkan secara seimbang sesuai dengan perkembangan pada aspek ‘dalang-pewayangan-pakeliran’. Di tengah gelombang dahsyat globalisasi, dan pesatnya kemajuan teknologi informasi, wayang mempunyai pesona dan dapat diinovasi. Dalam hubungan dengan hal ini, penggarapan pewayangan dan pakeliran perlu mendayagunakan teknologi informasi.   Dalam hubungan ini ada pandangan menarik dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Faruk, S.U (2010), di Balai Senat UGM yang berjudul ‘Sastra dalam Masyarakat (ter-)Multimedia(-kan)’. Ada beberapa ilustrasi dalam  pidato pengukuhan ini, antara lain: masyarakat Indonesia belum menjadi masyarakat yang beraksara dengan budaya aksara yang kuat. Masyarakat Indonesia telah benar-benar termultimediakan. Salah satu fenomena yang unik adalah lahirnya watak ‘tembak langsung’ dari budaya lisan ke budaya multi media. Perubahan yang demikian sudah terbukti di dalam seni pertunjukkan wayang kulit sebagaimana bisa disimak dari buku Umar Kayam   (2001) yang berjudul ‘Kelir Tanpa Batas’.

 

‘Fenomena ‘Dalang Setan’, Ki Manteb Sudarsono, memperlihatkan munculnya sebuah generasi baru dengan sensibilitas yang berbeda dari, misalnya, penggemar Anom Suroto di tahun 1970-an, apalagi dengan wayang ruwat. Generasi ini pula yang menjadikan wayang kulit mutakhir menjadi ‘kelir tanpa batas’ karena ke dalamnya dapat masuk aneka peralatan dan permainan musik, aneka seni pertunjukkan, yang membuat wayang kulit menjadi multi pertunjukkan’.

            Dari beberapa hal yang terdapat dalam buku ‘Kelir Tanpa Batas’, ada yang layak untuk disimak dan direnungkan. Dalam wayang kulit purwo gaya Surakarta, Yogyakarta dan Jawa Timur telah mengalami pemudaran pakem dan bentuk estetiknya. Seiring dengan berubahnya jaman, beberapa pakem mulai mencair. Hal ini dipengaruhi oleh menipisnya batas antara dunia panggung dengan komunitas penonton sebagai penikmat wayang kulit di luar panggun g. Kelir tanpa Batas melambangkan perumpamaan bahwa kajian dan wacana mengenai wayang kulit tak akan pernah selesai. Walaupun perubahan itu sering memunculkan perdebatan dan mengundang pro-kontra, wayang kulit akan tetap ada dan bertahan dengan perubahannya. Arti, makna dan perlambangan ‘kelir tanpa batas’  benar-benar telah terjadi dan akan terus terjadi dalam setiap perubahan budaya.

 

            Pada era Orde Baru, pewayangan sering dimanfaatkan  sebagai media untuk me-nyampaikan pesan-pesan pembangunan. Dalam rangka menumbuh-kembangkan budaya membangun, pentas wayang digelar atau disiarkan secara teratur. Radio Republik Indo-nesia  (RRI) menyiarkan pergelaran wayang setiap bulan. Perhatian pemerintah terhadap Lembaga Pembina Seni Pedalangan (GANASIDI) dan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI) cukup besar, antara lain dengan menyelenggarakan pentas wayang secara teratur di beberapa anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan dibangunnya Gedung Pewayangan Kautaman. Pada masa Orde Baru, penyediaan anggaran untuk pewa-yangan dan pakeliran ditingkatkan setiap tahunnya.

 

 

 

            Dalam perkembangannya sampai dengan sekarang, pewayangan masih didaya-gunakan sebagai media penyampaian pesan pembangunan. Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN)  beberapa kali menggelar pentas wayang untuk mensosialisasikan bahaya narkoba kepada masyarakat. Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan Perum PERURI, secara teratur menggelar pentas wayang untuk mensosialisasikan tentang keaslian uang. BKKBN juga mengundang dalang untuk melakukan sosialisasi tentang kependudukan dan KB. Departemen Luar Negeri secara insidental juga menyelenggarakan pergelaran wayang kulit berbahasa inggris untuk mem-perkenalkan wayang kepada para Duta Besar dan Konsul dari Negara Sahabat.

 

           Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) juga menyelenggarakan pentas di beberapa daerah untuk mensosialisasikan 4 pilar kenegaraan yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika. Kementerian Informasi dan Komunikasi, Lembaga Perlidungan Saksi dan Korban (LPSK), dan beberapa Kementerian   lainnya juga mengundang para dalang dari berbagai Provinsi, dalam rangka sosialisasi program-program dikementeriannya. Menjelang diselenggarakannya Pemilihan Umum atau Pemilihan Kepala Daerah, beberapa kekuatan sosial politik juga mengadakan pergelaran wayang untuk kepentingan kampanye.

 

            Beberapa Pemerintah Provinsi atau Kabupaten/Kota  di luar Jawa, yang sebagian penduduknya merupakan transmigran dari Jawa, banyak yang masih menyelenggarakan pentas wayang untuk berbagai keperluan. Dengan masih dipergelarkannya pentas-pentas wayang tersebut, menandakan bahwa ‘dalang-pewayangan-pakeliran’, masih memiliki nilai lebih dan memberi ruang untuk berbagai keperluan dan kepentingan. Sehubungan dengan masih adanya potensi, nilai lebih, ruang, dan peluang untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, peran dalang dan pewayangan perlu didayagunakan untuk menyongsong Visit Jawa Tengah pada tahun 2013.

 

             Dalam hubungan dengan upaya dan langkah-langkah menyongsong Visit Jawa Tengah Tahun 2013, ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Luar Negeri, SENAWANGI dan PEPADI yang perlu dan layak untuk disimak dan diperhatikan sebagai bahan masukan promosi wisata dan pengenalan kekayaan seni budaya pewayangan.

 

Pertama, paska penerimaan penghargaan ‘Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity dari UNESCO”, pada tahun 2008 telah diselenggarakan Festival Wayang Internasional yang menampilkan wayang dalam wajah yang lebih modern dan teatrikal. Dalam festival yang berlangsung selama lima hari ini, diikuti oleh sembilan negara anggota ASEAN yaitu: Malaysia, Laos, Singapura, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Filipina, Thailand, dan Indonesia. Brunei Darussalam, yang belum memiliki wayang, datang sebagai peninjau. Selain mempergelarkan  wayang dalam bentuk pakeliran padat, festival diisi   dengan acara   simposium dan pendeklarasian Asosiasi Wayang ASEAN.

 

Ke dua, Konsulat R epublik Indonesia di Darwin memperkenalkan permainan gamelan Jawa kepada siswa dari sejumlah sekolah di Australia, melalui lokakarya gamelan dan seni   Budaya Nu santara. Paska lokakarya ditindaklanjuti dengan workshop dan kegiatan promosi 

 

 

seni budaya Ind o nesia dengan lokasi di sekolah - sekolah : Darwin Middle School, SMA Darwin, dan John Olighin Catholic College .

 

Ke tiga, pada bulan Juni tahun 2010 telah dilaksanakan pergelaran Wayang Kulit di Pinggir Telaga Prancis. Kurang lebih 800 orang warga kota Lailly En Val, Prancis, berbondong-bondong menyaksikan pagelaran wayang kulit petikan dalam cerita Ramayana yang dipersembahkan grup wayang kulit Wilis Prabowo pimpinan Widodo dari Wonogiri, Jawa Tengah. Pertunjukan dilangsungkan di bawah sinar bulan purnama di pinggir telaga kota Lailly en Val. Salah satu keunikan dalam pertunjukan wayang kulit ini adalah disisipkannya dialog-dialog dengan bahasa Prancis.

 

Ke empat,   pada  bulan Oktober 2010 di Melbourne Australia diselenggarakan pentas wayang garapan Ki Poejiono OAM dengan tajuk “Shadows to Life” bertempat di Great Hall National Gallery Victoria , sebuah galeri dan museum prestisius kelas dunia dimana karya seperti Van Gogh, Picasso, Rembrandt ataupun Leonardo Da Vinci dipamerkan. Pagelaran dengan The Ramayana: The Fall of Alengka dibagi menjadi 8 adegan. Tiga adegan ditampilkan dalam bentuk sendratari, 5 adegan disajikan dalam wayang kulit oleh seorang dalang warga negara Australia kandidat PhD Melbourne University , Ms. Helen Pausacker, BA (Hons), dan BLitt, MA .

 

Ke lima, pada bulan Februari 2010 telah diselenggarakan pergelaran wayang kulit dengan lakon Bima Suci di pusat kerajinan tangan internasional Weltladen, Hamburg Jerman. Dialog wayang menggunakan bahasa Jerman yang didahului kata pengantar mengenai cerita Bima Suci. Para pecinta seni Jerman yang baru pertama kali menyaksikan langsung wayang kulit, mengagumi kreatifitas dan ketangkasan dalang Maharsi serta iringan musik gamelan dan suara merdu sinden yang dibawakan oleh Sanggar Seni Margi Budoyo binaan KBRI Hamburg.

 

Ke enam, mengawali musim semi “Spring” tahun 2010, komunitas gamelan Jawa, Depar-temen Music, Otago University of Dunedin, Selandia Baru menggelar sebuah pertunjukkan wayang kulit (shadow puppet) gaya Jawa Tengah bertajuk “Puppets & Percussion ”. Pagelaran padat wayang kulit menggunakan dialog bahasa Inggris berdurasi sekitar 2 jam, disajikan oleh dalang Ki Dr. Joko Susilo, yang diiringi gamelan live Puspawarna Community Gamelan, bertempat di Art Gallery (24/9), yang terletak di pusat  kota Dunedin dan menampilkan sebuah cerita “Alap-alapan Surtikanti ” petikan dari episode Mahabarata.

 

Ke enam, pada bulan Maret 2011 Dalang Ki Ledjar Soebroto dari Yogyakarta menggelar pertunjukan wayang kulit ‘Willem van Oranje’  di Museum Nusantara, Delft, Belanda. Ananto Wicaksana, cucu Ki Ledjar Soebroto dalam keterangannya menyebutkan, Wayang Williem van Oranje merupakan maha karya Ki Ledjar Soebroto yang secara khusus dipesan oleh Museum Nusantara. Selain pementasan wayang ciptaan Ki Ledjar Soebroto, juga dipa-merkan wayang ciptaannya di Museum Nusantara yang terletak di dalam satu kompleks di Princenhof Museum.

 

Ke tujuh, Ton van Oevelen, seorang pria Belanda yang tidak punya hubungan sama sekali dengan Indonesia, sejak usia mudanya sudah tertarik dengan wayang. Mulai tahun 1983 Ton van Oevelen   mulai   membeli   wayang   dan   tertarik   dengan   membaca   buku   tentang

 

cerita-cerita wayang. Ia terkesan dengan lukisan dan pahatan yang sangat halus, sesekali ia juga menggelar pameran dengan menampilkan wayang-wayang yang dimilikinya. Sudah ada 400 koleksi wayang yang dikumpulkan olehnya. Setiap ada kesempatan berkunjung ke Indonesia, ia selalu meluangkan waktu untuk melihat pergelaran wayang.

 

         Sungguh banyak data yang menunjukkan bahwa dalang, wayang, gamelan, seniman dan seniwati pedalangan yang telah meperlihatkan peranannya di luar negeri. Mulai tahun 1950-an, sudah ada gamelan Jawa satu set di University of California Los Angeles (UCLA). Profesor Etnomusikologi Mantle Hood, murid Jaap Kunst (orang Belanda yang membuat buku Music in Java ), telah menanamkan benih karawitan. Biji itu berkembang dan sekarang sudah ada lebih dari 600 set gamelan Jawa, Bali, dan Sunda. Kegiatan yang berkaitan dengan ‘dalang-pewayangan-pakeliran’, telah tersebar di seluruh dunia. Selain dari pada itu banyak sekali mahasiswa dari luar negeri yang mengikuti kuliah di Institut Seni Indonesia, (ISI) khususnya di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali. Dalang dan pewayangan telah mengglobal sejak lama. Potensi yang dimiliki sungguh amat besar untuk didayagunakan melalui promosi di luar negeri. Promosi citra yang berkelanjutan di luar negeri merupakan langkah penting. Bersamaan dengan itu, penyelenggaraan festival wayang tingkat ASEAN atau festival tingkat ASIA dipandang perlu untuk dipersiapkan menuju   Visit Jawa Tengah Tahun 2013.

 

           Dalam menyongsong Visit Jawa Tengah Tahun 2013, peranan yang perlu dimainkan oleh  para dalang dalam pewayangan dan pakeliran perlu tingkatkan, baik didalam negeri maupun di luar negeri. Dalam kerangka peningkatan promosi pariwisata khususnya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata menuju tahun 2013, perlu dilakukan evaluasi te-hadap kegiatan promosi yang telah dan sedang dilakukan. Dari data tahun 2010, antara lain telah diagendakan kegiatan promosi wisata dan seni budaya sebagai berikut:            

“Kesenian Padang Bulan dan Dongeng Anak
  Kabupaten Magelang


Setiap   malam   bulan purnama   bertempat di Pondok Tingal Borobudur, diadakan pagelaran kesenian rakyat   yang berasal dari desa-desa di kabupaten Magelang. Acara   Dongeng Anak diselenggarakan setiap bulan pada hari Sabtu Pahing .

Wayang Orang
Kota Surakarta


Pagelaran Wayang Orang dengan lakon Ramayana bisa dinikmati di Taman Sriwedari, jalan Slamet Riyadi   275, Solo, tiap hari kecuali  hari Minggu. Pagelaran dimulai pada jam 19.00- 22.00.

Wayang Kulit
Kota Semarang


Pagelaran Wayang Kulit bisa dinikmati di RRI Semarang, jl. Ahmad Yani pada malam Minggu, minggu pertama dan keempat   setiap bulannya. Pagelaran   dimulai   pada pukul 20.30 WIB mengambil cerita Mahabharata dan Ramayana.

 

Wayang Orang dan Ketoprak

Kota Semarang

Pagelaran   Wayang   Orang dan Ketoprak   bisa dinikmati   secara  bergiliran   di Taman Budaya Raden Saleh di jalan   Sriwijaya   Semarang setiap malam Minggu . Pagelaran dimulai pada jam    20.00 dan berakhir pada pukul 22.00. Wayang Orang dan ketoprak adalah seni drama rakyat tradisional Jawa.

Sendratari Mahakarya Borobudur
Kabupaten Magelang


Pagelaran Sendratari   Mahakarya   Borobudur diselenggarakan setahun tiga atau empat kali di panggung Aksobya   Pelataran, candi   Borobudur. Sendratari   yang merupakan karya   seniman  ISSI Surakarta  ini, menceritakan  pembangunan candi Borobudur di   jaman dinasti Syailendra pada abad ke-8.”

 

         Ada makna dari kegiatan promosi yang dilakukan di dalam negeri, yaitu pentingnya sinergitas dalam mengemas promosi dengan mendayagunakan semua potensi seni tradisional yang ada. Dalam konteks  ‘dalang-pewayangan-pakeliran’  menyongsong Visit Jawa Tengah pada Tahun 2011, para dalang perlu ditingkatkan pengetahuan, wawasan, dan pemahamannya tentang kepariwisataan.

 

Kegiatan promosi budaya dan wisata secara berkelanjutan (sustainable promotion) perlu ditempatkan dalam garda terdepan dalam   menyongsong Visit Jawa Tengah Tahun 2013. Pada tahun 2011, dan 2012 diperlukan kegiatan sosialisasi untuk para dalang (terpilih) dengan muatan berbagai aset wisata menuju  ‘Visit Jawa tengah Tahun 2013’. Penyusunan buku pintar yang bermuatan promo wisata menuju Visit Jawa Tengah Tahun 2013 perlu digagas mulai sekarang. Visualisasi dan animasi promo wisata melalui pagelaran wayang perlu dikemas dengan sebaik-baiknya.

 

         Pergelaran wayang kulit dalam rangka sosialisasi Visit Jawa Tengah Tahun 2013 juga perlu dirancang dengan persiapan yang matang. H Bambang Murtiyoso SKar MHum (2009) dalam paparan yang berjudul Pakeliran sebagai Media Penyampaian Informasi Publik di Era Global, mengisyaratkan perlunya dalang yang kreatif. Pesan-pesan yang perlu disampaikan lebih menonjolkan cara kombinasi, yaitu  nyampar pikoleh’ dan ‘medhang miring’ . Naskah yang akan disusun perlu didasarkan pada kajian dalam garap lakon, garap adegan, garap tokoh, garap catur , garap sabet , dan garap karawitan. Dalam penggarapan cerita atau lakon memer-lukan upaya kreatif dan inovatif, yaitu meliputi aspek cerita (literer), aspek atraktif dan dramatisasi  lakon yang perlu diaktualisasikan dalam konteks budaya dan pariwisata.

 

         Dalam penggarapan pentas wayang untuk pariwisata memerlukan peningkatan kualitas kinerja para niyaga, wiraswara, swarawati, penata gendhing, penata teknologi, dan lain-lainnya. Pergelaran wayang kulit dengan bahasa Jawa perlu diselingi dengan peng-gunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing sesuai dengan alur dan adegan dalam lakon. Dalam pengalaman pentas selama ini, adegan ‘limbukan’ dan ‘gara-gara’ merupakan ruang yang paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan di bidang kepariwisataan.

 

 

            Pada bagian terdahulu telah diuraikan bahwa pewayangan  telah menjadi sumber penciptaan karya seni lukis yang tinggi mutunya. Sehingga bentuk dan variasi seni lukis pada wayang  banyak yang dituangkan pada logo, tetenger bangunan, motif kain batik dan kaos, kaligrafi wayang, dan lain-lainnya. Sehubungan dengan hal itu, variasi dan nuansa seni lukis pada pewayangan, perlu menjadi inspirasi dalam menyiapkan kemasan untuk promosi wisata menyongsong Visit Jawa Tengah Tahun 2013.

 

                                                             Penutup

 

          Peningkatan peran dalang dan keunggulan pewayangan menyongsong Visit Jawa Tengah Tahun 2013 memerlukan upaya-upaya yang sinergis dengan pentas-pentas seni pertunjukan tradisi yang lain, yaitu Wayang Orang (Wayang Wong ) , Kethoprak, Tari, Karawitan, dan lawak (Dhagelan ). Dengan penggarapan secara terpadu yang dilandasi dengan peningkatan kualitas manajemen dan pendayagunaan teknologi informasi, maka upaya-upaya revitalisasi pertunjukan tradisional tersebut, akan dapat mendukung dan mensukseskan   Visit Jawa Tengah Tahun 2013.-

 

-----------------

 

Daftar Kepustakaan

 

1.       Amir, Hazim, Dr MA, Nilai-nilai Etis dalam Wayang , Sinar Harapan,1991, Jakarta

2.       Anderson, ROG Benedict, Mitologi dan Toleransi Orang Jawa, Qalam, 2000, Yogyakarta

3.       Sri Mulyana, Ir , Wayang dan Kharakter Manusia , Gunung Agung, Jakarta

4.       H Bambang Murtiyoso, SKar MHum, Pakeliran Sebagai Media Penyampaian Informasi Publik Di Era Global , Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, 2009

5.       Dhanang Respati Puguh, Drs, MHum, Dari  Pakeliran Adiluhung Ke Pakeliran Glamor Spektakuler , makalah 2009

6.       Sri Mulyana, Ir. Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya , Penerbit Gunung Agung, 1978Jakarta

7.       Groenendael, Victoria M. Clara van. 1987. Dalang di Balik Wayang . Jakarta: Grafiti Pers

8.       Senawangi, Wayang Karya Agung Budaya Dunia , Jakarta, 2004

9.       Seno Sastrohamijoyo, Prof Dr, Pertunjukan Wayang Kulit , 1964

10.   Faruk SU, Prof Dr, Sastra Dalam Masyarakat (ter) Multi media (kan) , Pidato Pengukuhan Guru Besar, UGM, 2010

11.   ANTARA News, Jakarta, 2008, 2009, 2010, 2011

12.   Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas dan berbagai Web Site (laman) di Internet antara lain: indonesiaproud, asianart.org,   its.ac.id , seputar-indonesia.com, antaranews.com Solo Cyber news, dll

Fri, 17 Aug 2012 @16:27


2 Komentar
image

Sun, 29 Sep 2013 @13:18

Agus Wariyanto (Balitbang Provinsi Jateng)

Peluang wayang sesungguhnya dapat didayagunakan lebih optimal sebagai wahana yang strategis dalam mendukung Visit Jateng 2013, namun harus digarap secara kreatif dan inovatif. Disamping itu, wayang dapat sebagai pembangun watak dan karakter pribadi-pribadi unggul yang berbudaya dalam penyelenggaraan pembangunan serta dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Syaratnya, ayo terus bersatu padu (sengkuyung) diantara para pelaku budaya, pemerhati, pemikir, dunia usaha dan siapapun yang terpanggil sebagai pecinta budaya bangsa. Ayo terus maju, terus bersemangat dan terus berinovasi dibidang budaya.

image

Sat, 21 Jun 2014 @09:19

Suryodianto

nderek maos. Sae


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+7+9

Copyright © 2018 Pepadi Jateng · All Rights Reserved