Sugeng Rawuh
image

PEPADI JATENG


Hambangun budi pakarti tumrap jagad pewayangan
Unduhan
Pengunjung

Filsafat Pewayangan

Saya bukan dalang, juga bukan pengrawit yang serba bisa dalam memainkan musik gamelan, namun demikian karena mulai umur 15 tahun saya sudah mulai cikal bakal musik karawitan bersama-sama para perintis cikal- bakal yang dipimpin pak Marto Sarpa atau Marta ngendong suling saya mulai timbul niat untuk dapat mengikuti jejaknya Pak Marto Sarpo. Sukur Alhamdulilah dapat sejarah sejarah dengan Pak Marto Sarpo antara tahun 1940 sampai dengan tahun 1965.

Sebelum saya mengikuti jejaknya Pak Marto Sarpa, saya juga termasuk pecandu tontonan wayang kulit. Pada jaman sebelum Orla tumbang kekuasaannya, saya belum dapat membedakan mana yang disebut pandemen budoyo Jowo nguri-uri, pemerhati budoyo Jowo, pengagum budoyo, falsafah gamelan, wayang dsb.

Namun sesudah kekuasaan Orla jatuh dan diganti dengan Orba yang menerima Super Semar itu ada kaitannya dengan Lurah Semar dalam pewayangan?

Dalam hati saya masih diliputi rasa ragu-ragu, mungkin benar, mungkin juga salah. Namun karena mulai tahun 1966 sampai dengan tahun 1996, 30 tahun Pak Harto berkuasa ada tandas yang persis seperti ceritera Ki Dalang, lama-lama saya berani bahwa meskipun saya bukan dalang tetapi karena perasaan seperti saya utarakan lewat KR bulan 12 tahun 1996 dengan judul.

Seniman Idealis Sesak Nafas maka saya mulai berani mengutarakan. Tulisan-tulisan yang mengambil nara sumber dari Ki Dalang, itu saja sesudah kekuasaan Orba tumbang pada bulan Mei tahun 1688, namun demikian enam bulan sebelum kekuasaan Orba tumbang, sebetulnya saya sudah memberi sinyal dengan tulisan lewat KR tgl 9-2-1998 dengan judul Wayang Tontonan dan Tuntunan.

Sesudah saya menurunkan tulisan tersebut saya sering nonton TVRI dan setiap nonton saya mulai mengagumi falsafah wayangan lakonnya pasti Semar Babar Jati dan mendekati detik-detik Pak Harto jatuh Pak Harto sumbali dalang-dalang kondang seluruh Jawa terutama dari Yogya Ki Timbul, Ki Hadisugito dan Solo Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Suroto dengan Lakon yang sama yaitu Rama Tambak di hampir semua Stasiun TV seluruh Indonesia sampai akhirnya Pak Harto jatuh dengan menanggung beban psikologis menjadi Satriyo Wirang bahkan wirangnya melebihi Bung Karno, yang di demo KAMI-KAPPI tahun 1965.

Bagi para pandemen seni jawa nguri-uri, jelas tidak ambil pusing membicarakan jatuhnya pak Harto dengan lakon Rama Tambak namun bagi para pemerhati apa lagi yang sudah sampai tataran mengagumi pasti segera dapat mengambil kesimpulan bahwa lakon Rama Tambak menurut falsafah wayang purwo lakon pembuatan jembatan dari Negara Poncowati yang melambangkan kebenaran untuk menghancurkan untuk menghancurkan Rahwono yang Lambang Kejahatan yang sering sesumbar Yo bondoku, yo donyaku, yo penguasaku dll.

Dengan belajar dari wayangan Lakon Rama Tambak sampai dengan lengsernya Pak Harto, saya teringat wejangan Bp. Pinisepuh Pelestari Budaya Jowo Harjobinangun Bp. Martomahargyo yang rajin mengumpulkan koleksi wayang purwo mulai TH 19..., yang memaparkan Lakon Sombo Sebit di Dusun Sambi Pakembinangun bahwa ada salah satu warga dusun tersebut rumah-tanggganya menjadi berantakan karena nanggap wayang dengan Lakon Sombo-Sebit dengan Ki dalang Jayeng-Carito dari Kalibulus, dalang abdi dalem keraton Yogyakarta.

LAKON KONGSO ADU JAGO

Lakon Kongso Adu Jago dalam pagelaran wayang-purwo oleh Ki Dalang jelas tidak sama dengan Lakon manusia2 atau penguasa2 jaman Orba. Pada jaman Orba saya juga sudah berani menyindir para pemimpin yang mengaku wakil-rakyat tetapi nyambi menjadi Kongso adu jago seperti yang saya tulis di harian KR tgl 8-1-1996 dengan judul Kongso Adu Jago.

Pada jaman Orla, jamannya Sri Sultan HB IX , pemilihan pamong desa betul bersih dari permainan KKN Kongso adu jago karena pamong desa yang menang dalam pemilihan berdasarkan Undang2 no 16 TH 1946 dijaring lewat bitingan yang sulit diintimidasi oleh para Kongso2 adu jago seperti jaman Orba yang memanfaatkan UUD No 5 TH 1979 yang melahirkan banyak kongso2 adu jago demi memperdaya para balon2 perdes yang buta budaya dan buta politik.

Para pemerhati budaya jawa pasti dapat membaca jika ada pemilihan pamong menggunakan sistim Gambar Kembang Telon, misalnya NASAKOM, PAT JARI, Pacul, Meja Lemari, Si Jari Kursi Mejo Lemari, SAL SANG GIS ( Salak Pisang Manggis) dsb-dsb. Dari para juru kampanye gambar kembang telon tersebutlah saya mulai berani ngotak-atik ilmu kehebatan para wali dan pujonggo yang melahirkan ramalan Pujonggo jaman Joyoboyo Kediri seperti Empu Tantular jaman Mojopahit sebelum ajaran Islam masuk Indonesia.

Para pembaca yang budiman, ramalan pujonggo, bukan ramalan SDSB, juga bukan ramalan nomer buntut, juga bukan ramalan nasib swargo, neroko di dunia dan di akherat. Jenis-jenis ramalan perjudian dan ramalan dukun-dukun paranormal jelas tidak perlu mempelajari dan merenungkan ilmu Sunan Kalijogo yang dapat menterjemahkan Layang Kalimosodo menjadi Kalimah Sahadat yang mengantar Raja Puntodewo dapat masuk surgo dan sudah barang tentu menterjemahkan layang Kalimo-sodo menjadi Kalimah Sahadat dapat dibaca di halaman seterusnya, sekarang marilah saya mengikuti kembali lanjutan Kongso adu jago yang mengadu domba antara wakil-rakyat A dengan wakil-rakyat B antara pamong desa C dan pamong desa B dst-dst, sehingga dalam hal ini juga saya sindir dengan judul: Adu Domba Awal Datangnya Petaka, KR 12-10-1998, 3 bulan sesudah Pak Harto lengser keprabon.

Kongso Adu Jago TH 1996 , adu domba awal datangnya Petaka betul-betul terjadi nyatanya sesudah Pak Harto Lengser keprabon mulai Th 1998 s/d Th 2002, negara Indonesia justru semakin kacau sehingga saya menyindir lagi namun tidak mengambil nara sumber dari falsafat wayang tetapi dari desa tempat saya lahir yaitu dari: Dsn Purworejo yang merintis seni karawitan cikal-bakal dengan judul Pengatur Skenario dan Akibatnya (PSA), BERNAS tgl 9-8-2002.

Judul PSA tsb bagi yang belum mengagumi falsafah wayang pasti tidak perlu dikaji dengan kalimat lain dengan pengagum falsafah wayang, PSA tidak hanya terjadi didusun Porworejo, bahkan apa yang terjadi Dsn Purworejo dapat diolah menjadi warisan Nasional, misalnya Indonesia Tanah Airku.

Bagi saya jaringan komunikasi penulis surat pembaca yang di prakarsai oleh mas Bambang Haryanto di Jl Kajen Timur 72 Wonogiri Solo jelas merupakan awal bagi siapa saja yang sudah mengagumi falsafah Jawa yang berwawasan Nasional.

Jika pemikiran mas Bambang Haryanto kami kawinkan dengan pemikiran saya seperti berkali-kali saya tulis di (kolom) Pikiran Pembaca yang sekarang sudah dipajang di Pusat Jaringan Komunikasi Penulis Surat Pembaca Se-Indonesia (Epistoholik Indonesia/EI), wajarlah antara saya dan mas Bambang H mulai bergandengan-tangan untuk mempromosikan falsafah Jawa sambil menterjemahkan lagu Indonesia-Raya ciptaan W.R. Supratman.

Tulisan saya memang bernada menyindir Kongso Adu Jago yang gentayangan di Dusun Purworejo, mulai jaman Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud memasung pemikiran Bung Karno dan pendukung-pendukungnya.Sebelum Orba tumbang siapa yang berani melawan Kongso Adu Jago sistem Amir Mahmud jelas tidak ada apalagi saya yang berasal dari dusun cerak watu adoh Ratu.

Tetapi sekarang sesudah saya bergabung dengan Jaringan Komunikasi Penulis Surat Pembaca Se-Indonesia (Epistoholik Indonesia/EI), yang sekarang sebelum para jurkam-jurkam Pemilu 2004 , saya gentayangan di bumi Indonesia, saya berani menyebarluaskan EI ke seluruh penjuru Tanah Air lewat pikiran pembaca yang sudah dipajang di pusat EI untuk melawan para Kongso-kongso Adu Jago di seluruh Indonesia yang memasung pemikir idealis yang akan meluruskan pemikiran pencipta lagu Indonesia Raya.

Bagi saya mas Bambang Haryanto adalah sama dengan sang pencipta lagu Indonesia Raya lewat EI . Meskipun strateginya berbeda-beda karena pada jaman W.R. Supratman semua para perintis kemerdekaan bulat bersatu sulit diperdaya Kongso Adu Jago, namun sekarang jelas tidak mudah menghadapi Kongso-kongso Adu Jago yang gentayangan di hampir semua LEMBAGA kemasyarakatan mulai dari tingkat RT sampai tingkat Nasional.

Antara Buto Cakil dan Kongso Adu Jago

Nguri-uri Seni Jawa belum layak disebut pemerhati budaya Jawa, apalagi pengagum budaya Jawa dalam berulah karawitan terdapat tiga tataramu dalam mendalami Ilmu Karawitan yang disebut patet enem, patet sanga, dan patet manjura dalam musik Jawa. Laras Slendro menurut wewarah Sastro gending ciptaan Sultan Agung Hanjokro Kusuma pendiri kerajaan Mataram.

Sebelum pembaca ingin mendalami falsafah Jawa yang sudah dipajang di pusat JKSI penulis surat pembaca ( situs blog Epistoholik Indonesia, Jaringan Penulis surat Pembaca se-Indonesia. BH) yang dirintis oleh mas Bambang Haryanto Kajen Timur 72 Wonogiri Solo,
apakah hubungan ilmu Slendro Laras Manjuro dengan falsafah Jawa ?

  • Patet enem sama dengan nguri- uri
  • Patet songo sama dengan pemerhati
  • Patet Manjuro tidak hanya nguri-uri atau pemerhati tetapi sudah sampai pada tataran mengagumi.

Dengan demikian, apakah hubungannya dengan Mas Bambang Haryanto dengan para pandemen penulis pikiran pembaca seluruh Indonesia ?

Perkenankanlah saya meminjam pidato Bung Karno ; Janganlah Bangsa Indonesia hanya menjadi Bangsa kintel yang menunggu jatuhnya bintang-bintang dari langit, tetapi gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang-bintang di langit dst-dst.

Menulis di KR mulai th 1995, dan th 1945 saya sudah aktif dalam Organisasi Seni Jawa. Dari Organisasi Seni Jawa inilah saya juga mengagumi pidato dan tulisan-tulisan Bung Karno terutama gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang dilangit.

Jika Mas Bambang Haryanto dan para yunior-yunior pendukung pemikiran Mas Bambang H berkenan membaca tulisan-tulisan para pandemen penulis pikiran pembaca termasuk tulisan saya, ini berarti saya sudah membuktikan lewat karya nyata tanpa menunggu jatuhnya bintang di langit, atau dengan bahasa lain pengagum falsafah Jawa pasti dimulai dari gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit.

Berita dari mas Bambang H , adalah suatu berita yang luar biasa, mana ada jaman sekarang yang serba mata duwiten model kapitalis, masih ada yunior-yunior yang punya rasa peduli terhadap pemikiran-pemikiran para perintis di segala bidang kemasyarakatan yang nongol di kolom pikiran pembaca, apalagi jika yang menulis lewat pikiran pembaca tersebut umurnya sudah pikun, seperti saya yang sudah berumur 80 tahun.

Umur 80 tahun adalah umur transisi bisa saja sewaktu waktu saya ditimbali yang Maha Kuasa namun sebelum saya di timbali Yang Maha Kuasa saya beruntung lewat jarigan komunikasi penulis surat pembaca se Indonesia dapat menjembatani pemikiran dari bawah Lereng Merapi yang pernah nongol di BERNAS tgl 27-7-2000 dan judul tersebut malah menjadi sampul tetap lewat buku tulisan kami tahun 2003 dengan judul. Akal Melawan Akal- Akalan Misteri Merapi.

Jika tulisan ini sudah sampai ditangan mas Bambang. H berarti saya sudah dapat menjembatani para pengagum falsafah Jawa yang berwawasan. Indonesia lewat jalur segi lima antara lain mbah Marijan, atau KRT Suraksa Hargo Gunung Merapi, Bp R. Martomahargyo pengagum koleksi Wayang purwo mulai tahun 27, Bapak Mardi Wiharjo Ketua Paguyuban Pelestari Budaya Jawa dibawah Lereng Merapi untuk wilayah Yogya utara dengan jaringan komunikasi penulis- pembaca se Indonesia dibawah binaan mas Bambang Haryanto dari Wonogiri yang dekat dengan Waduk Gajah Mungkur dari aliran Bengawan Solo riwayatmu ini.

Yogya Utara Merapi Lambang pemikiran generasi senior, sedang Wonogiri Solo selatan Lambang pemikiran dari generasi yunior yang ingin menyambung ilmunya generasi tua tetapi sejarahnya tidak lepas dari sejarah Mataram kuno silakanlah baca buku Akal melawan Akal-akalan halaman 44 dengan lagu Bengawan Solo ciptaan komponis Gesang yang sangat masyhur itu.

Tulisan mata air baik pun dari Umbul Manten dan mata air dari bengawan solo yang asalnya dari Gunung Merapi memang agak panjang apalagi jika mengambil nara sumber dari Empu Permadi sejarah wayang Purwo dari Gunung Jamurdipo, namun saya tidak menguasai ilmu ini selain mbah Marijan KRT. Suraksa Hargi, maka para yunior yunior pemerhati tulisan saya, marilah mumpung masih muda bagaimana caranya menangkal bila perlawanan buto-buto cakil di seluruh pelosok tanah air Indonesia.

Berwaspadalah terhadap jurus ramal ilmu Jawa yang ngawur, carilah para pemerhati falsafah Jawa serendahnya sekaliber mas Bambang Haryanto yang sudah menguasai ilmu sampai dengan idenya yang cermelang asal sudah sampai pada tatanan patet manjura dalam ulah seni kerawitan dan pedalangan.

Buto Cakil yang memasung idealisnya para Pemerhati falsafah Jawa, buto cakil - buto cakil yang menjadi menjadi anteknya kongso adu jago yang menjadi anteknya kongso adu jago yang dibotohi yo bondoku, yo donyoku, yo penguasaku yang berpusat di markas besar zionis yahudi Israel yang rajin mengadu domba antara penganut mengadu domba antara penganut agama Islam religius dan penganut Islam abangan, silakan baca buku kumpulan kliping, pada surat pembaca berjudul ?Parpol Islam?, hal . 36-37, tulisan Hd.Wardoyo.

Buto cakil anteknya kongso adu jago itu mulai nongol sesudah patet 9, pada saat sang Harjuna baru keluar dari pertapaan Bengawan Abiyoso, dan dalam perjalananya ditengah hutan dihadang buto cakil anteknya Kongso adu jago.

Dalam ceritra Minakjinggo Damarwulan saya tetap ingat tembang Dandanggulo yang layak menjadi bahan cakil Kongso adu jago yang antara lain berbunyi sebagai berikut. Kang biso mbengkas karya, bocah soko gunung, dst-dst.

Mengagumi falsafah sejarah MinakJinggo Damarwulan dan juga mengagumi salah satu warga dibawah Lereng Merapi dan juga merasa hidup dari mata air dibawah Umbul manten Kali Kuning (Laku sing wening) dan rajin mengoleksi wayang kulit padahal bukan dalang, meskipun baru perkiraan, tetapi mungkin dapat menterjemahkan apa arti kang biso mbengkas karyo bocah soko gunung.

Apa yang saya tulis ini memang wingit, tidak sembarang orang gegabah menterjemahkan kang bisa mbengkas karyo, bocah soko gunung sebab salah dalam menterjemahkan bisa berakibat fatal seperti Begawan Wisrowo dalam lakon Sastro Jendra Hayuningrat Pangruwatin Diyu .

Sebetulnya saya belum berani mengutarakan bahasa sinandi kang biso mbengkas karyo, namun dengan lahirnya jaringan komunikasi penulis surat pembaca se-Indonesia yang sudah berani mendokumentasi penulis-penulis surat pembaca se-Indonesia yang di prakarsai mas Bambang Haryanto, saya teringat tembang Sinom Wedatama yang berbunyi :

Kang wus waspodo ing Patrap Magayut Ayat Winosis. Wasono wosing jiwanggo, Melok Tanpo along-aling. Kang ngalangi kalingling, Wenganing roso tumla wung, Keksi saliring jaman, Angelangut tanpa tepi, Iku janma, ntuk nugraha Hywang Wiseso.

Bagi yang sudah penggautan menjadi buto cakil Kongso adu jago, yo bondoku yo donyaku, yo penguasaku melik nggendong lali ngemut legining gulo jowo, tidak ada gunanya menulis Kang biso mbengkas karyo, sebab, jenis-jenis oknum butocakil kongso adu jago itu tugasnya memang mengintimidasi, mendemo, memfitnah, menyegal dan memasung dan mematikan pemikir idealis yang dapat mbengkas karyo.

Bocah soko gunung sekarang harus mulai tanggap apa yang akan terjadi sebelum pemilu tahun 2004, terutama bocah soko Gunung yang mati hidupnya tidak lepas dari keberadaan bumi dan air (Pasal 32 UUD 45) dari bawah Lereng Merapi.

Dalam perang Buto-Cakil dan Bambangan Satriyo bagus oleh Ki Dalang diuraikan dengan bahasa kiasan' Ngetutake Lakune Sikil Budining Pengangen' artinya Mengumpulkan koleksi Wayang kulit, juga ngetutake lakuning sikil budining pengangen, menulis dikoran juga ngetutake lakuning sikil budining pengangen dan seterusnya. Mas Bambang Haryanto mendokumentasikan penulis-penulis pembaca se-Indonesia itu juga termasuk ngetutake lakuning sikil budining pengangen-angen.

Budining pengangen-angen dari Yogya Utara dan dari Wonogiri Solo Selatan sudah tumbu oleh tutup, bagi saya kemampuannya hanya dapat menjembatani, namun demikian meskipun hanya menjembatani tetapi tanggung jawabnya juga tidak ringan, artinya jika saya mundur yang menang Buto-Cakil yang dibotohi Kongso Adu Jago, jika maju meskipun menang melawan Buto-Cakil namun menghadapi Kongso Adu Jago yang didekengi yo bondoku, yo donyaku, yo penguasaku jelas tidak ringan kecuali ada mukjizat dari Hyang Widhi.

Nglurug tanpo bolo, Sugih tanpo bondho, Menang ora ngasorake =
Surodiro Jayaningrat - Lebur Dening Pangastuti.

Setyaki Sesumbar Biso Rumongso

Lakon Burisrowo gugur atau sering disebut Lakon Bharatayudo timpalan, menurut ceritra Ki Dalang adalah bukan jasanya Raden Haryo Setyaki yang sering mendapat gelar banteng Dworowati sebelum perang Barotoyudo Joyobinangun.

Untuk menterjemahkan judul tulisan Setyaki Sesumbar biso Rumongso jelas tidak lepas dari Bp. R. Martomahargyo pengagum koleksi wayang dan mas Bambang Haryanto pemerhati mungkin juga pengagum penulis-penulis pikiran pembaca dan tentunya juga pemerhati penulis pikiran pembaca seri wayang yang dapat mengolah menjadi bacaan yang indah apakah hubungannya
R. Haryo Setyaki sampai mengakui kesalahannya menjadi biso rumongso, dalam perang melawan Burisrowo menurut ceritra Ki Dalang Haryo Satyaki pasti diberi gelar banteng Dworowati karena pasti dapat mengalahkan Burisrowo dan semua barisan kurowo.

Namun diluar dugaan, sesudah perang Barotoyudho dengan lakon timpalan ternyata Haryo Styaki tidak berdaya menghadapi Burisrowo dan tanpa dibantu botoh Pendowo Sri Batara Kresno dengan strategi yang jitu kerja sama dengan Harjuno akhirnya bahu Burisrowo timpal sampai dengan ajalnya dan Haryo Styaki tanpa mawas diri terus sesumbar sebagai Pahlawan perang Barotoyudho sebelum dipermalukan oleh botohnya Sri Batara Kresno. Para pemerhati bacaan falsafah wayang yang terhormat, tulisan ini memang saya alamatkan kepada para pemerhati tulisan saya yang sudah dipajang dipusat Jaringan Komunikasi yang betul-betul pemerhati masalah wayang mulai jaman Orla, Orba dan Orde Reformasi yang masih percaya bahwa ramalan-ramalan para Empu ,Wali, Pujonggo mulai jaman Hindu Kalimosodo sampai dengan Jaman Islam Kalimahsahadad dan Islam Kalimasilo atau Ponco-Silo mungkin akan mulai terkuak, dalam ajaran Wedo-Tomo falsafah jawa disebut Kang Ngalingi Kaliling, Wekasing roso tumawlung, Keksi Seliring Jaman.

Mari kami ajak kembali merenungi Banteng Dworoti, Banteng Orla, Banteng Orba, Banteng Mataram K.G.H. Haryo Purboyo almarhum putera Sultan Agung pada jaman V.O.C yang sumare di dekat Lapangan Udara Adisucipto.

Banteng Orla sebelum Orba berkuasa memang hebat seperti banteng Dworowati Haryo Styaki , namun sesudah Orla jatuh, bentengnya Orla tersebut lantas lupa sejarah, lupa kepada asal, mulanya lupa kepada falsafah wayang Haryo Styaki baikpun berjasa maupun tidak berjasa sesudah jaman Orba, Reformasi merasa maha paling berjasa dalam menumbangkan Orla Th 1965, meskipun sebetulnya hanya mbonceng Mahasiswa KAMI-KAPPI yang dipimpin Akbar-Tanjung, Abdul-Gaffur dan Cosmas Batubara.

Tulisan ini mudah-mudahan dapat dibaca oleh banteng-banteng Orla yang belum dapat menterjemahkan falsafah wayang lakon Burisrowo gugur. Jika setiap banteng Orla tidak perlu malu belajar dari banteng Haryo Styaki , silahkan sesumbar atau ngaku paling berjasa dalam segala bidang, namun harus ingat bahwa Proklamasi 17-8-1945 bukan hanya jasanya KAMMI, KAPPI Banteng Orla yang menepuk dada, poros NASAKOM, poros Tengah dsb-dsb, namun juga jasanya para perintis-perintis kemerdekaan tanpa mengharapkan imbalan jasa, juga bukan penjual jasa, dan tidak mimpi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Para pemerhati lakon Burisrowo gugur memperingatkan para wakil rakyat mulai jaman Orla, Orba, Reformasi sampai dengan Presiden Megawati mudah-mudahan segera menyadari ulah Haryo Setyaki yang dengan lapang dada berani mengakui kesalahannya dan akhirnya terus menang, minggat dari palagan Tegal-Kurusetra dan tidak perlu malu mengakui kesalahannya.

Coba jika setiap pemimpin yang merasa ilmunya belum melebihi Sri Batara Kresna segera sadar seperti Haryo Setyaki, jelas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasti jaya, betul-betul menjadi NKRI yang adil makmur gemah ripah Kerto Raharjo. Pemerhati dan pengagum falsafah wayang hanya dapat merenungkan kapan lahirnya pemimpin biso rumongso seperti Haryo Setyaki dan keberatan dipimpin yang bermental Romongso bisa tetapi malah membingungkan.


Bukan Bala Dewa Ilang Gapite

Bima bukan Bolodewo, oleh Ki Dalang Bimo dicritakan Yen kaku keno kinaryo pikulan, Yen Lemes keno kinaryo tali. Lain dengan Bolodewo. Bolodewo adalah figur wayang merasa rumongso bisa grusa-grusu, mudah marah jika gagal, main pukul dulu urusan belakang. Dari watak masing-masing figur wayang purwo inilah saya mengagumi falsafah Jawa lewat falsafah koleksi wayang purwo kagunganipun Bp.R.Martomahargyo.

Jika diantara warga di bawah Lereng Merapi ini ada pengagum wayang purwo berarti juga termasuk pengagum peninggalan-peninggalan sejarah kuno mulai jaman Hindu yang dapat meyakinkan para yunior-yunior generasi muda untuk dapat menyelamatkan warisan nenek moyang peninggalan jaman Hindu.

Bandingkanlah kehebatan wayang purwo dengan wayang gedog, wayang klitik, wayang golek, wayang suluh, wayang sadad, wayang wahyu dan lain-lain. Wayang-wayang yang saya tulis untuk studi banding tersebut selain lekas jenuh tetapi untuk bahan menterjemahkan apa hubungannya wayang Hindu Kalimosodo, Wayang Kalimahsahadat Islam sampai dengan lahirnya Kalimosilo,Poncosilo, Orla, Orba, Reformasi sungguh sangat sulit.

Para perintis-perintis group-group seni Jawa dibawah Lereng Merapi mulai jaman Belanda sampai dengan Jaman Reformasi yang tergila-gila terhadap falsafah gamelan dan falsafah wayang purwo dan dapat menterjemahkan figur-figur setiap wayang seperti judul-judul tulisan didepan pasti tidak rela jika peninggalan-peninggalan sejarah nenek moyang tersebut menjadi wastro lungsed ing sampiran.

Para pendiri Paguyuban Pelestari Budoyo Jowo (PPBJ) Th 1996 , para pendiri Pakem-Budoyo Tahun 2002, pasti tetap ingat sepanjang masa bahwa tanpa mendapat binaan yang mengagumi koleksi wayang, PPBJ HargoBinangun dan Pakem-Budoyo mungkin belum dikenal masyarakat di Yogya Utara.

Dengan lahirnya Jaringan Komunikasi Penulis Surat pemabaca Se-Indonesia (Epistoholik Indonesia) yang menghimpun para pemerhati dan penulis fikiran pembaca se-Indonesia jelas merupakan dorongan semangat yang luar biasa untuk menuangkan idealisnya yang sebanyak-banyaknya, terutama bagi para seniman-seniman idealis yang merasa dipasung oleh Kongso Adu Jago mulai jaman Orba, Reformasi, dan seterusnya.

Para pemerhati, terutama para pengagum-pengagum falsafah Jawa di Yogya Utara meskipun sudah berumur di atas 80 tahun, tetapi bukan figur Bolodewo ilang gapite dengan adanya jalinan kerjasama antara para pandemen, pemerhati, pengagum falsafah Yogya Utara dengan Jaringan Komunikasi penulis-penulis pikiran pembaca se-Indonesia yang dipelopori mas Bambang Haryanto Kajen Timur 72 Wonogiri, marilah maju bersama-sama seperti Bismo, Seto, Kumbokarno, Karno tanding, biarpun gugur tetapi gugur meninggalkan:

  • Gajah mati ninggal gading
  • Macan mati ninggal lulang
  • Manusia mati ninggal becik ketitik

Seperti jadah Bu Carik Kaliurang.

Hadiwardoyo
Purworejo Pakem Sleman YK

Dalang Perlu Proses

Dalang-dalang terkenal saat ini seperti Ki Manteb, Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, Ki Entus Susmono, tidak serta merta sukses seperti sekarang ini, perlu proses panjang bahkan untuk menjadi seorang dalang yang tidak terkenal sekalipun. Terlalu banyak ketrampilan dan pengetahuan baik teknis maupun mapun terori yang harus dikuasai. Artinya tidaklah mudah menjadi seorang dalang, tidak dapat di ukur dengan hanya setahun dua tahun belajar / kursus lalu setelah dinyatakan lulus sudah bisa di juluki gelar Ki Dalang. Gelar Ki sebenarnya dalam kalangan masyarakat jawa sangatlah berat, berarti telah memiliki kemampuan yang spesifik tertentu dan di tuakan dalam masyarakat lingkungannya.

Malah menurut alm guru saya Ki Gondo Darsono (Darman), pernah mengatakan bahwa sekarang ini tidak ada Dalang tetapi yang ada adalah wong buruh mayang. (orang yang mendalang hanya untuk menegakkan periuk nasi). Banyaknya dalang yang mutu sajiannya dibawah standar dan kurang berisi menurut Ki Darman tidak patut disebut dalang tetapi lebih pas dijuluki seorang pekerja kasar yang memepergunakan wayang sebagai media dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dalam pandangan Ki Gondo Darman tersebut jelas tersirat pesan betapa beratnya bekal kemampuan yang harus dipenuhi oleh seorang dalang, dalang diharapkan dapat menghibur, memenuhi selera penonton, penanggap, tetapi juga harus menyajikan nilai-nilai rohani yang wigati. Dalang tidak asal memperoleh upah untuk untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya tetapi juga harus mampu memberikan kepuasan batin kepada penanggap, penonton dengan pesan-pesan moral yang memberikan pencerahan ngudal piwulang tetapi tidak berarti menggurui.

Dalam menapaki jalan menuju dunia pedalangan, seorang calon dalang bisa dikelompokan menjadi dua yakni turun dalang dan bukan turun dalang. Bagi anak dalang/turun dalang belajar wayang sejak ia bisa melihat, mendengarkan, berjalan, hingga saat remaja. Mulai kecil telinga anak dalang sudah akrap dengan nada-nada dalam gamelan jawa. Matanya sudah sering memandangi boneka wayang yang di simping kiri/kanan sewaktu ayahnya mendalang. Satu persatu akan dihafal hingga diluar kepala wayang-wayang yang ada di simpingan maupun di dalam kotak. Sulukan gending dan sastra pedalangan akan dihafalnya secara otomatis ketika ia mengikuti ayahnya selagi mendalang. Jika anak dalang mulai mengikuti ayahnya ketika pentas, dari umur 3 tahun dan kemudian anak tersebut sudah laris mendalang pada umur 20 tahun, berarti proses belajar mendalang secara otomatis itu selama 28 tahun. Jadi mustahil hanya belajar mendalang 2 tahun atau beberapa bulan lewat kursus pedalangan sudah bisa disebut sebagai seorang dalang.

Memang dalam kenyataannya ada beberapa orang bukan turun dalang tetapi secara materi berkecukupan (pejabat, pengusaha, bintang film) yang ingin belajar mendalang dengan kursus di sanggar atau pasinaon dalang. Meski kebetulan orang tersebut mempunyai tingkat itelegensi / daya serap yang cepat dan tinggi, tetapi menurut hemat saya bekal itu masih sangat kurang untuk dapat diberi gelar dengan sebutan Ki Dalang. Memang kesan sekilas tidak akan terlalu nampak jelas perbedaan antara anak dalang dengan yang bukan anak dalang. Tetapi bagi dalang sepuh atau penonton wayang yang sudah sangat ”atul” dengan pergelaran akan tahu perbedaannya. Bagaimanapun proses panjang yang dilalui seorang anak dalang tidak akan tergantikan oleh produk instan dalang lulusan sekolahan/sanggar/pasinaon dalang. Sehingga bila ada anak seorang dalang yang berusaha memperoleh pelajaran gabungan dari semuannya akan tampil dengan nilai lebih. Bagi yang bisa merasakan ketika dalang naik panggung pun sudah akan terasa, aura dari dalang yang akan pentas, misalnya Ki Anom Suroto sedang pentas, kewibawaan seorang Anom Suroto nampak menyelimuti seluruh kru pengrawitnya juga menebar keseluruh penjuru tempat pergelaran, keliatan regu, wibawa, ngengreng, sidhem, ayem dan sebagainya. Itu semua dapat terbentuk karena memang dalangnya sudah sangat menguasai panggung dan penonton.

Tulisan ini tidak bermaksud mengecilkan bagi calon dalang yang bukan turun seniman dalang. Hanya ingin mengajak lebih jauh untuk merenung dan jangan pernah nyacat dalang lain, lebih baik banyak belajar dari ajaran seorang Ki Gondo Darman yang menghendaki agar orang yang kepingin jadi dalang tidak belajar setengah-setengah tetapi sedapat mungkin selalu merasa tidak puas dengan kemampuan yang telah dimilikinya.

Keprakan dan Sabet Emajiner

Pembelajaran sabet oleh Ki Mulyanto sangat berbeda dengan apa yang saya peroleh di bangku kuliah. Sabet ala Ki Mulyanto tidak terpola seperti dalang-dalang sabet lainnya. Ki Mulyanto lebih mengandalkan gerak reflek dan ide spontan kreasi yang muncul, meski tidak dapat dipungkiri vokabuler sabet yang sudah ia kuasai juga sering mendominasi. Sabetnya susah ditebak, hal ini dapat di buktikan bila kita mbeduki (memukul dram untuk memantapkan sabet) Ki Mulyanto, pasti akan banyak melesetnya.

Ki Mulyanto pernah meminta saya untuk memperagakan cara memegang wayang dan melakukan prapatan, jeblosan dan tebakan (istilah dalam sabet), ternyata menurut versi dia cara memainkan wayang saya salah. Nyabetke wayang kuwi aja di nggeng, kaya wong bacuke arit kudu diloske, aja wedi wayange rusak (memegang wayang itu jangan ditahan , seperti orang menebaskan parang ke pohon, harus los bebas hambatan, jangan wayang takut wayangnya rusak).

Dalam berolah sabet ternyata Ki Mulyanto memberi pengajaran yang berbeda, saya tidak pernah dilatih untuk memegang wayang yang sudah jadi, tetapi hanya diperkenankan untuk memegang tangkai dan tuding, tanpa ada boneka wayangnya. Menurut Ki Mulyanto penguasaan sabet harus dimulai dari penguasaan gapit dan tuding dahulu dengan cara digerak-gerakan berputar-putar dengan memakai ibu jari dan telunjuk. Bila sudah kenal betul jari jemari kita dengan tangkai wayang baru kita diajar untuk memegang wayang secara utuh. Dengan teknik mucuk, sedeng, ngepok, jagal . Tapi saya melihat hampir semua wayang dalam pergelaran Ki Mulyanto dipegang dengan cara jagal. Hal ini saya amati ternyata cara memegang wayang jagal lebih memberikan sentuhan secara langsung dan sebagai komunikasi sambung rasa antara dalang dengan wayang. Karena dalam menghidupkan wayang di kelir diperlukan kepekaan rasa yang tinggi dari seorang dalang. Bagi Ki Mulyanto bukan sekedar dalang menggerakan wayang tetapi dalang harus tahu karakter dan kemauan wayang saat dipegang oleh dalang. Si dalang kadang harus larut menjiwai karakter wayang, sehingga bisa menafsirkan kebutuhan gerak yang diperkulan dalam peperangan atau adegan tertentu, hingga seolah-olah dalang hanya mengikuti kemauan dari boneka wayang.

Berbicara masalah sabet tentunya erat kaitannya dengan keprakan. Di dunia pedalangan teknis penguasaan keprakan sangat menentukan kepiawaian seorang dalang dalam olah sabet. Sabet dan keprakan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, saling mendukung dalam memantapkan sajian sabet. Bagi seorang Mulyanto, belajar keprakan jauh lebih penting didahulukan dari pada belajar memegang wayang. Salahe wong saiki bocah ora diajari keprakan disik nanging ujug-ujug diajari sabetan trampil, mulane sabetane apik ning keprakane nggondeli. (Kurang tepat bila anak-anak tidak diajari keprakan terlebih dahulu tetapi langsung diajari sabetan terampil, hasilnya sabetannya bagus tetapi keprakannya tidak pas).

Dalam hal keprakan Ki Mulyanto pernah mengajarkan kepada saya secara lesan bahwa, saya diminta untuk latihan keprakan setiap hari selama 2 tahun berturut turut tanpa memakai boneka wayang. Saya hanya diperintahkan untuk membayangkan wayang yang sedang berada dikelir, misalnya setyaki memukul, keprakanya anteb tetapi tidak terlalu keras, berbeda lagi bila seolah-olah yang di kelir Bima yang sedang menendhang dengan kakinya yang berotot, tentunta dengan sekuat tenaga dalam menendhang keprak, jika perlu tidak hanya dengan ujung jari kaki, tetapi dengan tumit. Latihan sabet secara emajiner ini diperlukan untuk melatih gerak reflek kita. Menurut Ki Mulyanto, manusia mulai berjalan itu yang mengayun dulu kakinya, baru kemudian secara otomatis tangan akan mengikutinya (lembehan). Filosofi ini yang diambil Mulyanto, bahwa belajar keprak lebih penting dari belajar sabet, menurutnya jika seorang dalang telah menguasai keprakan, gerakan wayang dikelir secara otomatis betapapun cepat dan sulitnya gerak kaki pasti akan mengikutinya secara reflek.

Ternyata teori yang tidak saya dapat di bangku kuliah ini bila dilatih secara benar akan nampak hasilnya dan analisa Ki Mulyanto memang benar adanya. Latihan Keprakan (reflek kaki) lebih penting untuk didahulukan ketimbang belajar ketrampilan sabet yang aneh-aneh, tetapi kaki tidak dapat mengikuti kecepatan dan ketrampilan tangan. (semoga bermanfaat bagi siapa saja yang sedang belajar dalang).

PESINDEN WAYANG KULIT

(Tulisan Ki Bambang Asmoro di Wikipedia)

Pesinden adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan, umumnya sebagai penyanyi satu-satunya. Pesinden yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vokal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang.

BLENCONG

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

(Sumbangan Tulisan Ki Bambang Asmoro di Wikipedia)

Blencong dalam istilah pedalangan lebih menunjuk kepada suatu alat penerangan untuk pertunjukan wayang di masa lampau yang menggunakan bahan bakar minyak kelapa. Lampu blencong ini berbentuk macam-macam ada yang berbentuk seperti burung Jatayu, ada yang berbentuk seperti celengan dengan sayap kiri dan kanan. Blencong ini terbuat dari kayu berukir ataupun perunggu, dengan lubang di tengah untuk menaruh minyak dan mempunyai sumbu yang menghadap ke arah kelir/ layar.

Blencong merupakan alat penerangan yang berfungsi untuk menghidupkan bayangan wayang di kelir/layar. Wayang yang mempunyai cat dasar prada emas akan terlihat lebih hidup. Begitu pula bayangan yang dihasilkan jika dilihat dari belakang layar akan terlihat lebih artistik. Terpaan angin terhadap sumbu blencong akan membawa efek tersendiri pada wayang yang sedang ditampilkan oleh seorang dalang.

Dalang perlu mengecek dan membenahi untuk menarik sumbu blencong agar tidak padam dan sinarnya sesuai dengan kebutuhan pergelaran. Satu alat lain yang namanya sumpit diperlukan untuk menjepit sumbu blencong yang biasanya terbuat dari kain atau kapas yang telah dibentuk seperti tali. Kehati-hatian seorang Dalang juga mutlak diperlukan dalam menggunakan sumpit ini, karena percikan api blencong mudah membakar kain yang dikenakan oleh Dalang.

Namun blencong saat ini sudah jarang dipergunakan karena dianggap tidak praktis dan sinarnya kurang terang. Pada perkembangannya blencong digantikan dengan lampu petromak. Di zaman yang serba listrik ini blencong diganti dengan lampu bohlam (lampu pijar), bahkan saat sekarang karena pergelaran wayang sering diselenggarakan di lapangan luas dan akbar maka lampu blencong digantikan dengan lampu halogen (sejenis lampu mobil) 1000 watt.

Pergelaran wayang yang menggunakan lampu blencong pada saat sekarang hanya terdapat di keraton saja dan hanya untuk acara ritual khusus seperti ruwatan dan pentas pesanan para turis manca negara yang menghendaki pergelaran wayang seperti aslinya tempo dulu.

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Blencong" Kategori: Wayang kulit

KELIR WAYANG KULIT PURWA

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

(Sumbangan Tulisan Ki Bambang Asmoro di Wikipedia)

Kelir di dalam istilah pedalangan lebih menunjuk kepada layar tempat memainkan boneka wayang. Kelir biasanya terbuat dari kain berwarna putih benbentuk empat persegi panjang dengan panjang 3 hingga 12 meter dan lebar 2 hingga 3 meter. Kelir ini terbuat dari bahan kain sejenis catoon bukan nilon atau orang jawa sering menyebutnya mekao. Bahan ini dipilih karena tidak terlalu licin sehingga jika wayang ditempelkan ke kelir tidak akan mudah goyang ke kanan dan ke kiri, dalang bisa mengendalikan gerak wayang dengan mudah.

Di semua sisi pinggirnya kelir di balut dengan kain warna hitam, dengan lekukan tertentu. Sisi atas disebut sebagai pelangitan sedangkan sisi bawah disebut palemahan. Disebut pelangitan karena letaknya diatas dan difungsikan sebagai langitnya wayang. Bila suatu tokoh boneka wayang dalam posisi terbang, maka akan sampai menyentuh kelir bagian atas ini. Sedangkan palemahan berasal dari kata "lemah" yang berarti tanah sehingga dalam pakeliran lebih difungsikan sebagai tempat berpijaknya wayang. Jika tancepan wayang diatas garis palemahan, wayang tersebut akan terlihat mengambang.

Sisi kanan kiri kelir dijahit berlubang untuk tempat meletakkan sligi, yakni semacam tiang kecil yang terbuat dari bambu atau kayu untuk membentangkan kelir di bagaian kanan dan kiri yang ditancapkan pada batang pisang di bagian bawahnya sedangkan bagian atas dihubungkan dengan gawangan kelir. Disi atas dan bawah kelir juga di jahitkan besi benbentuk bulatan atau segitiga kecil yang berfungsi untuk mengencangkan kelir dengan tali di bagian atas yang bernama pluntur dan dengan placak atau placek di bagian bawah.

Pada perkembangannya bentuk kelir ini tidak hanya benbentuk empat persegi panjang, tetapi untuk kebutuhan tertentu kelir ada yang dibuat dengan bentuk setengah lingkaran sebagaimana separoh bola dunia dengan bergambarkan pulau-pulau di sisi bagian atas. Kelir ini sangat berkaitan erat dengan gawangan kelir, gedebog, tapakdoro, kotak wayang, keprak

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Kelir"

KEPRAK WAYANG KULIT PURWA

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

(sumbangan Tulisan Ki Bambang Asmoro di Wikipedia)

Keprak adalah suatu alat yang terbuat dari perunggu atau besi dengan ukuran kira-kira 20 x 27 cm, terdiri bebrapa lempengan, diberi lobang pada bagian atasnya dan diberi seutas tali, digantung pada kotak wayang dengan tatanan sedemikian rupa sehingga bila di pukul akan menimbulkan efek bunyi "prak-prak".

Dalam pergelaran wayang kulit purwa gaya Surakarta, wayang golek Sunda, Wayang Betawi, keprak terdiri minimal 3 buah, ada yang 4 buah dan 5 buah. Sedangkan untuk pakeliran Gaya Yogyakarta keprak hanya terdiri dari satu lempengan besi saja yang di landasi dengan kayu seukuran keprak, dipukul dengan cempala besi yang di jepit oleh kaki seorang dalang efek bunyi yang ditimbulkan "ting-ting".

Agar menghasilkan suara keprak yang bagus seorang dalang harus tahu teknik memasang keprak dan teknik membunyikan keprak dengan baik. Keprak dalam pakeliran biasanya untuk mengiringi gerakan wayang serta untuk memantabkan solah (gerak) wayang. Dalang wayang kulit gagrak Surakarta saat ini lebih memilih keprak berbahan besi putih beberapa lembar di kombinasi dengan keprak perunggu beberapa lembar, yang di yakini mempunyai efek suara lebih nyaring.

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Keprak"

GAPIT WAYANG KULIT

(Sumbangan Tulisan Ki Bambang Asmoro di Wikipedia)

Gapit dalam wayang kulit menunjuk pada bagian penyangga wayang terutama yang menempel dari kaki wayang, dan dieluk sesuai dengan badan wayang, melewati pinggang, dada, kepala hingga pada ujung rambut atau mahkota. Gapit biasanya dibuat dari tanduk kerbau.

Gapit, menurut Ki Sumadi, seorang pengrajin gapit wayang dari Kuwel, Klaten yang juga seorang dalang, dibagi dalam beberapa bagian. Bagian paling bawah berbentuk lancip yang biasanya ditancapkan pada batang semu (gedebog) pisang, dan dinamakan antub. Di bagian atas dari antub terdapat lengkeh, genuk, dan picisan yang ada di bawah kaki wayang, sedangkan bagian selanjutnya disebut cempurit. Konon ketiga bagian ini diambil dari nama pangkat para penunggu pintu keraton, yakni lurah lengkeh, lurah genuk dan lurah picis. Sesudah melewati ketiga lurah ini baru kita akan menemukan pintu utama yang dinamakan cepuri, oleh karena itu bagian gapit yang paling atas disebut cempurit.

Pesinden juga sering disebut Sinden, menurut Ki-Mujoko Joko Raharjo (Alm) berasal dari kata "pasindhian" yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu). Sinden juga disebut waranggana "wara" berarti seseorang berjenis kelamin wanita, dan "anggana" berarti sendiri. Pada jaman dahulu waranggana adalah satu-satunya wanita dalam pangung pergelaran wayang ataupun pentas klenengan. Sindhen memang seorang wanita yang menyanyi sesuai dengan gendhing yang di sajikan baik dalam klenengan maupun pergelaran wayang. Istilah sinden juga digunakan untuk menyebut hal yang sama di beberapa daerah seperti Sunda, Banyumas, Yogyakarta, Jawa Timur dan daerah lainnya, yang berhubungan dengan pergelaran wayang maupun klenengan. Sindhen tidak hanya satu orang dalam pergelaran tetapi untuk saat ini pada pertunjukan wayang bisa mencapai delapan hingga sepuluh orang bahkan lebih untuk pergelaran yang sifatnya spektakuler.

Pada pergelaran wayang jaman dulu Sindhen duduk dibelakang Dalang, tepatnya di belakang tukang gender dan di depan tukang Kendhang. Hanya seorang diri dan biasanya istri dari Dalangnya ataupun salah satu pengrawit dalam pergelaran tersebut. Tetapi seiring perkembangan jaman, terutama di era Ki Narto Sabdho yang melakukan berbagai pengembangan, Sindhen dialihkan tempatnya menghadap ke penonton tepatnya di sebelah kanan Dalang membelakangi simpingan wayang dengan jumlah lebih dari dua orang.

Di era modern sekarang ini Sindhen mendapatkan posisi yang hampir sama dengan artis penyanyi campursari, bahkan sindhen tidak hanya dibutuhkan untuk mahir dalam menyajikan lagu tetapi juga harus menjaga penampilan, dengan berpakaian yang rapi dan menarik. Sindhen tidak jarang menjadi "pepasren" (penghias) sebuah panggung pertunjukan wayang. Bila Sindhennya cantik-cantik dan muda yang nonton akan lebih kerasan dalam menikmati pertunjukan wayang. Perkembangan wayang saat ini bahkan Sindhen tidak hanya didominasi wanita tetapi telah muncul beberapa orang Sindhen laki-laki yang mempunyai suara merdu seperti wanita, tetapi dalam dandannya sindhen ini tetap memakai pakaian adat jawa selayaknya pengrawit pria lainnya dan beberapa waktu lalu Sindhen laki ini malah menjadi trend para Dalang untuk menghasilkan nilai lebih pada pergelarannya.

(Oleh Ki Bambang Asmoro)
Tags: dalang, wayang kulit, wayang golek, wayang

Wayang di jaman Edan


Semua manusia di dunia ini bisa saja becermin dari lakon yang ada dalam jagat perwayangan. Karena dunia wayang tidak berbeda dengan dunia yang sesungguhnya: Ada keteraturan alam yang ditimbulkan oleh dua sifat manusia, yaitu baik dan buruk. Lakon wayang ini dibeberkan dengan berbagai media dan bentuk agar bisa dinikmati manusia.

Dan... inilah yang dilakukan Sujiwo Tejo, seorang dalang asal Jember, Jawa Timur. Kita tidak asing meski masih tetap kagum, saat ia memainkan tokoh-tokoh wayang di depan kelir. Tapi ternyata ia juga menggunakan tulisan sebagai media untuk menceritakan kehidupan dan peristiwa yang dialami manusia dengan latar belakang jagat perwayangan yang dirangkum dalam sebuah buku.

Dari pengalaman, ''dalang edan'' ini yakin betapa terbatasnya tradisi lisan untuk menjumpakan gagasan, walau kita juga tidak boleh heran karena memang Sujiwo tidak hanya sebagai seniman yang serba bisa, tapi juga sebagai penulis dan wartawan.

'Dalang Edan' dijadikan judul buku ini lantaran Sujiwo Tejo memang dikenal dan dijuluki orang sebagai ''dalang edan''. Dalam buku kedua yang diterbitkan Aksara Karunia ini, Sujiwo masih menempatkan diri sebagai dalang. Ia ingin mengatakan bahwa meski memiliki fisik berujud manusia, kita semua belum tentu manusia. Di dalam dunia wayang justru yang bukan manusia -- seperti tokoh Hanuman dengan wajah dan badan kera -- justru malah manusia. Definisi manusia bagi Sujiwo adalah makhluk yang hari ini lebih baik daripada kemarin dan esok lebih baik daripada hari ini.

Hakikat manusia dengan pendekatan filsafat Jawa dan modern banyak dituturkan seniman ini lewat buku setebal 488 halaman yang dicetak PT Surya Multi Grafika April 2002. Dalam mengungkapkan peristiwa, Sujiwo tidak hanya melakukan model pelintiran, tapi juga satir yang bisa membuat orang tersindir. Di samping mengeksplorasi kekayaan bahasa Indonesia yang selama ini terlupakan dan tercecer, Sujiwo juga menggunakan menggunakan bahasa secara substansial tentang arti orang jujur dan jahat.

Dengan kemasan kecil, buku ini terdiri dari tujuh bab yang oleh Sujiwo digunakan istilah ''kanda'' atau lakon. Empat kanda pertama dijadikan Sujiwo sebagai medua perkenalan. Kanda kesatu berjudul 'Hanuman Melompat Sudah', kedua 'Petruk tak Potong Telinga', ketiga 'Semar Merem', kanda keempat 'Layon-Layon Ekalaya'. Kanda-kanda selanjutnya dimaksudkan agar lebih memberikan ruang bagi kenalan-kenalan itu untuk bekerja, yaitu kanda 'Rahwana yang Terhormat', 'Perempuan-Perempuan Wayang', dan kanda 'Dalang atawa Kadal Malang'.

Dalam kanda kesatu, digambarkan bagaimana pengadilan ala dunia wayang dalam kasus terbunuhnya Hanuman. Sujiwo menjelaskan semua orang sekarang sedang sibuk 'mengadili' para jenderal dan orang-orang yang diduga korupsi. Sama dengan demokrasi, menurutnya, pengadilan diciptakan untuk kepentingan manusia. Oleh karenanya, menurut Sujiwo, perlu dipertanyakan apakah keberadaan DPR maupun peradilan terhadap para jenderal yang terlibat dalam kasus-kasus pelanggaran HAM masih diperlukan, karena jangan-jangan para anggota DPR maupun jenderal tersebut 'bukan manusia' lagi.

''Kalau mereka bukan manusia, percuma saja diadili. Kalau para jenderal yang terlibat berbagai kasus di Indonesia ternyata 'bukan manusia' ya... jangan diadili,'' ujarnya. ''Karena itu kita harus introspeksi. Para jenderal dan pejabat yang diduga koruptor harus diperiksa dulu. Angkara murka hanya bisa mati dengan diri sendiri.''

Melalui tokoh-tokoh wayang, Sujiwo memang seolah hendak meneropong realita secara lebih jernih. Itu sebanya buku ini tak hanya mengungkapkan masalah-masalah politik dan sosial, tapi juga sarat 'human interest' dan masalah gender, khususnya yang menyangkut kondisi Indonesia. Menurut Sujiwo, untuk mengubah Indonesia, ubahlah wayang. ''Sebab filsafat wayang kini telah berubah menjadi kepentingan penguasa,'' katanya.

Salah satu tulisan yang menarik dari buku ini adalah kanda kelima, yaitu 'Rahwana yang Terhormat'. Di sini kita bisa melihat bagaimana Sujiwo memainkan pelintiran dan gaya bahasa yang menarik dengan tokoh 'Bapak' sebagai sentralnya.

''Begitu lahir,'' tulis Sujiwo, ''Bapak yang -- maaf -- berkepala 10 dan karena itu bernama Dasamuka, langsung bertapa 50.000 tahun. Setiap jangka 1.000 kali pemilu normal di Indonesia, Bapak memenggalnya satu.'' Namun, lanjut Sujiwo, ''Menjelang pemenggalan ke-10, alam semesta yang 'di-DPR-i' dewa tergopoh-gopoh datang. 'Jangan. Jangan. Jangan! Alam tak dapat hitam dan putih. Semesta selalu masih butuh kamu.' Bapak tandas berkata: 'Baik. Aku lanjutkan hidup ini. Tapi aku minta kesaktian tak tertara dan kawin dengan Dewi Widawati.'. Jagat mengangguk tanda setuju.'' (hlm 315)

Kadangkala kita memang perlu menjadi 'edan' untuk dapat memandang hidup secara lebih jernih dan jujur. Tokoh Rahwana yang selama ini dikenal sebagai raksasa mengerikan yang menculik dewi Sinta, kekasih Rama, oleh dalang dalam buku ini justru dipandang sebagai pahlawan, manusia jujur buruk wujud yang diciptakan untuk membawa keseimbangan di dunia ini.

Di samping cerita yang sengaja dibuat acak dan melompat-lompat -- dari cerita tentang politik dan sosial yang kemudian dianalogikan ke dalam cerita wayang -- Sujiwo juga menggunakan 'Sobiman' sebagai tokoh yang mewakili diri sendiri. Pencatutan tokoh-tokoh politik, seniman, budayawan, sampai tokoh-tokoh agamawan yang mengalami suatu kasus, dilakukan Sujiwo untuk memperkaya tulisannya.

Koordinator Komite Pemantau Legislatif, Irma Hutabarat, menilai bahwa yang dibahas dalam buku ini lebih pada karakter-karakter para tokoh, tidak pada alur. ''Saya melihat Rahwana jujur dalam menginginkan Sinta dan tidak 'misslanding'. Kita bahkan lebih buruk dari Rahwana,'' ujarnya saat membedah buku ini di Jakarta belum lama ini.

Apa sebenarnya yang bisa kita petik dan pelajari dari buku Sujiwo sebenarnya karakter-karakter yang bersifat universal. Sujiwo, lanjut Irma, lebih syur pada pembahasan karakter yang mendalam dengan kejujuran dan pemikirannya yang loncat-loncat serta 'amburadul.' Dan inilah sesungguhnya fungsi dalang.

Pengamat politik Andi Mallarangeng mengatakan, fungsi dalang dalam jagat pewayangan jaman dulu bertugas menggantikan peran media terutama pada saat masuk 'goro-goro'. Konsep yang disampaikan dalang memberikan kritik-kritik sosial dan pesan secara tidak membuat 'raja' tersinggung.

''Dalam kenyataannya ada dalang yang dikooptasi karena melanggar apa yang dipercaya sebagai aturan kerajaan,'' katanya. Namun, ia berharap seorang Sujiwo Tejo bukanlah sosok dalang yang terkooptasi seperti itu. ''Sujiwo telah melakukan dekonstruksi tentang pakem-pakem seperti pada tokoh Rahwana. Berbagai macam alur cerita menjadi tidak sederhana dan membuat pikiran berkembang. Terlihat jelas pada model 'goro-goro' sekarang ini,'' tuturnya.

Karenanya, Andi pun memaklumi bila alur cerita dalam buku ini tidak sistematis alias banyak cerita yang dibuat secara melompat-lompat. ''Jangan harap buku ini sistematis, karena dalang memang tidak sistematis. Yang dilakukan Sujiwo adalah upaya mulia memunculkan kembali model pewayangan pada zaman modern,'' ungkapnya.

Sebagian besar tulisan dalam buku ini memang pernah dimuat dalam beberapa media massa. Orang bisa menebak bahwa tulisan-tulisan Sujiwo Tejo -- sebagaimana 'Catatan Pinggir'-nya Goenawan Muhamad -- hampir selalu disajikan dengan karakteristik dan latar belakang yang berbeda.

Aldi Thiopradana, salah satu penyunting naskah, mengatakan bahwa proses penyuntingan buku ini berasal dari tulisan-tulisan Sujiwo yang dirangkai menjadi satu pokok pikiran atau satu pikiran besar. ''Memang tidak mudah, karena kami harus menjahit menjadi satu 'frame','' katanya. ''Tapi hasil akhirnya benar-benar sebuah tulisan baru.''

Gamelan, Orkestra a la Jawa
 
Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pagelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah anda bisa menikmati versi aslinya.

Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.

Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan, musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang, dan tarian. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik, diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, rebab dan celempung, gambang, gong dan seruling bambu. Komponen utama yang menyusun alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.

Kendang

Kendang adalah instrumen pemimpin. Pengendang adalah konduktor dari musik gamelan. Ada

5 ukuran kendang dari 20 cm - 45 cm.

Saron Alat musik pukul dari bronze dengan disanggah kayu. Ada 3 macam Saron; Saron Barung, Saron Peking, Saron Demung.

Bonang Barung Terdiri dari 2 baris peralatan dari bronze dimainkan dengan 2 alat pukul.

Slentem
Lempengan bronze ini diletakan diatas bambu untuk resonansinya.

Gender
Hampir sama dengan slentem dengan lempengan bronze lebih banyak.

Gambang
Lempengan kayu yang diletakkan diatas frame kayu juga.

Gong Setiap set slendro dan pelog dilengkapi dengan 3 gong. Dua Gong besar (Gong Ageng) dan satu gong Suwukan sekitar 90 cm, terbuat dari bronze, Gong menandakan akhir dari bagian lagu yang liriknya panjang.

Kempul Gong kecil, untuk menandakan lagu yang bagiannya berirama pendek. Setiap set slendro dan pelog terdiri dari 6 atau 10 kempul.

Kenong Semacam gong kecil diatas tatakan, satu set komplet bisa 10 kenong baik set slendro atau pelog.

Ketug
Disebut juga kenong kecil, menandakan jeda antar lirik lagu.

Clempung
A string instrument, each slendro and pelog set needs one clempung.

Siter
Tiap set slendro dan pelog memerlukan 1 siter.

Suling
Setiap set slendro dan pelog memerlukan 1 suling.

rebab Alat musik gesek Keprak and Kepyak Diperlukan untuk pertunjukan tari

Bedug

Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E-F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.

Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri, musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer.

Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazz-gamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis.

Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Pada hari Kamis pukul 10.00 -12.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit, sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Untuk melihat pertunjukannya, anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua, anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.


Ki Wawan Gunawan
Jun 12, '08 6:52 AM
for everyone

Wawan Gunawan lahir di Ciamis Jawa Barat tanggal 11 Desember 1969
Profesi dalang ditekuni sejak mulai kanak-kanak

Pendidikan Formal

SD-SMP di Panumbangan Ciamis lulus tahun 1985
Sekolah Menengah Karawitan (SMKI) Bandung lulus tahun 1989
Akademi Seni Tari Indonesia ( ASTI ) Bandung lulus tahun 1992
Institut Seni Indonesia ( ISI ) Yogyakarta lulus tahun 1995

Pendidikan Non Formal

1980-1985 belajar mendalang wayang golek kepada Ki dalang Suwita di Ciamis
1986-1989 berguru kepada Ki Dalang Elan Surawisastra Bandung
1989-1992 belajar di Padepokan Giri harja 5 pada Ki Dalang Iden Subasrana Sunarya
2002- berguru pada Ki Dalang RH. Tjetjep Supriadi di Padepokan Panca Komala Karawang

PENGALAMAN PENTAS

Tahun 1988 s/d 2003 aktif dalam pergelaran di masyarakat Jawa Barat, lebih dari 300 kali menyemarakan acara-acara pernikahan, kitanan, peresmian gedung sdb.

1990, menyambut konggres Pendidikan Nasional di gd. Merdeka Bandung
1990-1991, berpartisipasi dalam acara-acara Asian Touris Forum (ATF) & Visit Indonesia Year (VIY)
1992-1995, banyak menggelar pertunjukan wayang kreasi baru bersama kelompok seni Sandiwara Sunda Miss Tjitjih Jakarta diberbagai kota terutama dalam even khusus diantaranya perayaan 17 Agustus.
1995, penyaji ffavorit pada Festival dalang remaja di Istana Anak-Anak TMII
1995, menyambut Kongres Kesenian I se-Indonesia di Jakarta
1996 menyambut HUT TMII ke-21
1996-2002, mengisi paket pergelaran atraksi kesenian di masyarakat yang diselenggarakan oleh Dinas kebudayaan DK Jakarta
1999, menyajikan karya wayang golek Ajeng pada Pakem Wayang Indonesia di TMII Jakarta.
1999-2001 mengisi paket tayangan wayang golek ajeng di media televisi diantaranya; TVRI Bandung, TVRI Jakerta, TPI dan Indosiar
2002, menggelar paket pergelaran wayang golek ajen kolaborasi dengan musik Sambasunda di Gd Pewayangan TMII
2002, Pergelaran spektakuler wayang golek ajen berkolaborasi dengan berbagai etnik seni dan didukung oleh 150 orang seniman di Kabupaten Ciamis
2003, gelar wayang golek ajen dalam acara syukuran warga Galuh Bekasi bersama Bupati dan pejabat Pemda di Gd. Patal Bekasi.
2003, Pelaksanaan Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) di Nusa Dua Bali 23-27 Agustus

PENUGASAN KE LUAR NEGERI

1. Tahun 2000 misi kesenian Propinsi DKI Jakarta ke Madrid Spangol
2. Tahun 2000 mengikuti "IX World Muldial Falkloriques Festival" di palma The Malorca Spayol
3. Tahun 2001 Misi kesenian Pemda DKI Jakarta Ke Murcia Spanyol
4. Tahun 2001 Misi kebudayaan Dinas Kebudayaan DKI Jakerta, pentas di berbagai kota Athena-Yunani
5. Tahun 2002 sebagai Duta Seni dalam rangka mengikuti "The Asia Erope Puppet Festival" di Bangkok Thailand.

PENGHARGAAN

1. Tahun 1995 sebagai dalang pinilih i dalam Festival wayang golek Sunda di TMII
2. Tahun 1996 penghargaan dari Kepala Rumah Tangga kepresidenan RI
3. Tahun 1999 penghargaan sebagai Juri dalam Festival Wayang Golek Sunda di TMII
4. Tahun 1999 Menciptakan Wayang Golek Ajen
5. Tahun 2000 penghargaan dari Taman Budaya Propinsi Jawa Barat
6. Tahun 2001 sertivikat dari Walikota dan panitia IX World mundial Folkloriques festival Palma the Malorca
7. Tahun 2002 sebagai penyaji terbaik pada "the Asia Erope Puppet Festival" di Bangkok
8. Tahun 2002 mendapat penghargaan Prestasi Seni di Forum Internasional dari pemerintah RI, melalui Badan PengembanganKebudayaan dan Pariwisata RI

LIPUTAN MEDIA CETAK

1. "Wawan Gunawan Dalang Cilik yang Kreatif" Pikiran rakyat
Bandung 1999
2. "Sajian Khusus Pekan Wayang Indonesia" Majalah Cempala Edisi kresna th 1999
3. "Wayang Punya Keunggulan Kreatif di Era Global" PELITA 24 Agustus 1999
4. "Wayang Terus" MAJALAH G

 
Tags: dalang
0 comments share


    
Ki Timbul Hadiprayitno
Jun 12, '08 6:46 AM
for everyone
 
Category:    Other
Ki Timbul Hadiprayitno lahir di Bagelen, Purworejo, pada 20 Juni 1934. Agamanya adalah Islam. Pendidikannya hanya sampai SR saja. Ia mempunyai 6 orang anak yang semuanya adalah dalang kecuali 1 orang putri. Ia adalah dalang yang terkenal dari Yogyakarata.

Sejak kecil ia telah belajar mendalang yang diperoleh dari orang tuanya. Timbul juga belajar kepada siapapun, antara lain kepada Ki Wiji Prayitno (ayah dari Hadi Sugito): Ki Kasmono, Kulon Progo tentang Sanggit; Ki Gondo Margono belajar mengenai sulukan; Ki Bancak tentang sabetan; dan Ki Narto tentang antawacana.

Beberapa kali ia terpilih sebagai dalang kesayangan oleh Radio-radio Swasta Niaga pada dekade 1980. Dari Keraton Kasultanan Yogyakarta, Ki Timbul mendapat anugerah nama Cermomanggolo. Awal tahun 1990, sebuah perusahaan multinasional, Mobil Oil, membuat proyek video mengenai pergelaran Wayang Kulit Purwo, Ki Timbul terpilih menjadi dalangnya karena dinilai sebagai dalang yang klasik.

Dalam garap pakeliran Ki Timbul sangat kuat dalam garap sabet, garap catur dan garap lakon. Ia juga mahir dalam mempergelarkan lakon-lakon banjaran yaitu cerita tentang riwayat hidup tokoh wayang. Dalam pergelaran wayang Timbul berusaha untuk menampilkan lakon, sanggit, sabet, dan gecul secara seimbang. Disamping itu, ia adalah dalang yang teguh dalam mempertahankan tradisi. Ki Timbul berani menolak jika penanggap menghendaki hadirnya bintang tamu. Dalam tradisi meruwat di kalangan masyarakat Jawa, Ki Timbul Hadiprayitno adalah salah satu dalang yang dituakan dan mampu untuk melaksanakan prosesi sakral tersebut. Kemampuan itu tidak banyak dimiliki oleh dalang-dalang lain.

Sebagai dalang terkenal Ki Timbul mempunyai jangkuan pentas yang luas, baik di dalam kota, propinsi, di luar Jawa, bahkan sampai keluar negeri. Frekuensi pentasnya dalam satu bulan sangat padat sekali, jika sedang ramai dalam satu bulan bisa lebih dari 40 undangan jika dituruti semuanya. Mengenai tarif dalam mendalang Timbul masih memberikan kelonggaran terhadap siapa yang menanggapnya. Untuk tarif di dalam kota dimana ia tinggal biasanya 10 juta cukup memadai.

Mengenai lakon yang menjadi favoritnya adalah menyesuaikan dengan trend masyarakat yang menanggap. Timbul pernah membuat sanggit lakon sendiri, yang kebanyakan adalah cerita tentang wahyu, antara lain: Wahyu Harjadah, Wahyu Kembang Slombo, Wahyu Panca Purbo, dan Wahyu Mustika Haji. Timbul memiliki kelomok karawitan sendiri, yang bernama Marsudi Budaya, jumlah anggaotanya kurang lebih 30 orang. Ia juga menulis buku-buku tetapi untuk kepentingan pribadi, antara lain mengenai lakon-lakon pedalangan, dan sulukan-sulukan.

Mengenai kiatnya menjadi dalang tenar adalah belajar baik secara lahir yaitu, kemampuan teknis pedalangan, membaca buku-buku pedalangan dan sumber-sumber lain. Dan secara batin, antara lain menjaga tingkah laku, antara ucapan dan tindakan harus sesuai.

Ki Seno Nugroho


SENO NUGROHO lahir di Yogyakarta, pada 23 Agustus 1972. Agamanya Islam. Ia lulus dari dari sekolah Menengah Kesenian Indonesia, Yogyakarta, pada 1991. Seno dikaruniai seorang anak putri, Ia tinggal di Jl. Mangunsarkoro No. 52, Yogyakarta.

Seno belajar mendalang sejak umur 10 tahun. Seringkali ia ikut ayahnya saat mendalang. Seno kecil sangat kagum terhadap Ki Mantheb Sudharsono meskipun belum saat itu belum tersentuh teori-teori pedalangan. Sekolah Menengah Kesenian, Yogyakarta selanjutnya membentuknya menjadi dalang. Ia mendalang untuk pertama kali, dikampungnya, pada usia 15 tahun.

Seno mampu menguasai dan mampu memadukan dua gaya pakeliran Yogyakarta dan Surakarta. Garap pakelirannya sangat menonjol dalam garap catur. Spontanitas mengalir dalam dialog yang dibawakan selama pentas, menggelitik, lucu, dalam penuh makna. Rata-rata pentas dalam satu bulan untuk hari-hari biasa antara 2 dan 3 kali. Pada bulan Agustus dan September rata-rata pentas sampai 20 kali lebih. Undangan pentas yang diterimanya biasanya datang dari institusi atau lembaga. Daerah pentasnya, meliputi Jawa dan luar Jawa. Bahkan, ia pernah ke Balanda dan Belgia bersama koreografer Miroto mengadakan kolaborasi tari dan wayang. Sedangkan, daerah penggemarnya yang terbanyak ada di Yogyakarta.

Seno belum mempunyai sanggar pedalangan sendiri. Tetapi sesekali beberapa orang asing belajar mendalang padanya. Ia juga mempunyai kelompok karawitan sendiri yang diberi nama “Wargo Laras”. Anggotanya kurang lebih 50 orang.

Untuk tarip dalam pentas secara profesional menentukan jumlah rupiahnya, yaitu: di dalam kota antara 10 sampai dengan 15 juta, di luar propinsi antara 20 sampai dengan 25 juta. Untuk pentas di luar Jawa, ia menetapkan tarif antara 25 sampai dengan 40 juta dengan peralatan pergelaran dipersiapkan oleh tuan rumah. Selain profesinya sebagai dalang, Seno juga sering kali mendapat order sebagai koreografer tari, iringan tari, dan penata lakon.

Sebagai dalang yang cukup tenar Seno mempunyai kiat dalam kesuksesannya, yaitu memanfaatkan peran media masa. Seno juga dalang yang mempunyai kesadaran baca tinggi. Beberapa buku dibacanya, antara lain buku-buku lakon, naskah dan gagrag pedalangan, buku-buku sastra, dan biografi seniman.

Tokoh favoritnya dalam wayang adalah panakawan. Seno bukanlah Seni jika tanpa hadirnya Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong. Sedangkan, lakon apa saja yang menampilkan panakawan menjadi favoritnya seperti Semar Mbangun Kahyangan. Sedangkan, dalang yang menjadi tokohnya yaitu, Ki Manteb Sudharsono, Ki Purbo Asmoro dan Ki Nartosabdo. Khusus kepada Purbo Asmoro karena garap pakelirannya sangat komplek, dapat digarapnya dengan baik.

Pengalaman menarik selama menjadi dalang yaitu, pernah pentas di Wonosobo, hanya diiringi oleh penggender dan gendang saja, karena diperkirakan sudah ada nayaga dari tuan rumah. Sedangkan, keluhan selama menjadi dalang yaitu ketika penonton atau penanggap meminta kemampuan yang lebih dari Seno saat pentas. Permintaaan ini sangat membebani Seno untuk tampil sebagaimana adanya.

Bima Tanding adalah salah satu sanggit lakon yang pernah dibuatnya semasa reformasi. Disamping itu, ia juga pernah mengarang gending-gending, utamanya gending dolanan.

Mon, 21 Sep 2015 @12:22


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Pepadi Jateng · All Rights Reserved