Sugeng Rawuh
image

PEPADI JATENG


Hambangun budi pakarti tumrap jagad pewayangan
Unduhan
Pengunjung

Meningkatkan Peranan Dalang, Pesindhen dan Keunggulan Pewayangan Di Era Kesejagatan

 

 

 

 

Merajut Pemikiran Untuk:

Meningkatkan Peranan Dalang,

Pesindhen dan Keunggulan Pewayangan

Di Era Kesejagatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Ki Sutadi

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia

Provinsi Jawa Tengah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengantar

 

             Dalang dan wayang dapat digambarkan dalam kata-kata indah berbahasa Jawa (pepiridan, pepindhan) yaitu : ‘kadya suruh lumah kurepe, yen sinawang beda rupane, yen ginigit padha rasane’. Kata indah ini memiliki arti dan makna bahwa antara dalang dan wayang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu lahirlah pengembangan konsep (term, concept, content)  yang disebut dengan Pedalangan, Pewayangan, dan Pakeliran. Ke tiga kata kunci ini telah menyatu, dan telah dilahirkan sebagai  sebuah caraka (cipta, rasa dan karsa) yang indah dan menyentuh rasa. Penggambaran tentang hal ini, tertulis dalam Kakawin Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa seorang pujangga kraton pada masa peme-rintahan Raja Airlangga di Jawa Timur, pada abad XI (1019-1042), Bab V bait 9, sebagai berikut:

 

‘Hanânonton ringgit manangis asĕkĕl mudha hiděpan 

huwus wruh towin yan walulang inukir molah angucap

atur ning wang tŗşņêng wişaya malahā tan wihikanhina

ri tattwanyan māyā sahana-hana ning bhāwa siluman.

 

              Terjemahan :

 

‘Ada  orang  menonton  wayang,  menangis, sedih, kacau  hatinya.

Telah tahu pula, bahwa kulit yang dipahatlah yang bergerak dan bercakap     

 itu.

Begitulah rupanya orang yang lekat akan sasaran indera, melongo saja,

 sampai  tak tahu, bahwa pada hakikatnya mayalah segala yang ada,

 sulapan belaka’.

 

            Di balik penggambaran tentang indahnya wayang waktu itu, Ki Dalang memegang peranan yang amat menentukan. Konsep dalang merujuk pada tokoh atau sosok utama dalam pewayangan. Peran dan fungsinya begitu penting dan strategis. Dalam manajemen, dalang adalah manajer utama, atau pemegang ‘top management’  yang memiliki peran amat penting di jagad pewayangan dan pakeliran. Dengan peranan yang dimainkan Ki Dalang, nuansa dan pesona wayang dipergelarkan. Di balik wayang ada sang dalang yang berada di  posisi sentral.

 

            Dinamika dan keindahan pergelaran wayang sangat ditentukan oleh sosok dalang. Dalam kasanah pewayangan dalang adalah ‘segalanya’. Dalam konteks  ini, Victoria M Clara van Gronendael (1987) telah menguraikan secara lengkap dalam bukunya yang berjudul: ‘Dalang Di Balik Wayang’. Secara ringkas telah disusun synopsis  tentang  buku ini, sebagai berikut:  

 

 

            ‘Sebagai pelaku utama, dalang menduduki tempat yang sentral dalam pertunjukan wayang yang telah berurat-berakar dalam sejarah kebudayaan Jawa. Dari buku yang lebih menekankan studi antropologi ini, memusatkan perhatian pada peran dalang dalam masya-rakat, maupun di lingkungan kerajaan-kerajaan khususnya di Jawa Tengah. Beberapa hal yang dikedepankan, antara lain mencakup pembicaraan tentang pendidikan latihan dalang, silsilah dalang, perbedaan gaya antara tradisi Karaton dan umum, dan kedudukan dalang di lingkungan atau di luar tembok karaton. Selain itu juga diuraikan bagaimana seorang dalang menjalankan tugasnya, pada suasana dan kesempatan apa sang dalang memainkan wayang’.

 

 

   Dalang  dan  Pesindhen dalam Pewayangan

             Istilah Dalang asal muasalnya dari kata Dahyang, yang maknanya sebagai insan penyembuh berbagai macam penyakit. Prof. Dr. Seno Hamijoyo (1964), dalam bukunya ‘Renungan Pertunjukan Wayang Kulit’, mengartikan Dalang sebagai ‘Wedha-Wulang’. Arti dan maknanya adalah menyampaikan piwulang yang terdapat dalam Kitab Suci Wedha. Handhalang berarti ‘hangudhal-udhal piwulang’ atau memberikan pelajaran tentang ilmu atau ngelmu. Itulah sebabnya, seorang dalang harus mempunyai bekal keilmuan yang cukup. Berbagai bidang keilmuan harus dipelajari, sehingga dalam membangun substansi, lakon atau ceritera bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman, perubahan budaya, dan aneka persoalan kekinian.

              Dalang di jagad pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai ke-ahlian khusus dalam memainkan wayang  atau ‘ndhalang’. Keahlian ini sering diperoleh dari bakat (talenta) turun-temurun dari leluhurnya. Seorang anak dalang akan bisa mendalang tanpa harus belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membantu/membawakan peralatan, memasang kelir, menata panggung, mengatur wayang (nyimping), menjadi niyaga/pengrawit, atau duduk dibelakang ayahnya mempersiapkan wayang yang akan dimainkan.

          . Dalam konteks kekinian, Dalang adalah seorang sutradara, seniman penulis lakon, seorang narator, sesepuh atau guru, peñata karakter, penyusun dan pelantun gendhing, penata seni pentas, sebagai humoris yang menghibur (dhagelan), penari dan lain sebagainya. Dengan kata lain, dalang adalah seorang seniman atau seniwati yang mempunyai kelebihan, keahlian dan kemampuan yang beraneka ragam.

             Dalam tataran ideal, seorang dalang perlu memiliki landasan dan obsesi spiritual, yaitu: ‘kasutapan, katiyasan dan kawicaksanan’ dalam memilih peranan-nya di jagad pewayangan. Itulah sebabnya, ada beberapa sebutan dalang dengan klasifikasi: Dalang Jati, Dalang Purba, Dalang Wasesa, Dalang Guna, dan Dalang Wikalpa.

 

          Dalang Jati adalah dalang yang menitik beratkan garapannya pada berbagai cerita yang dapat dipakai sebagai tauladan bagi masyarakat. Dalang Purba adalah dalang sebagai penuntun dan pemberi wejangan pada masyarakat tentang hidup dan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat dengan mengurai lakon-lakon yang digarapnya. Dalang Wasesa adalah dalang yang dapat membaca, menguasai dan mengenal situasi yang diinginkan penonton dalam membawakan lakonnya. Dalang Guna adalah seorang dalang yang mementingkan jalinan ceritanya sesuai dengan aturan seni pedalangan. Dalang Wikalpa adalah dalang yang menyampaikan ngelmu dan ilmu pengetahuan, sedangkan lakon atau ceritanya masih berpegang pada pakem pedalangan.

                Berdasarkan ketrampilan dan kepandaiannya mendalang, dalang dapat dikelom-pokan menjadi tiga. Tiga kelompok tersebut yaitu Dalang Utama, Dalang Madya, Dalang Purana. Dalang Utama adalah dalang yang dalam pengalaman garapannya sudah sampai pada puncak garapan. Dalang Madya adalah dalang yang berada dalam pertengahan kepandaian garapan. Dalang Purana adalah dalang yang berada dalam tahap belajar. Dari tiga golongan yang besar tersebut, dapat diperinci menjadi lima golongan, yaitu Dalang Banyol, Dalang Sabet, Dalang Antawacana, Dalang Suluk, dan Dalang Pakem. Dalam pakeliran, Dalang Pakem tetap berpegang teguh pada cerita-cerita yang telah diuraikan dalam  Pakem  Pedalangan.

            Dalam konteks pewayangan, dalang  mempergelarkan kisah-kisah dalam kitab atau susastra Ramayana atau Mahabarata. Para pujangga Jawa telah menggubah kitab-kitab tersebut sesuai dengan nuansa yang tipikal Jawa. Adi karya gubahan bukan hanya dilaku-kan terhadap nama-nama tokoh wayang, tetapi juga dalam kisah-kisah, atau lakonnya. Gubahannya disesuaikan dengan suasana kebatinan, situasi dan kondisi  kesejarahan ke-budayaan di Indonesia. Dalam pertunjukan wayang, pada awalnya sang dalang mem-pergelarkan wayang semalam suntuk dengan durasi waktu kurang lebih 8 (delapan) jam. Dalam perkembangan kemudian, lama waktu pentasnya dipadatkan atau dikurangi.

           Dalam mempergelarkan wayang kulit Ki Dalang duduk bersila dalam naungan sinar Blencong, berhadapan dengan bentangan kain putih yang disebut Kelir, berhiaskan Simpingan-Wayang yang simetris tertancap di Gedebog. Di sebelah kiri dalang tersedia Keprak, Kotak Wayang, dan Cempala yang terbuat dari kayu (galih) untuk Dhodogan. Sang Dalang dalam mengkisahkan Lakon sering diiringi dengan Sulukan sebagai syair/ nyanyian yang dilantunkan untuk menghadirkan nuansa dan suasana tertentu. Di dalam sulukan ber-bahasa Kawi terangkai dengan: ‘ada-ada, sendon, bendhengan, kombangan’. Dalam kaitan dengan hal-hal ini, Dalang menyampaikan Janturan atau Pocapan berupa narasi tentang Lakon Wayang; diiringi dengan Gendhing, sebagai sebuah orkestra yang mengalunkan lelangen swara oleh seperangkat Gamelan, dan disemarakkan oleh bebe-rapa  Pesindhen,  Niyaga, dan  Wira Swara.

 

 

            Dari aspek kesejarahan, peran dalang dalam pewayangan telah mengalami banyak perubahan. Pada waktu ini, klasifikasi atau sebutan untuk dalang telah menjadi bermacam-macam. Predikat Dalang Jati, Dalang Purba, Dalang Wasesa, Dalang Guna, dan Dalang Wikalpa, sudah ‘menjadi cerita masa lalu’, karena kurang dekat dengan konteks kekinian.  Dewasa ini telah terjadi evolusi perubahan dan pergeseran sebutan, dari ‘Dalang Pakem, Dalang Tradisional, Dalang Wejangan, Dalang Nges, Dalang Gandem, dan Dalang Cucut’, ke arah sebutan dalang yang lebih populer sesuai dengan permintaan pasar maupun trend masa kini, antara lain: Dalang Sabet, Dalang Setan, Dalang Edan, Dalang Spektakuler, Dalang Mbeling, dan lain-lainnya.

               Dalam pewayangan terkandung nilai-nilai: keadiluhungan, filsafat, religio spiritual, etika, moral, seni budaya, dan lain-lain. Hazim Amir (1991)  dalam bukunya ‘Nilai-nilai Etis Dalam Wayang’, melukiskan gambaran atau citra Raja yang ideal, Ksatria yang ideal, Pandhita yang ideal, Kawula yang ideal, untuk selalu melaksanakan dharma-dharmanya, tugas dan kewajiban dalam gumelarnya kehidupan. Hazim Amir juga menguraikan adanya 20 (dua puluh)  nilai-nilai etis yang  terkandung  dalam  pewayangan, yaitu meliputi:

‘Kesempurnaan sejati, Kesatuan sejati, Kebenaran sejati, Kesucian sejati, Keadilan sejati, Keagungan sejati, Kemercusuaran sejati, Keabadian sejati, Keteraturan Makro-kosmos sejati, Keteraturan Mikrokosmos sejati, Kebijaksanaan sejati, Pengetahuan sejati. Kesadaran dan Keyakinan sejati, Kekasihsayangan sejati, Ketanggungjawaban sejati, Kehendak, Niat dan Tekad sejati, Keberanian, Semangat dan Pengabdian sejati, Kekuatan sejati, Kekuasaan dan Kemerdekaan sejati, dan Kebahagiaan sejati’.

              Dalam pergelaran wayang, peran dalang sangat mewarnai pewayangan dan pake-liran. Dinamika dan perkembangan di jagad pewayangan dan pakeliran secara perlahan terus berubah. Dari fenomena yang nampak, ada elemen pakem atau paugeran pewa-yangan yang dipertahankan, tetapi ada juga yang  mulai diubah, diringkas, atau disesuai-kan. Filosofi, arti dan makna pewayangan  juga telah mengalami evolusi perubahan. Nilai-nilai atau keadiluhungan wayang mulai tergerus oleh tuntutan dan dinamika jaman. Dimensi nilai sebagaimana diuraikan oleh Hazim Amir, mulai banyak dilupakan atau disisihkan. 

               Dewasa ini formula atau substansi pewayangan dan pakeliran, yang terdiri dari: ‘Tatanan, Tuntunan dan Tontonan’ mulai sulit untuk diwujudkan secara serasi dan seimbang. Usai pergelaran wayang, banyak pertanyaan atau penilaian yang sering muncul, antara lain: ‘pentas wayang  koq ora ana rasane’. Paska pagelaran wayang ada juga yang bertanya: ‘iki mau lakone apa?’.

 

               Jagad pakeliran selama sepuluh tahun terakhir ini, banyak sekali perubahan yang menerjang paugeran wayang. Fenomena perubahan tentang hal ini, banyak diuraikan oleh Dhanang Respati Puguh dalam makalahnya yang berjudul: ‘Dari Pakeliran Adiluhung Ke Pakeliran Glamor-Spektakuler’. Seiring dengan perkembangan zaman, telah terjadi peru-bahan format pakeliran. Banyak dhalang yang mulai mengambil langkah untuk melakukan ‘pembaharuan’ pakeliran. Trilogi pewayangan yang menjadi tema utama dalam Kongres Pewayangan  di Yogyakarta pada tahun 2005, yaitu: Tatanan, Tuntunan, Tontonan’, ada yang mengusulkan untuk  ditambah dengan istilah ‘tuntutan’ untuk memenuhi  permintaan atau selera pasar. 

                Dhanang Respati Puguh (2009) memerinci terjadinya perubahan format pakeliran, antara lain: (1) penambahan jumlah dalang dan penambahan lebar kelir pada pentas wayang; (2) penambahan pelaku pertunjukan, yaitu: pemusik, pelawak, pemain wayang orang, penari, penyanyi, dan pejabat pemerintah yang ditempatkan di panggung tersendiri; (3) masuknya beberapa instrumen musik non-gamelan sebagai sarana pendukung pertunjukan, antara lain: keyboard, drum, bass guitar, dan rhythm guitar; (4) hadirnya pemusik dan penyanyii campur sari, penyanyi dhang-dut, dan lain-lain.

               Pertunjukan wayang kulit tidak lagi dipusatkan pada kelir, tetapi mulai banyak dikedepankan pada atraksi bernuansa tetrikal, interaksi atau dialog antara dalang dengan pejabat, dialog antar seniman, dan unsur masyarakat yang menjadi pendukungnya. Suasana dialogis dalam pentas wayang mulai terbuka untuk seluruh komunitas pendukung dan penikmat pewayangan. Dalam pakeliran jenis ini terbuka ruang untuk mendaya-gunakan pewayangan sebagai media penyampaian berbagai pesan. Substansi atau muatan pesan yang disampaikan dalam adegan ini bisa beraneka ragam. Penyampaian pesan untuk mendukung pencapaian sasaran-sasaran dalam penyelenggaraan peme-rintahan dan pembangunan dapat dioptimalkan.

            Selain dari pada itu, sesuai dengan ‘karakter’ seorang dalang sebagai seniman yang apresiatif, apalagi di era transisi demokrasi yang lebih mem-beri kebebasan (kadang kala ditafsirkan untuk dapat berbuat ‘sebebas-bebasnya’), budaya kritik sering member warna format pakeliran ini. Itulah sebabnya, aspek tontonan menjadi lebih dominan daripada aspek tuntunan. Dimensi spiritual atau keadiluhungan dalam seni pewayangan mulai terpinggirkan. Dalam format pakeliran ini, nilai-nilai filosofis, pitutur luhur atau piwulang kautaman telah terlanda oleh dinamika dan kemajuan jaman.   

             Dalam format pakeliran ini, fenomena ‘pengarus-utamaan’ masalah dan persoalan keduniawian lebih menonjol dari pada pengutamaan aspek-aspek religio spiritual. Pewayangan yang kaya dengan nilai-nilai filosofis, etis, estetis dan paedagogis, mulai menipis dan terkikis.

 

             Dengan terkikisnya nilai-nilai filosofis, etis, dan estetis dalam pewayangan, bebe-rapa kalangan memprihatinkan kondisi seperti itu. Para pakar pewayangan juga me-lontarkan peringatan terhadap perubahan dalam pewayangan. H Bambang Murtiyoso (2010) memberi peringatan dalam sebuah artikel menarik di Solo Pos: ‘Jangan Main-main dengan Wayang’. Dalam kaitan dengan kondisi, situasi dan perubahan di ranah pewayangan, Ki B. Subono dalam ‘Dalang Goyang-Gendheng-Gendhung’, menggubah dalam geguritan yang khas dan tipikal Jawa, sebagai berikut :

                                                                                                            Wayangku

Wayangku wis dudu lakuning urip kang sejati/

Wayangku wis dudu pralampita/

Tus turasing janma kang tulus jiwa utama/

Wayangku wis kelangan adeg-adeg traping budaya/

Wayangku wis kelangan satriya-satriya pinandhita/

Wayangku mung dinggo srana mungkaring hawa nepsu/

Wayangku mung dinggo kudhung kedhok ing kekarepan/

Wayangku mung dinggo kudhung eden-eden simbul lelamisan/

Oh wayangku/

mesakake temen nasibmu/

Oh wayangku/

Werkudara njegur segara/ Gatutkaca prawira tama wis ora ana/

sing ana mung Durna cidra, Sengkuni maling/

Bilung ngejawantah/

Oh wayangku/

sing salah ki kowe apa dhalange/

yen dhalang-dhalang saiki padha wedi karo sing ndhalangi/

nanging ora wedi karo Sang Maha Dhalang/

wayang keplantrang/

kombak-kombul, kerut-katut ing lakuning jaman.

Keunggulan Pewayangan dan Pakeliran

                 Dalam mengidentifikasi keunggulan pewayangan dan pakeliran, perlu bersumber pada sejarah asal-usul wayang. Berkaitan dengan hal ini, ada dua pendapat yang perlu diperhatikan. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir di Pulau Jawa. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga dari hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan dan pertimbangan mereka cukup kuat.

 

 

 

 

              Di antaranya adalah bahwa seni wayang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak ada di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), bukan dari kasanah  bahasa lain.

 

              Sementara itu, pendapat ke dua menduga bahwa wayang berasal dari India, yang dibawa  bersamaan  dengan  masuknya  agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India. Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pewayangan banyak menyebutkan bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, bukan dari negara lain.

 

             Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012),  tatkala kerajaan di Jawa Timur itu sedang mengalami kemakmurannya. Karya sastra yang menjadi sumber cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, pada abad ke X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin yang berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910). Dari perjalanan sejarah dan budaya wayang yang sudah berabad-abad lamanya, sampai dengan sekarang ini wayang masih eksis, di-nikmati dan disenangi oleh masyarakat. Sungguh banyak nilai-nilai (values) yang bermutu tinggi dalam kandungan pewayangan  dan  pakeliran .

 

               Dalam hal wayang yang telah menempuh sejarah panjang, wayang Indonesia telah dikukuhkan UNESCO-PBB sebagai ‘Masterpiece of Oral and Intangibel Heritage of Humanity”  tanggal 7 November 2003, di kota Paris Perancis. Dengan pengukuhan itu, merupakan prestasi budaya bangsa Indonesia yang sangat membanggakan. Penetapan oleh UNESCO, antara lain didasarkan pada alasan dan pertimbangan sebagai berikut: 

1.  Memiliki nilai-nilai yang luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia;

2.  Berakar dalam tradisi budaya atau sejarah budaya masyarakat yang bersangkutan;

3.  Berperan sebagai sarana penanda jatidiri bangsa yang berfungsi sebagai sumber inspirasi  untuk pertukaran  budaya, dan peran  sosialnya  untuk  masyarakat;

4.  Kegunaannya  dalam penerapan keterampilan d an sifat  teknik yang diperlihatkan;

5.  Peranannya  sebagai  tradisi budaya  yang  hidup ditengah-tengah masyarakat;

 

6.  Resiko budaya yang bisa terkikis atau mungkin ‘punah’ karena terkendala dengan sarana  untuk  melestarikan  dan  melindunginya.       

              Wayang  yang diakui oleh UNESCO PBB bukan hanya wayang Jawa tetapi wayang Indonesia, termasuk dalam hal ini wayang Bali, wayang golek Sunda, wayang Lombok, dan lain-lain. Wayang yang lebih dikenal di Indonesia adalah wayang kulit purwo yang terbuat dari kulit hewan yaitu sapi, lembu, atau kambing. Bentuk wayang sangat menarik untuk dilihat atau diamati, karena memiliki keindahan artistik, terutama pada rumitnya pahatan dan pewarnaan wayang (tatah kulit, tatah sungging).

           Cerita atau lakon-lakon yang dimain-kan berkisah tentang dewa-dewi, raja-raja, ksatria-ksatria, pendeta atau resi, aneka kisah tentang peperangan, kepahlawanan, perebutan kekuasaan, kisah percintaan, aneka satwa, lingkungan, dan lain-lain. Kandungan nilai-nilai dalam pewayangan sangat tinggi mutunya. Keadiluhungan dan nuansa dalam pewayangan dan pakeliran, yang hidup dalam waktu  berabad-abad lamanya telah diakui, dikagumi, dan menarik perhatian  para  pakar, atau  peneliti  barat.

            Dalam disertasinya yang berjudul ‘Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel’ (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keya-kinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan wewayangan, apabila dilihat bayangannya di balik kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang. Dalam pewayangan ada pandangan menarik yang perlu dan layak untuk diperhatikan yaitu peran dan fungsinya sebagai refleksi keanekaragaman kehidupan, moralitas dan karakter manusia.

 

           Melalui wayang  dapat dibaca karakter masing-masing. ‘Pluralitas moral’ digambarkan dalam tokoh-tokoh wayang yang dipergelarkan dalam pentas wayang (Benedict ROG Anderson, 1965). Dalam pergelaran wayang dapat dilihat bermacam-macam  rupa dan karakter wayang. Perbedaan tersebut perlu dilihat bukan hanya segi visual tetapi arti dan maknanya yang beraneka ragam. Melalui cerita atau lakon yang digelar, wayang merupakan lambang dari kisah-kisah perjalanan  kehidupan manusia.  

 

           Pergelaran wayang semalam suntuk maupun untuk pakeliran padat dengan durasi waktu 2 (dua) atau 4 (empat) jam, peran Dalang dan Lakon  mempunyai kedudukan penting dan strategis. Lakon-lakon dalam pewayangan dibingkai dalam pakem sebagai : pathokan, paugeran atau wewaton. Pada dasarnya pakem dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian, ialah: (1). Lakon wayang yang disebut pakem; (2). Lakon  wayang  yang  disebut  carangan; (3). Lakon wayang yang disebut gubahan

 

 dan (4). Lakon wayang yang disebut karangan.  Dalam  pergelaran  wayang,  lakon  atau  cerita  memegang  peran  penting.

Suasana, nuansa keindahan, dan semaraknya pakeliran  terletak ditangan sang  dalang.               

 

            Wayang sebagai representasi ‘karakter manusia’ yang menjadi lakon wayang (Sri Mulyana, 1981), tidak dapat dipisahkan dengan peran Dalang yang harus mumpuni atau lebda ing kawruh, ngelmu, pangawikan, lelungidan, filsafat, etika dan moral. Oleh karena itu Dalang menempati posisi yang sangat strategis sebagai ‘agent’ untuk menanamkan dan menginternalisasikan nilai-nilai etika dan moral. Dalang merupakan ‘aset dan modal sosial’ yang dapat didayagunakan dalam rangka pembangunan karakter atau pekerti Bangsa. Dalam pewayangan dan pedalangan banyak sekali nilai-nilai, ajaran, dan wulangan yang dapat dijadikan masukan (input) untuk pembangunan karakter bangsa.

 

          Apabila dikaitkan dengan tradisi ritual, dewasa ini masih banyak dijumpai pergelaran wayang dalam rangka Ruwatan, Merti Bumi, dan Bersih Desa di bulan Sura atau Ruwahan. Dalam konteks ini pewayangan dapat  menjadi wahana  sebagai pembebasan atau penyucian diri dari dosa, atau  agar terbebas  dari  ‘sukerta’.

 

           Dari sudut pandang visual seni lukis, wayang mempunyai pesona yang unik Jawa. Beberapa pakar mengagumi keindahan dan keunikan seni lukisnya. Ratusan tokoh wayang terlukis dengan indah dan beragam sebagai representasi keaneragaman karakter manusia. Keindahan dan keunikan lukisan terdapat pada jenis-jenis Gunungan atau Kayon yang beraneka ragam. Dimensi filosofis Kayon tidak hanya bermakna religio spiritual tetapi juga kekayaan di ranah lingkungan alam. Pewayangan  telah menjadi sumber penciptaan karya seni lukis yang tinggi mutunya. Sehingga bentuk dan variasi seni lukis pada wayang  banyak yang dituangkan pada logo, tetenger bangunan, motif kain batik dan kaos, ukiran kayu  untuk sekat  ruangan,  kaligrafi wayang, lukisan kaca, dan lain-lainnya.

 

            Dalam kaitan dengan keunggulan pewayangan dan pakeliran, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian SENA WANGI Drs. H. Solichin (2003) dalam buku ‘Karya Agung Budaya Dunia’, menjelaskan bahwa wayang merupakan salah satu unsur jatidiri bangsa Indonesia. Dalam pergelaran wayang dijumpai 5 (lima) unsur, yaitu (1) Seni Cipta <konsepsi dan ciptaan baru>; (2) Seni Pentas <drama dan karawitan>; (3) Seni Kriya <pahat dan lukisan>; (4) Seni Ripta <sanggit dan kesusastraan>; (5) Seni Widya <filsafat dan pendidikan>. Selanjutnya juga dinyatakan bahwa pewayangan dan pedalangan mempunyai peran yang bermakna dalam ranah seni budaya. Melalui keunggulan pewayangan dan pakeliran, pesan-pesan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan  dapat  disosiali-sasikan.

 

 

 

 

Dalang, Pesindhen, dan Pewayangan di Era Kesejagatan

 

            Dalam perjalanan sejarah, keberadaan ‘Dalang-Pesindhen-Pewayangan’ masih eksis dalam kehidupan masyarakat. Ke tiga hal tersebut, telah menjadi ikon yang  kuat daya tariknya untuk berbagai keperluan. Dalam menyikapi dan member-dayakan ke tiga hal tersebut, ada dua acuan sikap yang layak untuk dipertimbangkan. Dalang-pewayangan-pakeliran, perlu dilihat dalam perspektif konservatif. Artinya, warisan atau karya budaya yang telah menjadi jatidiri bangsa  tetap diuri-uri dan dilestarikan.

 

            Dalam hubungan dengan hal ini, pewayangan telah menjadi lambang atau simbol yang  memasuki atau menembus inti permasalahan manusia yang sangat universal, yaitu: (1). masalah etika dalam pergulatan manusia mencari nilai yang membedakan antara baik dan buruk; (2). masalah hubungan manusia dengan alam dan penciptaNya; (3). masalah hubungan manusia dengan Dhat yang sifatnya fana maupun Yang Mutlak.

 

           Apabila dikaitkan dengan persoalan kekuasaan dalam pemerintahan, sungguh banyak ajaran kenegaraan atau kepemimpinan yang layak untuk diimplementasikan. Sebagai contoh adalah  ajaran Hasthabrata dalam lakon Wahyu Makutharama. Untuk itu, dalam acuan pemikiran pertama, nilai-nilai filosofis dan keadiluhungan yang ada dalam pewayangan perlu dilestarikan dan didayagunakan  sebagai  masukan  untuk  pem-bangunan  watak  dan  pekerti bangsa.

 

           Acuan sikap yang ke dua adalah memandang ‘dalang-pewayangan-pakeliran’ dalam perspektif progresif dengan wawasan masa depan. Dengan pendekatan progresif, akan mendorong kita untuk melakukan inovasi dan pembaharuan. Dimensi ‘tatanan-tuntunan-tontonan’ tetap dijaga dan dikembangkan secara seimbang sesuai dengan perkembangan pada aspek ‘dalang-pewayangan-pakeliran’.

 

           Di tengah gelombang dahsyat globalisasi, dan pesatnya kemajuan teknologi informasi, wayang mempunyai pesona dan dapat diinovasi. Dalam hubungan dengan hal ini, garap  pewayangan dan pakeliran perlu mendayagunakan teknologi informasi. Dalam hubungan ini ada pandangan menarik dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Faruk, S.U (2010), di Balai Senat UGM yang berjudul ‘Sastra dalam Masyarakat (ter-)Multimedia(-kan)’. Ada beberapa ilustrasi dalam  pidato pengukuhan ini, antara lain: masyarakat Indonesia belum menjadi masyarakat yang dengan budaya aksara yang kuat. Masyarakat Indonesia telah benar-benar termultimediakan. Salah satu fenomena yang unik adalah lahirnya watak ‘tembak langsung’ dari budaya lisan ke budaya multi media. Perubahan yang demikian sudah terbukti di dalam seni pertunjukkan wayang kulit sebagaimana dapat disimak dalam buku Umar Kayam  (2001) yang berjudul ‘Kelir Tanpa  Batas’.

 

 

‘Fenomena ‘Dalang Setan’, Ki Manteb Sudarsono, memperlihatkan munculnya sebuah generasi baru dengan sensibilitas yang berbeda dari, misalnya, penggemar Anom Suroto di tahun 1970-an, apalagi dengan wayang ruwat. Generasi ini pula yang menjadikan wayang kulit mutakhir menjadi ‘kelir tanpa batas’ karena ke dalamnya dapat masuk aneka peralatan dan permainan musik, aneka seni pertunjukkan, yang membuat wayang kulit menjadi multi pertunjukkan’.

            Dari beberapa hal yang terdapat dalam buku ‘Kelir Tanpa Batas’, ada yang layak untuk  direnungkan. Dalam wayang kulit purwo gaya Surakarta, Yogyakarta dan Jawa Timur telah mengalami pemudaran pakem dan bentuk estetiknya. Seiring dengan berubahnya jaman, beberapa pakem mulai mencair. Hal ini dipengaruhi oleh menipisnya batas antara dunia panggung dengan komunitas penonton sebagai penikmat wayang  di luar panggung. Kelir tanpa Batas melambangkan perum-pamaan bahwa kajian dan wacana mengenai wayang kulit tak akan pernah selesai. Walaupun dalam perubahan itu sering memunculkan perdebatan dan mengundang pro-kontra; wayang kulit akan tetap ada dan bertahan dengan perubahannya. Arti, makna dan perlambangan ‘kelir tanpa batas’  benar-benar  telah terjadi dan nam-paknya akan  terus  terjadi  dalam  setiap  perubahan  budaya.

 

            Pada era Orde Baru, pewayangan sering dimanfaatkan  sebagai media untuk me-nyampaikan pesan-pesan pembangunan. Dalam rangka menumbuh-kembangkan budaya membangun, pentas wayang digelar atau disiarkan secara teratur. Pada waktu itu Radio Republik Indonesia  (RRI) secara teratur menyiarkan pergelaran wayang setiap bulan. Perhatian pemerintah terhadap Lembaga Pembina Seni Pedalangan (GANASIDI) dan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI) cukup besar, antara lain dengan menyelenggarakan pentas wayang secara teratur di beberapa anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII),  dan dibangunnya Gedung Pewayangan Kautaman. Pada masa Orde Baru, penyediaan anggaran untuk pewayangan dan pakeliran ditingkatkan setiap tahunnya.

 

            Dalam perkembangan sampai dengan sekarang, pewayangan masih didaya-gunakan sebagai media penyampaian pesan-pesan pembangunan. Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN)  beberapa kali menggelar pentas wayang untuk mensosi-alisasikan bahaya narkoba kepada masyarakat.

 

           Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan Perum PERURI, secara teratur menggelar pentas wayang untuk mensosialisasikan tentang keaslian uang. BKKBN juga mengundang atau nanggap dalang  untuk melakukan sosialisasi tentang kependudukan dan KB. Departemen Luar Negeri secara insidental juga menyeleng-garakan pergelaran wayang kulit berbahasa inggris untuk memperkenalkan wayang kepada para Duta Besar dan Konsulat  dari Negara Sahabat.

 

 

 

           Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) juga menyelenggarakan pentas di beberapa daerah untuk mensosialisasikan 4 pilar kenegaraan yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika. Kementerian Informasi dan Komunikasi, Lembaga Perlidungan Saksi dan Korban (LPSK), dan beberapa Kementerian  lainnya juga mengundang para dalang dari berbagai Provinsi, dalam rangka sosialisasi program-program dikementeriannya. Menjelang diselenggarakannya Pemilihan Umum atau Pemilihan Kepala Daerah, beberapa kekuatan sosial politik juga mengadakan pergelaran wayang  untuk  kepentingan  kampanye.

 

            Beberapa Pemerintah Provinsi atau Kabupaten/Kota  di luar Jawa, yang sebagian penduduknya merupakan transmigran dari Jawa, banyak yang masih menyelenggarakan pentas wayang untuk berbagai keperluan. Dengan masih dipergelarkannya pentas-pentas wayang tersebut, menandakan bahwa ‘dalang-pewayangan-pakeliran’, masih memiliki nilai lebih dan memberi ruang untuk berbagai keperluan dan kepentingan. Sehubungan dengan masih adanya potensi, nilai lebih, ruang, dan peluang untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, peran dalang dan pewayangan perlu didayagunakan secara teratur untuk mengenalkan kebijakan  baru  dalam  penyelenggaraan  pemerintahan.

 

             Dalam hubungan dengan upaya dan langkah-langkah di bidang kebudayaan, ada beberapa kegiatan  yang  dilakukan  oleh  Kementerian Pari-wisata, Kementerian Luar Negeri, SENAWANGI dan PEPADI yang perlu dan layak untuk disimak dan diperhatikan sebagai masukan untuk promosi wisata dan pengenalan aneka ragam  budaya di daerah.  Pergelaran  wayang  terasa  semakin  menarik paska  beberapa  kegiatan  sebagai berikut:

 

           Pertama, paska penerimaan penghargaan ‘Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity dari UNESCO”, pada tahun 2008 telah diselenggarakan Festival Wayang Internasional yang menampilkan wayang dalam wajah yang lebih modern dan teatrikal. Dalam festival yang berlangsung selama lima hari ini, diikuti oleh sembilan negara anggota ASEAN yaitu: Malaysia, Laos, Singapura, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Filipina, Thailand, dan Indonesia. Brunei Darussalam, yang belum memiliki wayang, datang sebagai peninjau. Selain mempergelarkan  wayang dalam bentuk pakeliran padat, festival diisi  dengan acara  simposium  dan  pendeklarasian  Asosiasi Wayang ASEAN.

 

          Ke dua, Konsulat Republik Indonesia di Darwin memperkenalkan  permainan  gamelan Jawa kepada siswa dari sejumlah sekolah di Australia, melalui lokakarya gamelan dan seni  Budaya Nusantara. Paska lokakarya ditindaklanjuti  dengan  workshop dan kegiatan promosi  seni budaya Indonesia dengan lokasi di sekolah-sekolah: Darwin Middle School, SMA Darwin, dan John Olighin Catholic College.

 

 

 

            Ke tiga, pada bulan Juni tahun 2010 telah dilaksanakan pergelaran Wayang Kulit di Pinggir Telaga Prancis. Kurang lebih 800 orang warga kota Lailly En Val, Prancis, berbondong-bondong menyaksikan pagelaran wayang kulit petikan dalam cerita Ramayana yang dipersembahkan grup wayang kulit Wilis Prabowo pimpinan Widodo dari Wonogiri, Jawa Tengah. Pertunjukan dilangsungkan di bawah sinar bulan purnama di pinggir telaga kota Lailly en Val. Salah satu keunikan dalam pertunjukan wayang kulit ini adalah disisipkannya dialog-dialog  dengan  bahasa  Prancis.

 

           Ke empat,  pada  bulan Oktober 2010 di Melbourne Australia diseleng-garakan pentas wayang garapan Ki Poejiono OAM dengan tajuk “Shadows to Life” bertempat di Great Hall National Gallery Victoria, sebuah galeri dan museum prestisius kelas dunia dimana karya seperti Van Gogh, Picasso, Rembrandt ataupun Leonardo Da Vinci dipamerkan. Pagelaran dengan The Ramayana: The Fall of Alengka dibagi menjadi 8 adegan. Tiga adegan ditampilkan dalam bentuk sendratari, 5 adegan disajikan dalam wayang kulit oleh seorang dalang warga negara Australia kandidat PhD Melbourne University, Ms. Helen Pausacker, BA (Hons), dan BLitt, MA.

 

          Ke lima, pada bulan Februari 2010 telah diselenggarakan pergelaran wayang kulit dengan lakon Bima Suci di pusat kerajinan tangan internasional Weltladen, Hamburg Jerman. Dialog wayang menggunakan bahasa Jerman yang didahului kata pengantar mengenai cerita Bima Suci. Para pecinta seni Jerman yang baru pertama kali menyaksikan langsung wayang kulit, mengagumi  kreatifitas dan  ketangkasan dalang Maharsi serta iringan musik gamelan  dan  suara merdu Pesinden yang dibawakan oleh Sanggar Seni Margi Budoyo binaan  KBRI  Hamburg.

 

         Ke enam, mengawali musim semi “Spring” tahun 2010, komunitas gamelan Jawa, Depar-temen Music, Otago University of Dunedin, Selandia Baru menggelar sebuah pertunjukkan wayang kulit (shadow puppet) gaya Jawa Tengah bertajuk “Puppets & Percussion”. Pagelaran padat wayang kulit menggunakan dialog bahasa Inggris berdurasi sekitar 2 jam, disajikan oleh dalang Ki Dr. Joko Susilo, yang diiringi gamelan live Puspawarna Community Gamelan, bertempat di Art Gallery (24/9), yang terletak di pusat  kota Dunedin dan menampilkan sebuah cerita “Alap-alapan Surtikanti” petikan dari episode Mahabarata.

 

         Ke tujuh, pada bulan Maret 2011 Dalang Ki Ledjar Soebroto dari Yogyakarta menggelar pertunjukan wayang kulit ‘Willem van Oranje’  di Museum Nusantara, Delft, Belanda. Ananto Wicaksana, cucu Ki Ledjar Soebroto dalam keterangannya menyebutkan, Wayang Williem van Oranje merupakan maha karya Ki Ledjar Soebroto yang secara khusus dipesan oleh Museum Nusantara. Selain pementasan wayang ciptaan Ki Ledjar Soebroto, juga dipa-merkan wayang ciptaannya di Museum Nusantara yang terletak di dalam satu kompleks di Princenhof  Museum.

 

          Ke delapan, Ton van Oevelen, seorang pria Belanda yang tidak punya hubungan sama sekali dengan Indonesia, sejak usia mudanya sudah tertarik dengan wayang. Mulai tahun 1983 Ton van Oevelen mulai membeli wayang dan tertarik dengan membaca buku tentang cerita-cerita wayang. Ia terkesan dengan lukisan dan pahatan yang sangat halus, sesekali ia juga menggelar pameran dengan menampilkan wayang-wayang yang dimilikinya. Sudah ada 400 koleksi wayang yang dikumpulkan olehnya. Setiap ada kesempatan berkunjung ke Indonesia, ia selalu meluangkan waktu  untuk melihat  pergelaran wayang.

 

         Sungguh banyak data yang menunjukkan bahwa dalang, pesindhen, wayang, gamelan, dan seniman  pedalangan yang telah memperlihatkan perannya di luar negeri. Mulai tahun 1950-an, sudah ada gamelan Jawa satu set di University of California Los Angeles (UCLA). Profesor Etnomusikologi Mantle Hood, murid Jaap Kunst (orang Belanda yang membuat buku Music in Java), telah menanamkan benih karawitan. Sampai dengan  sekarang  sudah  ada  sekitar  600 set gamelan Jawa, Bali,  dan  Sunda.

 

           Kegiatan yang berkaitan dengan ‘dalang-pewayangan-pakeliran’, telah tersebar di ‘seluruh’ dunia. Selain dari pada itu banyak mahasiswa dari luar negeri yang mengikuti kuliah di Institut Seni Indonesia, (ISI) khususnya di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali. Dalang, Pesindhen dan pewayangan telah mengglobal sejak lama. Potensi yang dimiliki sungguh besar untuk didayagunakan melalui promosi di luar negeri. Promosi budaya oleh para Dalang, Pesindhen mealui pergel;aran wayang  yang berkelanjutan di luar negeri, merupakan langkah penting di era kesejagatan. Bersamaan dengan itu, penyelenggaraan festival  wayang  tingkat  ASEAN atau festival tingkat ASIA dipandang perlu diselenggarakan secara  teratur  dan  berkelanjutan.

 

           Di tengah-tengah pesatnya kemajuan teknologi dan informasi di era kesejagatan,  peranan yang perlu dimainkan oleh  para Dalang, Pesindhen dalam pewayangan perlu ditingkatkan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam kerangka ini peningkatan promosi  pariwisata  khususnya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata di negeri ini, perlu dilakukan evaluasi secara terencana dan berkesinambungan. Kegiatan promosi yang telah, sedang, dan akan dilakukan, perlu sinergis dengan upaya peningkatan industri budaya dan pariwisata,  serta kegiatan ekonomi kreatif lainnya. Kegiatan promosi budaya dan wisata secara berkelanjutan (sustainable promotion)  perlu ditempatkan dalam garda terdepan di era kesejagatan.

 

Penutup

 

          Peningkatan peranan Dalang, Pesindhen dan keunggulan pewayangan di era kesejagatan, memerlukan upaya-upaya yang sinergis di antara Satuan Kerja Pemerintah  Daerah (SKPD)   bersama   institusi   pendidikan  seni  budaya  seperti

 

 

  ISI, Kraton, Dewan Kesenian, dan Sanggar-sanggar  Kesenian yang ada di daerah.  Bersamaan  dengan hal itu,       

diperlukan kegiatan penelitian dan pengembangan (LITBANG) Seni pertunjukan tradisional, yaitu Wayang Orang (Wayang Wong), Kethoprak, Tari, Karawitan, dan lawak (Dhagelan). Penggarapan secara sistemik melalui peningkatan kualitas manajemen dan pendayagunaan teknologi informasi sangat diperlukan.

 

          Dalam meningkatkan Peran Dalang, Pesindhen dan Keunggulan Pewayangan, dan upaya revitalisasi dan aktualisasi pertunjukan tradisional  lain di Era Kesejagatan, Kehadiran Negara sangat diperlukan. Payung Hukum yang berupa Undang-Undang, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, dan Peraturan Daerah,  dengan muatan  ‘Pelindungan, Pembinaan, Pengembangan, dan Penge-lolaan Seni Budaya’, sudah  sangat  mendesak  untuk  diterbitkan.    

 

 

Daftar Kepustakaan

  1. Amir, Hazim, Dr MA, Nilai-nilai Etis dalam Wayang, Sinar Harapan,1991, Jakarta
  2. Anderson, ROG Benedict, Mitologi dan Toleransi Orang Jawa, Qalam, 2000, Yogyakarta
  3. Sri Mulyana, Ir , Wayang dan Kharakter Manusia, Gunung Agung, Jakarta
  4. H Bambang Murtiyoso, SKar MHum, Pakeliran Sebagai Media Penyampaian Informasi Publik Di Era Global, Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, 2009
  5. Dhanang Respati Puguh, Drs, MHum, Dari  Pakeliran Adiluhung Ke Pakeliran Glamor Spektakuler, makalah 2009
  6. Sri Mulyana, Ir. Wayang: Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya, Penerbit Gunung Agung, 1978Jakarta
  7. Groenendael, Victoria M. Clara van. 1987. Dalang di Balik Wayang. Jakarta: Grafiti Pers
  8. Senawangi, Wayang  Karya  Agung Budaya Dunia, Jakarta, 2004
  9. Seno Sastrohamijoyo, Prof Dr, Pertunjukan Wayang Kulit, 1964
  10. Faruk SU, Prof Dr, Sastra Dalam Masyarakat (ter) Multi media (kan), Pidato Pengukuhan Guru Besar, UGM, 2010
  11. ANTARA News, Jakarta, 2008, 2009, 2010, 2011
  12. Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas dan berbagai Web Site (laman) di Internet antara lain: indonesiaproud, asianart.org,  its.ac.id, seputar-indonesia.com, antaranews.com, Cyber news, dll

 

 

 

 

 

 

Fri, 11 Nov 2016 @18:34


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+5+6

Copyright © 2018 Pepadi Jateng · All Rights Reserved