Sugeng Rawuh
image

PEPADI JATENG


Hambangun budi pakarti tumrap jagad pewayangan
Unduhan
Pengunjung

UNESCO untuk Wayang

Penghargaan UNESCO untuk Wayang

Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) adalah satu bentuk penghargaan badan dunia PBB (UNESCO) bagi karya budaya yang dianggap bernilai tinggi bagi peradaban umat manusia. Penyusunan daftar dimulai tahun 2001 dengan 19 karya budaya, dan ditambah lagi dengan 28 karya budaya di tahun 2003. Daftar UNESCO yang ketiga kali dikeluarkan tanggal 25 November 2005.
Wayang sebagai karya seni Indonesia, adalah seni bercerita tradisional asal Pulau Jawa yang dibawakan pencerita yang disebut dalang. Berdasarkan jenis boneka yang dimainkan dalang, wayang dibagi menjadi wayang golek, wayang kulit, dan aneka jenis wayang lain. Pergelaran wayang diiringi musik gamelan dengan cerita yang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana. Nah, wayang Indonesia telah diakui dunia dengan mendapat penghargaan Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2003.

Adalalah dalang kondang Ki Manteb Soedharsono yang mendapat kehormatan pentas di gedung UNESCO di Paris, Prancis dalam rangka penerimaan penghargaan Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity untuk wayang Indonesia. UNESCO adalah lembaga di bawah PBB yang mengurus persoalan pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan.

Meski pernyataan pemberian penghargaan itu terjadi tahun 2003, tetapi seremoni penyerahan penghargaan itu sendiri terjadi tahun 2004. Ketika itu, gending Kebogiro melantun di gedung UNESCO yang megah di pusat Kota Paris, berdekatan dengan Menara Eiffel yang menjulang tinggi. Gending itu mengalun mengiringi Direktur Jenderal UNESCO Koitchira Matsuura yang melangkah perlahan bersama Dubes UNESCO Bambang Soehendro, Dubes Prancis Adian Silalahi, serta Ketua Senawangi Solichin.

Gedung berkapasitas 1.400 tempat duduk yang biasa untuk sidang para wakil berbagai negara anggota UNESCO itu disulap menjadi gedung pertunjukan wayang kulit, menampilkan dalang Ki Manteb Soedharsono. Sebanyak 1.250 kursi terisi, sebagian lainnya memilih berdiri karena ingin melihat lebih dekat pertunjukan wayang yang mendapatkan penghargaan Master Piece of Heritage of the World itu.

Beberapa saat setelah Gending Suwuk, Dirjen UNESCO yang berkebangsaan Jepang itu menyerahkan sertifikat penghargaan tertinggi di bidang pelestarian budaya itu kepada Solichin. Gending Gangsaran pun kembali mengalun diiringi tepuk tangan membahana dari hadirin yang hampir semua warga asing tersebut. 

Matsuura dalam sambutannya mengemukakan, penghargaan itu sebuah wujud kepedulian dunia kepada produk budaya tradisional. Produk budaya itu harus dilindungi dari kepunahan, karena itu sebagai lambang bahwa masih bertenggernya hati nurani manusia, rasa kemanusiaan, dan kepedulian sosial.
''Bila produk budaya itu hilang dari muka bumi, maka itu akan menjadi pertanda hilangnya peradaban manusia. Dan itu sangat disayangkan, karena manusia di atas bumi hidup bukan sebagai manusia lagi, namun sekadar alat, sebuah robot, yang tidak lagi memiliki harkat hidup,'' ungkap dia. 

Sambutan itu menjadi demikian mengesankan, jika dikaitkan dengan budaya tradisional yang menerima penghargaan tersebut. Jika saja seluruh manusia memiliki dan mengedepankan nurani, sebenarnya berbagai tindakan kejahatan yang dilakukan manusia bisa tereliminasi. Sayang, selama ini manusia mengacuhkan budaya sehingga wajar jika di mana-mana muncul kejahatan.
''Budaya adalah benteng kemanusiaan. Untuk itu, harus dilestarikan dan menjadi tugas segenap bangsa di dunia terutama bangsa Indonesia yang memiliki produk budaya yang demikian luhur. Dan, Indonesia memiliki tugas berat menyelamatkan produk budayanya agar lestari,'' tantang dia.

Seusai sambutan Dirjen UNESCO itu, Gending Tropongbang mengalun menandai munculnya kera putih Hanoman yang menyandang tugas penting memberantas keangkaramurkaan yang diidentikkan dengan Rahwana. Kera putih diperankan Mochamad Irwan mengiringi langkah Ki Manteb Soedharsono ke atas panggung untuk menerima wayang Bimasena.

Sejurus kemudian, Gending Ayak-ayakan Manyura mengalun, menandai talu, dan dimulainya pentas wayang kulit 70 menit. Lakon yang dibawakan adalah Sesaji Raja Suya, sebuah lakon yang berisi ajakan perdamaian dunia. *

Sun, 8 Jan 2012 @11:39


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Pepadi Jateng · All Rights Reserved