Sugeng Rawuh
image

PEPADI JATENG


Hambangun budi pakarti tumrap jagad pewayangan
Unduhan
Pengunjung

Fungsi dan Peran Wayang

FUNGSI DAN PERAN
PAGELARAN WAYANG PURWA
BAGI
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BANGSA

Makalah dipaparkan pada
LAKU BUDAYA II

Oleh
Bambang Murtiyoso (STSI Surakarta)

diselenggarakan oleh

YAYASAN STUDI BAHASA JAWA KANTHIL
PGRI DAN PEPADI KOMDA JAWA TENGAH
Di Hotel Quality Surakarta
Pada tanggal 2 dan 3 Februari 2005

FUNGSI DAN PERAN
PAGELARAN WAYANG PURWA
BAGI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BANGSA
Oleh Bambang Murtiyoso (STSI Surakarta)

Menghadapi globalisasi, modernisasi, konsumerisme, dan spektakulerisasi yang cenderung mengarah pada westernisasi yang sangat dahsyat sekarang perlu disikapi dengan cara-cara yang bijak.  Cara itu yang tepat adalah melalui laku budaya.  Akumulasi budaya Jawa, di masa lalu, telah diungkapkan pada pertunjuk-an wayang kulit purwa melalui garapan cerita atau lakon, karakter tokoh-tokoh wayang dalam dialog-dialognya serta narasi (janturan dan pocapan) dalang; baik secara tersirat maupun tersurat. Banyak studi yang memberikan pernilaian terhadap wayang se-demikian tinggi. Yang terakhir didasarkan atas hasil-hasil  kajian dan/atau studi tentang dunia pewayang-an PBB melalui UNESCOnya telah memberikan peng-hargaan wayang Indonesia sebagai salah warisan budaya dunia nonbendawi.  Pertanyaan sekarang adalah, apakah masih dapat dilacak buktinya dan bagaimana kondisi riil di lapangan?

Fungsi dan peran bagi saya merupakan dua kata yang sulit di-bedakan, sebab dalam penggunaan dan/atau praktik di lapangan sering tumpang tindih. Fungsi dan peran seperti dua sisi mata uang, kaya suruh lumah lan kurebé, séjé rupané yèn ginigit pada rasane. Secara sederhana, dalam konteks makalah ini, peran pertunjukan wayang purwa saya terjemahkan sebagai abstraksi ideal dalam pendidikan budi pekerti bangsa. Sedang kan fungsi pertunjukan wayang purwa lebih dimaknai sejauh¬mana kontribusi konkrit terhadap pendidikan budi pekerti bangsa.

Kaitannya dengan peran dapat dijereng sejumlah pendapat tentang wayang.  Wayang bagi masyarakat Jawa masa lalu, tidak hanya disikapi sebagai bentuk seni semata, tetapi juga dipahami sebagai sumber acuan hidup.  Sesungguhnya wayang adalah sebuah ekspresi batiniah atau inner cultural (Wirosardjono 1992).   Wayang, seperti halnya “sistem” metafisis dan etika yang lain bertujuan untuk men¬jelaskan alam semesta (Anderson 1965:5).  Anderson juga me-ngata¬kan bahwa mitologi wayang meruapakan usaha untuk me-nyelidiki secara mitis posisi eksistensi orang Jawa, hubungannya dengan tatanan alam kodrati dan adikodrati, terhadap orang lain dan dirinya sendiri.

Berkaitan dengan kehidupan pertunjukan wayang kulit purwa dan perannya di masyarakat, Kartodirdjo mengatakan bahwa:

Pertunjukan wayang tetap populer dan dapat men-jembatani jarak antara kultur istana dan tradisi rakyat.  Oleh peranan dalang dapat dilestarikan etika, kesenian, dan sastra dalam perubahan sosio-kultural.  Dapat pula dipertahankan keseimbangan antara unsur estetika, etika, devosionalisme, dan hiburan.

Tiga pendapat budayawan di atas dapat dipastikan ber¬landas-kan pada hasil pengamatan mereka yang panjang dan serius ter-hadap pertunjukan wayang kulit purwa. Mudah-mudahan ketiga kelompok pendapat ini dapat mewakili acuan berpikir dalam diskusi.

Fungsi dan peran pertunjukan wayang purwa dapat dirinci sebagai:

  1. sarana ungkap orang Jawa dalam memahami alam semesta, baik rohani maupun bendawi
  2. penghubung antara budaya tradisional klasik (baca kraton) dengan budaya tradisional kerakyatan; serta
  3. frame of referance dalam mengeseimbangkan ekspresi moral (etika), keindahan seni (estetika), peribadatan (devosional), dan hiburan

Pertunjukan wayang purwa sangat sarat dengan konsep hidup orang Jawa, di bidang politik pemerintahan (baca janturan pada jejer pertama

Permasalahannya adalah, seperti pertanyaan awal dalam makalah ini, masihkah hal-hal yang luar biasa itu masih kita dapatkan di dalam kenyataan pertunjukan wayang  purwa di masyarakat luas sekarang.

Mon, 21 Sep 2015 @12:38


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Pepadi Jateng · All Rights Reserved