Sugeng Rawuh
image

PEPADI JATENG


Hambangun budi pakarti tumrap jagad pewayangan
Unduhan
Pengunjung

Wayang dalam Perubahan

Wayang: Di Balik Bayang-bayang Perubahan

Bambang Sulistyo, Gatra 14/03/08

Pemenang kategori feature bidang Seni dan Musik

Lebih dari 3.500 tahun, wayang bertahan mendampingi perubahan peradaban. Ia hidup, tumbuh, dan berkembang bersama problematika masyarakatnya. UNESCO mengukuhkan wayang Indonesia sebagai Karya Agung Warisan Budaya.

“SEBAGAI sebuah pertunjukan, wayang berada di ambang kematian,” ujar Bambang Murtiyoso, di antara hiruk-pikuk persiapan pertunjukan wayang di Jakarta, awal pekan lalu. Pakar seni pedalangan dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, Jawa Tengah, itu mengulang kembali ramalan yang didengungkan lima tahun silam.

Kemudian, Bambang, 61 tahun, dengan jenaka bercerita tentang “kegagalannya” mewariskan kecintaannya terhadap wayang kepada dua dari empat anaknya. Dua buah hatinya yang kini kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan Universitas Sebelas Maret, Solo, itu tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada wayang.

Padahal, Bambang sudah berusaha keras mengakrabkan anak-anaknya dengan wayang, sejak mereka masih balita. Ia berkisah tentang wayang dan nilai-nilai kearifannya, sebagai pengantar tidur bagi anak-anaknya. Memperdengarkan kaset rekaman wayang, mempertontonkan video pertunjukan wayang.

Setelah anak-anaknya bisa membaca, Bambang pun menyodorkan buku-buku wayang kepada mereka. Apa boleh buat, sang anak menolak mentah-mentah. “Itu kan untuk orang masa lalu,” Bambang menirukan ucapan anaknya, sambil tersenyum kecut.

Tentu bukan pernyataan independen sang anak yang membuat Bambang, salah seorang penggagas wayang sandosa alias wayang berbahasa Indonesia, mengemukakan pernyataan kritis seputar eksistensi pertunjukan wayang. Ada beberapa tanda-tanda kematian wayang yang ia sarikan dari pengamatan dan penelitiannya.

Bambang, yang sudah puluhan tahun menggeluti wayang, giat meneliti kiprah para dalang dalam menyuguhkan wayang ke tengah masyarakat. Menurut catatannya, tanda kematian wayang paling penting adalah semakin semaraknya prilaku dan atau kecenderungan para dalang –terutama dengan reputasi tengahan dan bawah– sekadar menonjolkan aspek tontonan.

“Mereka mengabaikan kaidah tatanan dan tuntunan yang memuat nilai-nilai moral, kearifan, dan kecerdasan lokal,” Bambang Murtiyoso menegaskan. Malam itu, di hari pertama Kongres VII Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) yang berlangsung di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta, awal pekan silam, belum genap 24 jam saya mengenal Bambang Murtiyoso.

Sebelum itu, namanya sesekali saya temukan lantaran disebut-sebut dalam beberapa buku yang berisi hasil penelitian seputar wayang. Rasanya, seseorang tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenali sikap sinis dalam balutan kelakar sebagai daya tarik “tak bendawi” lelaki yang –disebut oleh Clara van Groenendael– sebagai keturunan kesembilan dari lurah-lurah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, ini.

Oleh karena itu, sangat mungkin bentukan kata “kematian” yang ia sematkan pada wayang sebagai sebuah pertunjukan tidaklah mengacu pada pengertian benar-benar “selesai”. Melainkan pernyataan model guyonan sinikal yang diharap mendapat tanggapan serius dari para penggiat wayang di Indonesia.

Idealisme, Pergeseran dalam Nostalgia

BERBINCANG tentang dinamika pewayangan dengan orang-orang –yang saya duga– mencintai wayang sungguh menyenangkan. Terutama ketika pandangan-pandangan kritis, penolakan, dukungan serta pujian yang mengiringi idealisme dan perubahan dalam dunia wayang disampaikan melalui kisah-kisah beraroma nostalgia atau ilustrasi-ilustrasi lugas dengan muatan kekinian.

Seperti cerita tentang intergritas dalang kondang Yogjakarta Ki Timbul Hadiprayitno. Bambang berkisah, suatu ketika di awal tahun 1990-an, ia dimintai tolong untuk mengundang Ki Timbul oleh keluarga seorang jenderal yang hendak mengadakan upacara ruwatan dengan pertunjukan wayang di Magelang.

Lima hari menjelang hari-H, pihak keluarga meminta dicarikan juga seorang pelawak untuk mendampingi dalang senior kelahiran tahun 1934 itu. Alasannya, pendekatan humor dalang kesayangan versi Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) tahun 1979 itu dianggap kurang rame, zonder hura-hura, dan kurang berselera masa kini.

“Setelah mencari ke sana-sini, akhirnya saya dapatkan pelawak Ranto Edi-Gudel,” tutur Bambang. Satu hari menjelang hari-H, Bambang memberitahu Ki Timbul soal pelawak pendamping di pertunjukannya itu. Reaksinya? “Nak, kamu ke Yogya sekarang, ambil uang muka yang sudah saya terima ini. Saya tidak ndalang tidak apa-apa,” Bambang menirukan suara Ki Timbul dalam percakapan lewat telepon.

Ki Timbul memang dikenal sebagai dalang yang punya integritas. Ia memilih bertahan untuk tidak mengikuti kecenderungan mendalang “hura-hura” dengan menghadirkan pelawak, orkes campursari, dan lain-lain.”Saya tidak peduli jenderal atau siapa pun, kalau saya ndalang ya ndalang . Kalau tidak lucu, tidak dibayar juga tidak apa-apa,” ujar Bambang masih menirukan ucapan Ki Timbul.

Lain lagi cerita yang dilontarkan Roesman S. Hadikusumo, Ketua Bidang Umum Sena Wangi ini mengaku beberapa kali kedatangan dalang yang “curhat” lantaran diminta penonton yang mendesaknya untuk segera menyediakan waktu buat campursari di tengah-tengah lakon. “Dan pada banyak peristiwa, penonton ikut bubar begitu campursari -nya rampung,” kata Roesman.

Atau cerita menarik dari tanah Sunda. Peneliti perkembangan wayang golek sunda, Cahya Hedy, 40 tahun, memaparkan dua pesinden termasyhur di tatar Pasundan, Upit Sarimanah, dan Titim Patimah yang fenomenal pada tahun 1960-an.

Masa itu, wayang golek mengalami stagnasi dan daya tarik pertunjukan wayang beralih dari dalang ke para pesinden. “Ketika itu, pesinden seperti Titim Patimah mendapat panggung khusus yang letaknya lebih tinggi dari posisi dalangnya,” pengajar Jurusan Karawitan di STSI Bandung ini memaparkan.

Dengan setting semacam itu, pamor dalang berada di bawah pesinden. Bahkan, sangat mungkin bayaran yang mereka terima pun lebih sedikit dari yang diterima pesinden pujaan penonton itu. Sebagai catatan, pada kurun itu, Upit Sarimanah dan Titim Patimah tidak saja dikenal karena sosok fisik dan kepandaiannya membawakan ketuk tilu, juga karena kualitas suaranya yang memikat.

Kondisi ini kira-kira mirip dengan kebanyakan pertunjukan wayang kulit Jawa lebih dari 10 tahun terakhir ini; ketika sejumlah dalang harus “bersaing” dengan penyanyi campursari , dangdut, pelawak, dan bahkan bentuk fisik tokoh-tokoh wayang rekaannya sendiri. Demi sebuah pertunjukan wayang, sejumlah dalang menggenjot habis-habisan aspek hiburan.

Sensor Wayang, Suara dari Kongres

SELAIN membaca sedikit buku tentang wayang dan berbincang santai dengan “pengamat perubahan dalang” seperti Bambang Murtiyoso, Roesman, dan Cahya, ada cara lain yang tidak kalah sederhananya untuk mencari tahu secuil persoalan aktual yang dihadapi jagat perwayangan Indonesia. Yaitu dengan berusaha betah duduk menyimak jalannya Kongres Sena Wangi ini dan berharap sedikit keberuntungan akan muncul cerita menarik.

Seperti Kamis sore dua pekan lalu, tepatnya pada sesi kedua kongres hari pertama. Bagian yang semestinya diisi dengan tanggapan para peserta kongres terhadap laporan pertanggungjawaban kerja pengurus Sena Wangi masa bakti 1999-2005 itu sempat dijadikan penyampaian unek-unek beberapa anggota masyarakat pewayangan.

Gatot, seorang peserta dari Banyumas, Jawa Tengah, angkat bicara soal kiprah dalang di daerahnya dalam menyemarakkan persaingan order tanggapan wayang. Ia mengilustrasikan, ada seorang dalang yang sudah deal harga Rp 4 juta dengan pihak yang akan menggelar pertunjukan wayang.

Eh, beberapa pekan sebelum pergelaran, ada dalang lain yang mendatangi orang yang punya hajat tadi. Si dalang ini menawarkan harga jauh lebih murah. Cuma Rp 2,5 juta. “Ini bentuk serobotan yang tidak beretika!” ujarnya dengan nada geram.

Kali lain, seorang peserta asal Nganjuk, Jawa Timur, mengemukakan unek-uneknya. Ia mengaku prihatin dengan fenomena dalang yang menyikapi zaman susah pasar seret tanggapan wayang dengan melakukan terobosan dangkal dan asal menghibur. Strategi verbal dan visual yang berkonotasi cabul menempati porsi besar pertunjukan wayang.

Sedangkan unsur cerita dan sastra tidak lagi menjadi perhatian dalangnya. “Mungkin dibutuhkan semacam sensor wayang atau tata krama dalang untuk mengendalikan terobosan-terobosan yang kebablasan itu,” ia menandaskan. Ada juga yang menyampaikan harapan tentang fasilitas pensiun buat para dalang sepuh.

Kemudian, ada keinginan menghidupkan kembali bahasa daerah sebagai salah satu bekal penonton untuk memahami bahasa ungkap wayang, program sosialisasi wayang di sekolah-sekolah, penerbitan berkala tentang pewayangan dan beberapa lainnya. “Secara umum, persoalan dunia wayang yang muncul dalam kongres kali ini tidak jauh berbeda dengan persoalan yang muncul dalam kongres sebelumnya,” kata seorang peserta sesaat setelah sesi yang unik itu rampung.

Perubahan yang Kekal

PROBLEMATIKA tersebut, seusang apa pun muatannya, sepertinya sudah menjadi salah satu bagian penting yang menandai eksistensi wayang dari masa ke masa. Disadari atau tidak, sesederhana apa pun, tradisi perubahan dalam pertunjukan wayang dipandang sama tuanya dengan usia wayang di Indonesia. “Pergelaran wayang di zaman Majapahit, apakah diungkapkan dengan bahasa Jawa yang kita gunakan sekarang ini?” ujar Bambang Murtiyoso dengan gaya retoris.

Jika perbandingan aspek linguistik itu dianggap berbau naif dan kurang intelek untuk memetakan kawasan perubahan, boleh disimak catatan Ketua STSI Solo, Prof. Dr. Soetarno, tentang salah satu tanda perubahan yang diusung maestro dalang Ki Narto Sabdo, pada tahun 1961-an. “Contohnya, Ki Narto mulai memasukkan unsur humor di awal lakon, bagian yang biasanya bernuansa sangat serius dan agung,” Soetarno menjelaskan.

Namun, perubahan yang dilakukan almarhum Ki Narto bersifat ke dalam atau kontemplatif dengan tetap mempertahankan pakem pakeliran (pentas) wayang kulit. “Lepas era keemasan Ki Narto, muncul Ki Manteb Soedarsono dengan orientasi visualnya yang mengandalkan gerak,” kata Soetarno.

Ki Mantep yang lihai dalam hal sabetan (memainkan wayang) itu mau pentas bersama dengan pelawak, penyanyi dangdut, dan penyanyi campursari . Ia bahkan membolehkan pelawak dan penyanyi dangdut beraksi di pangung wayangn kulit dengan berdiri dan berjoget di antara para pemain gamelan dan dalang yang duduk bersimpuh.

Sedangkan dalang papan atas lain, seperti Ki Anom Soeroto yang setia di jalur pakem ini, belakangan juga tidak menolak kehadiran bintang tamu dalam pentas wayang kulit. Ki Anom, yang dijuluki sebagai dalang “bersuara emas”, memberi tempat para pelawak seperti Timbul, Kirun, dan Ranto Edi-Gudel (almarhum) menyemarakkan panggungnya.

Ia juga mau menerima kehadiran penyanyi campursari dan keroncong seperti Wadjinah di pentasnya. Hanya saja, Ki Anom menolak jika bintang tamunya berdiri di atas pentas. Tapi dalam soal pakem pakeliran, Ki Anom dan Ki Manteb sama-sama masih setia pada pakem. Dua dalang kondang ini berusaha memadukan fungsi wayang sebagai tuntunan (pembawa pesan moral) dan wayang sebagai tontonan alias hiburan.

Berbeda dengan dalang muda yang muncul belakangan yang lebih mengedapan wayang sebagai hiburan. Misalnya, Ki Djoko Hadiwijoyo alias Ki Djoko Edan dari Semarang membawa grup musik dangdut ke dalam pentasnya. Ia juga menampilkan tokoh Gereng yang dimainkan oleh pemain wayang orang dari Ngesti Pandowo, Semarang.

Selain itu, Ki Djoko juga memeriahkan pakeliran dengan tata cahaya yang gemerlapan. Hal serupa juga dilakukan oleh Ki Warseno Slenk, adik kandung Ki Anom Soeroto. Sedangkan Ki Enthus Susmono dari Tegal mengusung gaya pentas wayang kulit pesisiran.

Dengan kualitas dan kuantitas yang beragam, perubahan itu ada dalam wilayah ”to be continued ”. Dari dalang senior menuju dalang generasi tengah, berlanjut ke dalang-dalang dari generasi lebih muda lagi yang kredibilitasnya mulai diukur secara akademis melalui indeks prestasi kumulatif.

Argumen di balik strategi perubahan yang diusung masing-masing dalang pun begitu variatif. Mulai urusan meningkatkan kualitas estetik sampai inovasi dengan pemanfaatan perkembangan teknologi. Tujuanya, lebih mendekatkan dan memopulerkan wayang ke tengah masyarakat, eksperimentasi independen dan atau altruistik, menyerap kecenderungan pasar, dan lain-lain.

“Dalang dan wayang sangat permisif pada perubahan,” begitu ditegaskan pengajar ilmu pedalangan di ISI Yogyakarta, Kasidi Hadiprayitno, putra Ki Timbul Hadiprayitno. Menyimak itu semua, saya jadi teringat kalimat yang pernah ditulis almarhum Umar Kayam di bab pendahuluan buku Kelir Tanpa Batas .

Tentu saja bukan bagian yang menyebutkan potensi wayang sebagai topik pembicaraan yang membosankan, melainkan kalimat yang menyatakan bahwa: “Wayang selalu berada dalam proses yang tidak kunjung berakhir.”

Sebagai karya manusia yang mulai dikenal di sekurang-kurangnya sejak abad ke-10 Masehi. Ada juga yang menyebut wayang telah hadir di bumi Nusantara sejak 3.500 tahun lampau. Selama itu pula, wayang memiliki kemampuan yang luar biasa lugas untuk senantiasa hadir dari waktu ke waktu, di tengah-tengah peradaban manusia. Bambang Murtiyoso menyebut wayang sebagai karya jenius.

Karya Agung Lisan dan Tak Benda

KARENA itu, pada tahun 2003, tepatnya tanggal 7 November, UNESCO, badan PBB yang begerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, memproklamasikan wayang Indonesia sebagai “karya agung warisan budaya lisan dan tak benda” (a masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity ).

Proses menuju penghargaan dunia itu menempuh jalan yang cukup berliku. Dibutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dimulai pada tahun 2001, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI, melalui Deputi Bidang Seni dan Film menugaskan Sena Wangi,untuk mempersiapkan pencalonan wayang Indonesia sebagai karya agung budaya tak benda itu.

Dari situ dibentuk tim riset yang diketuai oleh Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Sena Wangi, M. Sulebar Soekarman yang namanya lebih dikenal dalam khasanah seni rupa Indonesia sebagai pelukis.”Begitu banyak yang harus dilakukan, sangat sedikit waktu yang tersedia,” begitu Sulebar menceritakan situasi yang dihadapi tim-nya saat hendak memulai pekerjaan itu.

Dengan mempertimbangkan kriteria dan persyaratan yang tersurat dalam peraturan UNESCO tentang Proklamasi Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Tak Benda itu, Sena Wangi memilih lima dari sekitar 100 jenis wayang yang ada di Indonesia untuk diteliti.

Hasil riset yang dilakukan bulan April sampai Agustus 2002 itu dirangkum dalam sebuah buku bertajuk “Laporan Ringkas Riset dan Lampiran”, diseminarkan oleh para pakar dan seniman wayang sebagai medium pertanggungjawaban akademis, lantas dikirim ke UNESCO.

Lima Menguak Wayang

LIMA jenis wayang dipilih berdasarkan argumen yang berbeda namun secara umum menjadi suatu gambaran keberadaan wayang di Indonesia. Menurut Sulebar, wayang kulit Purwa Jawa dipilih karena dianggap berkembang dengan baik dan pesat.

Lalu wayang golek Sunda (Jawa Barat) sebagai jenis wayang yang populer dan didukung oleh masyarakatnya. Kemudian wayang Parwa Bali (Bali) karena tetap bertahan sebagai bagian ritual keagamaan. Lantas wayang Palembang (Sumatera Selatan) yang sudah punah dan membutuhkan upaya revitalisasi serius.Terakhir wayang Banjar (Kalimantan Selatan) yang hampir punah sehingga perlu upaya pengembangan.

Hasilnya: 18 juri meluluskan wayang, puppet theatre Indonesia, dengan predikat excellent dan diproklamasikan oleh UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Tak Benda. “Namanya tetap ”wayang” bukan puppet atau shadow puppet, ” ujar H. Solichin, yang kembali dipilih oleh Kongres Sena Wangi VII untuk menjabat sebagai Ketua Umum Sena Wangi periode 2006-2011.

Wayang adalah karya seni yang kompleks. Di dalamnya terkandung tidak kurang dari lima unsur kesenian yang berbeda, mulai seni pertunjukan, karawitan, sastra, ripta (kreativitas), dan widya (filsafat dan pendidikan).

“Paling esensial dari itu semua adalah kandungan bersifat adiluhung dalam wayang yang sarat dengan nilai-nilai moral dan falsafah yang sangat indah,” kata Sulebar merujuk pada materi deklarasi UNESCO tentang wayang.

Dalam buku Wayang: Asal Usul, Filsafat dan Masa Depannya , Ir. Sri Mulyono mendefinisikan wayang sebagai “bayangan”. Terdiri dari akar kata yang yang diberi awalan wa yang hanya memiliki fungsi dalam tata bahasa Jawa Kuno.

Setelah membolak-balik makna dan mempertimbangkan beberapa variasinya, Sri menyimpulkan bahwa kata bentukan ”wayang” mengandung pengertian “berjalan kian kemari”, ”tidak tetap”, ‘’sayup-sayup”, seperti substansi bayang-bayang.

Sementara itu, jika merunut pada fungsi arkaiknya, pertunjukan wayang (dalam konteks sejarah dikenali sebagai wayang kulit Purwa) merupakan bagian upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk memuja “Hyang”, yang dilakukan malam hari. Dilakukan oleh seseorang yang berfungsi sebagai perantara –pada perkembangannya kemudian disebut dalang– dengan memaparkan cerita-cerita dari leluhur.

Dalam buku yang sama dipaparkan bahwa “Hyang” atau “Danghyang” adalah sebutan untuk ruh-ruh paradoks yang bersemayam di gunung-gunung dekat pintu gerbang desa: suka memberi pertolongan dan perlindungan, namun juga suka menganggu dan mencelakakan manusia.

Merunut dari pengertian tersebut, kekuatan wayang terletak pada aspek abstrak simboliknya di semua tataran. Karakter tokoh-tokoh wayang adalah simbol dari begitu banyak kata sifat dengan berbagai derivatnya. Lakon wayang adalah simbol-simbol kehidupan.

Sedikit demi sedikit, saya mulai mengerti kerewelan para sepuh pecinta wayang yang merasa kehilangan kesempatan untuk mencerap nilai-nilai luhur dalam pertunjukan wayang –ketika mereka berhadapan dengan dalang– yang karena alasan tertentu memilih strategi yang serba gamblang dan nyata dalam mengemas pertunjukan wayang.

“Kalau yang abstrak-simbolis itu direaliskan, saya tidak akan menonton wayang lagi,” celetuk Bambang Murtiyoso dengan mimik jenaka. Saya jadi kian mengerti bahwa ia tidak sedang merajuk apalagi mengancam.

Lelaki tua yang mengaku di masa produktifnya pernah mendhalang saban malam berturut-turut selama tiga bulan itu lebih terlihat sedang melontarkan pernyataan simbolis.”Sek, sek, lakone opo, Pak…

Bambang Sulistiyo

Sun, 8 Jan 2012 @11:17


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 0+0+5

Copyright © 2014 Pepadi Jateng · All Rights Reserved