Sugeng Rawuh
image

PEPADI JATENG


Hambangun budi pakarti tumrap jagad pewayangan
Unduhan
Pengunjung

Kearifan Lokal dalam Pesindhenan

MENGGALI UNSUR KEARIFAN   LOKAL DALAM CAKEPAN SINDHENAN

                                GUNA MEMBINA KEHIDUPAN BERNEGARA

                                                    Oleh: Sri Yuwanti

                                                (sriyuwanti@yahoo.com)

Abstrak

Unsur kearifan kehidupan bernegara dapat digali dari berbagai bentuk budaya lokal, diantaranya pada seni karawitan, terutama dari cakepan sindhenan gending , dan dapat digunakan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang sikap sebagai warganegara.

Cakepan adalah bentuk sastra yang digunakan dalam sindhenan, berupa teks kata kata yang dilagukan oleh sindhen atau swarawati pada suatu pentas karawitan. Isi cakepan tersebut biasanya bertemakan tentang kehidupan manusia, bersifat  nasehat, pendidikan pekerti, kehidupan rumah tangga, petunjuk hidup, dan sebagainya. (Martapangrawit,1967, Darsono, 2009).Meskipun jumlahnya tidak banyak dan belum diperhatikan secara khusus, ternyata beberapa cakepan sindhenan juga mengandung nasehat tentang hidup bernegara dengan tema-tema tentang kepahlawanan dan bela negara, anjuran untuk berlaku sebagai warga negara yang baik, mengikuti aturan hukum, atau  tema pemujaan terhadap pemimpin negara yang dapat diteladani dan pemujaan tanah air. Kurangnya perhatian tersebut mungkin karena bahasa yang digunakan dalam sindhenan bukan bahasa “wantah” tetapi berupa wangsalan , parikan, tembang dengan arti arti yang tersembunyi, ditulis dalam bahasa Jawa periode tengahan sehingga perlu penafsiran terlebih dulu sebelum dapat difahami, dan dilakukan oleh sindhen yang pada dasarnya hanya paraga penunjang dalam suatu pertunjukan, suatu posisi yang kurang penting dibanding dalang atau pimpinan karawitan. Meskipun demikian situasinya, sindhenan dapat digarap untuk konteks baru kehidupan bernegara karena apa yang dinyanyikan oleh sindhen, seperti juga cerita yang diucapkan dalang, merupakan sastra lisan yang dapat diingat oleh masyarakat , bahkan  diantara  mereka yang buta aksara dan sastra, tanpa memahami isinya.

Kata Kunci: Sindhenan, seni budaya, kehidupan bernegara.

 File word: Mklkbjsind h en .doc

  A Pendahuluan

            Makalah ini tentang upaya pendayagunaan sindhenan sebagai alat pembentukan karakter berbangsa dan bernegara. Tujuan penulisan, selain untuk mengenalkan tentang satu unsur budaya tradisional Jawa, yaitu sindhenan  yang merupakan  bagian dari seni karawitan gamelan, juga untuk menggali kearifan lokal dari cakepan sindhenan yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan karakter bangsa. Sumber tulisan diambil dari studi eksplorasi kepustakaan tentang  budaya Jawa terutama sastra tembang dan sindhenan. Metoda pembahasannya secara deskriptif kwalitatif  terhadap hasil dari penggalian unsur budaya tradisi sindhenan. Temuannya diharapkan dapat menjadi acuan strategis bagi pembentukan karakter bangsa melalui pengembangan budaya dan dapat memberi pengetahuan tentang seni sindhenan dan isi cakepan sindhenan.

B. Cakepan Sindhenan diantara Tembang dan Gendhing

Pemahaman tentang  sindhenan dan cakepan (teks) sindhenan perlu dilengkapi dengan pengetahuan tentang tembang dan seni gamelan atau karawitan dan gendhing karena sindhenan adalah bagian dari seni tersebut

B1.Tembang .

Seni suara Jawa disebut ‘tembang’. Tembang mempunyai banyak bentuk dan tingkatan. Tembang dalam bahasa sastra Jawa disebut ‘sekar’ dan menyuarakan tembang atau ‘nembang’ dalam bahasa tinggi (krasma) disebut ‘nyekar’. Padahal, sekar sendiri adalah bahasa krama dari ‘kembang’ atau bunga, dan ‘nyekar’ dalam kehidupan sehari-hari artinya memberi bunga di makam leluhur. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya memahami bahasa sastra untuk hal yang sebenarnya biasa. Rumitnya arti kata bagi masyarakat awam, bahkan bagi mereka yang berpendidikan tetapi tidak memahami bahasa Jawa dan perubahan perubahan arti pada kata kata tertentu, menambah kesulitan pembentukan pengertian isi suatu tembang yang pada dasarnya menggunakan bahasa yang ‘tidak biasa’ atau bukan bahasa sehari-hari.

Gitosaprodjo (2009) mendefinisikan vokal tembang yang diiringi gamelan sebagai sekar gendhing (2009:1). Sekar sendiri menurut Gitosaprodjo dapat digolongkan ke dalam  enam golongan, yaitu: sekar ageng, sekar tengahan, sekar macapat, sekar dolanan, sekar gendhing, dan sekar pedhalangan.

1) Sekar  Ageng ( tembang besar) karena yang memakai adalah “priyantun ageng/agung” atau orang besar, terdiri dari sekar ageng kuno atau kakawin  yang menggunakan bahasa kawi, biasanya untuk cakepan (bacaan) macapat, dan sekar ageng jaman baru yang menggunakan bahasa Jawa baru, biasanya untuk bawa   (nyanyian pembuka)  gending.

  2) Sekar Tengahan, diciptakan pada jaman Majapahit ketika orang menggunakan bahasa Jawa tengahan (Gitosaprodjo, 2009:1). Digunakan untuk cakepan bawa, gerong dan sindhenan . (Gitosaprodjo, 2009:2). Contoh sekar tengahan adalah: Gambuh, Balabak, Wirangrong, Jurudemung, Girisa,  Megatruh, Kuswarini, Palugon,Pranasmara, Pangajabsih, dll.

3) Sekar Macapat. Macapat berarti “desa ke desa”, dan tembang macapat adalah tembang rakyat biasa di pedesaan. Meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa tengahan dan cakepannya  juga digunakan untuk bawa, gerong dan sindhenan, namun bahasa sekar macapat lebih muda/baru dari pada sekar tengahan. Contoh sekar macapat adalah: Pucung, Maskumambang, Kinanthi, Mijil, Pangkur, Durma, Asmaradana, Sinom, Dhandhanggula.

4) Sekar Dolanan karena berasal dari dolanan atau permainan anak-anak, digunakan untuk cakepan bagi gendhing dolanan. Penggolongan dibuat berdasarkan  masa penciptaannya  yaitu : sekar dolanan gagrak ( bentuk) lama seperti Cempa, Jamuran, Cublak-cublak Suweng dll yang diciptakan sebelum masa kemerdekaan, dan sekar dolanan gagrak baru, seperti Swara suling, Kuwi apa Kuwi, Gugur gunung dll yang diciptakan setelah masa kemerdekaan

5) Sekar Gendhing, adalah tembang untuk gerong dan sindhenan yang merupakan isi tema dari gendhing dan melagukannya diiringi gamelan. Contohnya adalah Langen gita, Puspagiwang, Puspawarna, Walagita, dll

6) Sekar Pedhalangan, digunakan dhalang pada saat pentas wayang kulit/purwa, untuk memberi tanda kepada penabuh gamelan dan pesindhen tentang suasana yang akan dihadirkan. Bentuknya adalah: Pathetan sebagai tanda untuk penghadiran suasana tenang, Ada-ada , untuk suasana tegang, dan Sendhon untuk suasana sedih.                (Gitosaprodjo, 2009:2-3)

Dengan mengacu pada poin-poin di atas, sindhenan dapat menggunakan semua jenis sekar atau tembang, sesuai dengan keperluannya.

B2.Gendhing.

Seni Karawitan Jawa pada dasarnya merupakan seni yang ‘ngrawit,’ sangat rumit atau sulit,  karena selain  diperlukan ketrampilan memainkan alat musik gamelan, yang dilakukan bersama  oleh banyak orang, secara berkelompok bekerja sama, dengan cara dan waktu memukul (nuthuk, nabuh ) yang berbeda, juga dituntut kepekaan rasa penabuh terhadap irama, dan pengetahuan tentang laras gamelan yaitu ‘slendro’ dan ‘pelog’. Harmoni bunyi antar bagian dan keseluruhan alat gamelan disebut gendhing . Gendhing lebih tepatnya adalah tema harmoni suara, atau konsep bunyi yang akan dihasilkan oleh semua  atau sebagian alat gamelan yang dimainkan dengan cara tertentu yang teratur. Tanpa tema atau konsep, meskipun semua atau sebagian alat gamelan dimainkan, harmoni bunyi yang dihasilkan belum tentu mempunyai arti atau enak didengar.

Tidak semua gendhing harus diisi tembang  dan demikian pula tidak semua tembang harus diiringi gamelan. Gitosaprodjo (2009) mengindikasikan bahwa gendhing adalah permainan gamelan. Bentuk bentuk gendhing menurut Gitosaprodjo ada 8, yaitu:                1) gendhing lancaran balungan mlaku, 2) gendhing ketawang, 3) gendhing ladrangan,         4) gendhing merong kethuk 2 kerep, 5) gendhing minggah kethuk 4 irama 2, 6) gendhing minggah  kethuk 4 irama ciblon, 7) gendhing ayak ayakan, dan 8) gendhing dolanan .  (2009: 13-20).

Berkaitan dengan pengertian gendhing, Soeranto dan Mulyani (2004) mempunyai penjelasan lain. Pengertian gendhing menurut Soeranto, dkk., terikat dengan bagian alat musik gamelan yang dimainkan secara khusus dengan  berpedoman pada jumlah hitungan gong, kethuk kenong dan kempul . Dengan demikian tidak bisa secara sembarangan menyebut permainan gamelan itu suatu gendhing apabila yang dimainkan ternyata adalah ketawang atau ladrang. (Soeranto dan Mulyani, 2004:44). Dari sini muncul pembedaan baru antara gendhing sebagai tema konsep permainan alat musik gamelan secara utuh, dengan Gendhing sebagai penanda jenis suatu permainan gamelan.  Contoh Gendhing diantaranya Gd. Tukung, Gd, Wedhi kengser,  Gd. Babon Angrem, Gd Pramugari, Gd Alas Padhang, Gd Onang-onang, Gd Bondhet, Gd Gambirsawit dll, contoh ketawang misalnya Ktw Gandakusuma, Ktw  Sri Kascaryan,  Ktw Gandamastuti, Ktw Langen gita, Ktw Puspawarna dll, dan contoh ladrang adalah Ldr Wilujeng, Ldr Sri Widada, Ldr Mugi rahayu,  Ldr Ayun-ayun, Ldr Sobrang dll.  Pembedaannya  menurut Soeranto adalah sebagai berikut: Ladrang apabila dalam 1 Gongan mempunyai 3 Kenongan dan Kempulan. Ketawang apabila dalam 1 Gongan terdapat 1 Kenongan dan Kempulan, dan Gendhing apabila dalam 1 gongan terdapat 2 Kethuk kerep (cepat) dan  1 Kenong dengan 16 pukulan kali 4. (Lihat Soeranto dan Mulyani, 2004, dan Supadmi, 1999). 

Darsono (2009:5) menyebutkan bentuk bentuk gendhing dikaitkan dengan penggunaan sindenan umum (srambahan ) dan khusus(gawan ) yaitu: gendhing kethuk 2 kerep, ladrang, ketawang, dan ayak-ayakan.  

Susetya (2007) dalam bukunya tentang Dalang, Wayang, dan Gamelan, terutama pada filosofi ‘buka’ (2007:94-109), menyebutkan pendapat Ki Sudjinal, seorang dalang dari Jawa Timur, tentang kaitan sikap dan sifat manusia dengan gendhing. Gendhing-gendhing tersebut adalah: gendhing Giro, gendhing Ladrang, gendhing Ketawang, Gendhing (Gedhe), gendhing Ayak-ayak, gendhing Srempeg, dan gendhing Sampak.( Susetya (2007: 98-99). Ini merupakan indikasi bahwa, karakter orang akan menentukan kesukaannya mendengarkan gendhing tertentu, termasuk pilihan jenis tembangnya. Meskipun demikian,  menabuh gamelan merupakan kegiatan gotong royong, saling membantu, saling memberi isyarat, mengingatkan, dan bukti kerukunan (Susetya, 2007:84). Pembahasan tentang gendhing dll.,secara lebih jelas dan rinci merupakan bagian dari seni karawitan, sedangkan bahasan singkat di atas adalah pendukung pelengkap bagi bahasan tentang sindhenan sebagai isi dari gendhing dalam pengertian umum yaitu suatu lagu di permainan musik gamelan, dan bahwa gendhing dan isi tembang dapat menjadi petunjuk tentang suasana isi hati dan karakter orang yang mendengarkan atau menyukainya.

C. Materi Isi Sindhenan dan Masalahnya

            . Menurut Martapangrawit (1967) sebagaimana dikutip Darsono (2009: 3), materi penting dalam sindhenan adalah unsur sastra yang tertulis dalam cakepan (teks) dan unsur lagunya. Isi sindhenan dapat berupa nasehat, cerita, pedoman hidup, dan lain-lain. Dari bentuk sastra  dan isi sindhenan dapat digali lebih dalam tema dan peristiwa kehidupan manusia. Masalahnya, isi sindhenan tersebut meskipun  difahami oleh sebagian orang terutama yang mempelajarinya atau yang menciptakannya, isi sindhenan belum tentu difahami pendengarnya atau bahkan sindhennya. Penyebabnya  adalah tidak semua sindhen memahami sastra, karena sangat tergantung pada latar belakang pendidikan, lingkungan, dan minat sindhen tersebut terhadap sastra sindhenan. Seorang sindhen dengan warna suara yang  sangat indah dan ketrampilan vokal yang sangat tinggi, belum tentu tahu arti tembang yang dilantunkannya. Banyak dan kebanyakan pesindhen belajar nyindhen hanya dengan menghafai isi sindhenan berdasarkan  pada pendengaran, ingatan,  dari pelatihan dengan cara  praktek langsung dengan sindhen atau dalang terkenal. Dengan kata lain, seorang wanita buta, cantik, berbakat musik dan bersuara indah, dapat dilatih menjadi pesindhen hanya dengan mendengarkan. Untuk memahami isi, diperlukan waktu tersendiri guna mempelajari maksud teks sindhenan, dan hal ini hanya terjadi bila sindhen mempunyai minat atau bakat  mempelajari sastra.

Cakepan sebagai sumber bacaan sindhenan bagi sindhen tipe kedua akan dilihat, dipelajari, diacu dan ditanyakan apabila ada kata atau kalimat yang tidak logis. Sedangkan bagi sindhen tipe pertama yaitu pesindhen hafalan, mempertanyakan isi sindhenan tidak akan pernah dilakukan, karena mereka hanya akan membuka catatan bila tidak hafal kata dan kalimat sindhenan. Lebih ekstrim lagi, karena cakepan tersebut  merupakan barang turunan tertulis, pada cakepan hasil turunan yang berkali-kali  ditulis ulang, kemungkinan besar juga mengandung kesalahan kata atau ketidak jelasan tulisan. Ketika kesalahan tersebut sudah  menjadi “kaprah” karena diulang-ulang, diucapkan terus menerus, isi cakepan-cakepan tersebut juga kemungkinan sudah mlenceng dari awal aslinya tanpa diketahui oleh pengguna berikutnya. Akhirnya, isi cakepan tidak lagi mempunyai arti dan hanya diucapkan sebagai isen-isen gendhing, sehingga pendengarnya pun  tidak akan memahami arti katanya,  apalagi bila mereka hanya tertarik pada keindahan suara. Kemungkinan-kemungkinan  tersebut sangat besar dapat terjadi,  karena bahasa sindhenan memang bukan bahasa sehari-hari, tidak langsung menunjukkan maksud perkataan yang diucapkan, sehingga tidak diketahui salah benarnya. Bila kesalahan semacam itu tidak segera diperbaiki, maka pengulangan terus menerus akan menyebabkan distorsi (kekurangan daya, penurunan nilai, ketidak utuhan arti) isi sindhenan. Gitosaprodjo (2009:xii) ketika menulis  Gerong Lengkap bahkan perlu melihat ulang tulisan cakepan tertentu dari pengarang aslinya, yang kadang masih ditulis dalam huruf Jawa, untuk menghilangkan keraguan dan memastikan kebenaran cakepan tersebut.

Selain dengan cara menelusuri teks asli, kepekaan dan pengetahuan tentang sastra Jawa dapat digunakan untuk memperbaiki pendengaran yang salah dan membetulkan  kata yang tidak punya hubungan arti yang logis. Sebagai contoh, dalam teks lagu Aja Lamis , terdapat kalimat  sbb: …..mbok aja mung lamis, kang uwis, tundhone bakal Cidra. Akeh tulodho, wong dhemen cidra, uripe rekasa , dst  Di masyarakat sindhen dan penyanyi campursari tahun 2000 an, kata ‘cidra’ tersebut, tidak jelas karena sebab apa, telah dirubah menjadi kata ‘Kikis’ untuk mengikuti bunyi akhiran ‘is’ pada kata ‘lamis. dan ‘uwis ’, padahal telah terjadi distorsi arti karena kata ‘kikis’ tidak bermakna dalam konteks tema lagu tersebut. Di catatan lama ternyata kata yang tertulis bukan ‘kikis’ tetapi kata ‘cidra’, dan kata ini secara logis memang mempunyai sambungan makna dengan kalimat berikutnya. Contoh lain, pada suatu pelatihan swarawati, dalam cakepan  sekar macapat Dandanggula yang biasanya digunakan untuk mengawali lagu campursari Nyidam Sari, terdapat kalimat sbb : ….umpama nahkoda, tanpa prau, sasad darat den pepetri……. Ketika seorang peserta menanyakan arti kata ‘sasad darat’ ternyata pelatih tidak tahu, karena kata tersebut berasal dari pendengaran dan catatan yang ada. Dari sebuah buku lama diketahui kata sebenarnya adalah ‘sasadara’, yang artinya bulan bintang, yang diacu ( den pepetri ) oleh para nahkoda sebagai pedoman ketika berlayar di lautan di malam hari.

  Contoh diatas menunjukkan bahwa satu kata yang bermakna, ketika dirubah atau salah ketik, salah dengar, atau salah ucap, menjadikan kalimat keseluruhan tidak bermakna dan tidak diketahui artinya. Hal ini menimbulkan pemikiran bahwa: cakepan sindhenan yang bernilai  merupakan karya sastra dan budaya yang memuat anjuran hidup yang baik. Lain itu, kesalahan ucapan dan catatan teks sindhenan  apabila tidak dievaluasi hubungan logisnya dan tidak dibetulkan, akan mengaburkan isi arti sehingga isi sindhenan menjadi tidak bermakna. Cakepan sindhenan dalam kondisi salah dan tak terevaluasi akan kehilangan arti nilai sebagai teks sastra, karena teks berubah menjadi kalimat asal-asalan, asal sama akhiran katanya,  dan hanya menjadi   pengisi gendhingan yang enak didengar dan atau lucu untuk hiburan. Untuk itu perlu dimulai  atau digalakkan upaya penggalian dan pemahaman isi cakepan tembang maupun gendhing, melalui penafsiran dan diskusi budaya dan sastra,  baik di sekolah, di acara-acara siaran budaya, maupun di perkumpulan budaya, agar isi cakepan tembang dan sindhenan dapat dimanfaatkan bagi peningkatan pengetahuan tentang budaya dan sastra dan digunakan sebagai alat pembentukan karakter bagi pecintanya.

D. Perkembangan Isi Sindhenan terkait Pemanfaatan untuk Pembentukan Karakter Bangsa dan Kesadaran Bernegara

D1.Sindhenan klasik (gagrak lawas ) dan Sindhenan modern (gagrak anyar ).

            Sindhenan klasik mempunyai struktur kalimat dan syair yang digunakan pakem/baku, tetap, dan kadang sederhana. Sedangkan sindhenan baru lebih inovatif dan kreatif untuk kepentingan tertentu dengan garap instrument gendhing yang sangat berbeda dengan gendhing klasik. Sindhenan gaya lama lebih banyak untuk iringan pertunjukan wayang purwa, dimana posisi dalang yang akan mengambil lebih banyak porsi untuk penjelasan dan komando bagi karawitan, dan sindhenan berfungsi sebagai alat atau pelengkap penjelasan dalang. Sindhenan akan berfungsi penuh sebagai pengisi utama suatu pertunjukan karawitan pada acara uyon-uyon, atau pada kegiatan prosesi upacara-upacara tradisional Jawa, pada saat menjadi iringan tari klasik Jawa seperti bedayan, dan terutama di sendra tari karena isi cerita keseluruhan dicakup dalam isi sindhenan.

Cakepan Sindhenan banyak mengambil dari tembang macapat yang biasanya dipelajari dan didiskusikan isi dan kemanfaatannya pada acara macapatan (melagukan sekar macapat), yang dapat juga diiringi dengan gamelan tertentu seperti gender dan gong. Sekar macapat di sindhenan digunakan sebagai  cakepan Bawa (membuka gending), Gerong, dan Sindhenan dalam bentuk Palaran dan Jineman. Beberapa sumber cakepan tembang macapat kebanyakan menggunakan sastra ciptaan satrawan Jawa klasik dan terbukukan serta baku.  Sri Hastjarja (2000 dan 2005) menghimpun tembang-tembang macapat dengan berbagai cengkok dan gaya. Beberapa karya tembang macapat masa kini kebanyakan sudah menggunakan bahasa baru.

Cakepan sindhenan baru terutama adalah ciptaan Ki Narto Sabdo (Semarang) dan Ki Wasitodipuro (Yogyakarta) dan sudah menggunakan bahasa Jawa baru/modern. Nyi Supadmi, salah seorang pesindhen senior murid  Ki Narto Sabdo, selain berhasil menghimpun karya Ki Narto Sabdo juga telah mencipta banyak  isi sindhenan dengan bahasa baru dengan tetap menggunakan garap gendhing klasik dan sangat produktif dengan membukukan cakepan sindhenan sebagai pegangan sindhen yang belajar dengan membaca dan/atau mendengarkan (karena banyak yang belajar hanya dengan mendengarkan tanpa membaca). Untuk gendhing baru, Ki Narto Sabdo merupakan pelopor nya dengan tema tema yang keluar dari pakem lama, namun tetap dengan garap gendhing yang indah, dapat dinikmati semua kelompok dan menghibur. 

D2. Galian Isi Sindhenan tentang rasa cinta tanah air dan siap bela Negara.

Bagian ini tidak akan menjelaskan pola pola sastra yang ada dalam sindhenan, (seperti bagaimana pembentukan kata di  ‘wangsalan’ sebagai  sindhenan pokok, atau di ‘abon-abon’ sebagai sindhenan pelengkap untuk mengisi suara dan tidak punya arti apapun yang berhubungan dengan isi wangsalan), tetapi mencoba mengeksplorasi dari berbagai gendhing terkait isi sindhenan yang dapat menjadi ide kearifan lokal tentang bela Negara, cinta tanah air, dan pembangunan. Guna memahami muatan isi sindhenan tentang anjuran hidup berbangsa dan bernegara (civics) tersebut, akan ditampilkan contoh-contoh isi sindhenan umum dan khusus yang diperkirakan mempunyai hubungan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Eksplorasi yang sudah dilakukan menemukan bahwa ternyata tidak banyak isi sindhenan yang mengangkat tentang bangsa dan Negara. Kebanyakan adalah ajakan dan mengingatkan tentang menjadi manusia yang baik, perilaku yang pantas dalam hubungan antar sesama, dll.  Dari berbagai sumber yang sudah dibukukan,  tidak banyak dijumpai kalimat kalimat tentang bela Negara atau setia pada Negara pada cakepan sindhenan klasik. Di beberapa gendhing gendhing klasik, ada dua baris sindhenan srambahan dengan bentuk  wangsalan , dengan kalimat yang ada kaitan dengan Negara/praja/nagri, dan obyek lain dari Negara, diantaranya sbb:

1)    Jarwa mudha, mudhane sang prabu Kresna.Mumpung anom ngudi saranane praja  ( hubungan kata : Kresna mudha=narayana, sarana)               a)

2)    Kawi lima, putra priya Dahyang Durna. Pancasila dhasaring nagri utama. ( hubungan kata :anak durna= aswatama, utama)             a)

3)    Jarwa wreksa, wreksa lajering kang wisma. Rahayua dadi pusakaning praja. ( hubungan kata: wreksa/kayu, rahayu)                           a)

4)    Jarweng janma, janma kang koncatan jiwa. Wong prawira, mati alabuh nagara. ( hubungan kata:koncatan jiwa, mati)                             a)

5)    Tawas pita, darpa driya Wisnu garwa. Murweng gita karsa dalem sri narendra. (hubungan kata: wisnu garwa, sri)                                b)

6)    Peksi pita, sudarma ywang Girinata. Sun cecadhang manunggaling bangsa kita. (hubungan kata: sudarma Girinata=Sanghyang Tunggal, manunggal) c)

7)    Deg ing palwa, kandheg sajroning samodra. Labuhana siti wutahing ludira. (hubungan kata: palwa ing samodra, pelabuhan)                           c)

( Sumber: a)Supadmi, 1999,  Kempalan Sindhenan Gendhing.

               b) Supadmi, 2009, Sindhenan Cengkok Srambahan

   c) Supadminingtyas, 2009, Tuntunan Sindhenan Ketawang, Ladrang, 

      Jineman)

Kalimat sindhenan yang lebih panjang dan bermakna, ditemukan pada gendhing-gendhing khusus, kebanyakan dalam bentuk andhegan, jineman, dan sindhenan gerong , untuk dinyanyikan bersama, berupa cerita, nasehat, atau sebagai doa atau penyemangat, namun jarang ditemukan suatu gendhing dengan sindhenan yang ditujukan untuk memuja Negara dan anjuran cinta tanah air secara khusus. Dari yang sedikit tersebut diantaranya adalah:

-Sindhenan Ladrang Ayun-ayun, pada andhegan Pangkur Rasamekar ( Supadminingtyas, 2009: 10, bagian Ladrang di Tuntunan Sindhenan Ketawang, Ladrang, Jineman ),

-Palaran Asmarandana Slobog, cengkok Surakarta (Supadmi,  tt:50, di Tembang-tembang Palaran),

-Palaran Dhandhanggula, cengkok Yogyakarta (Supadmi, Ibid, hal 70),

-Ayak-ayak Pamungkas,  (Gitosaprodjo, 2009: 19-20, di Gerong lengkap, jilid IA ),

-Ketawang Ibu Pertiwi, (Gitosaprodjo, Ibid, hal 88)

 Contoh beberapa cakepan/bagian dari cakepan sindhenan yang terkait dengan Negara diantaranya adalah di bawah ini, dimana kata di dalam kurung adalah bentuk isen-isen atau abon-abon.

a.  Sindhenan Srambahan

1). Ayak-ayak, sl 9. (Supadmi, 2002: 61-62, di Sindhenan Gendhing iringan Pakeliran Wayang Kulit Purwa Gagrak Surakarta )

 (ya   mas) Jarweng janma, janma kang koncatan jiwa.

 (ya mas, raden, kadangku dewe)

                                Janma kang koncatan jiwa (gones, sak solahe)

                                Wong prawira, wong prawira mati alabuh nagara (gones, wicarane)

                                 Mati alabuh nagara (rama, gones )

                        Wong prawira mati alabuh nagara .

2)  Srepeg, slendro 9, sindhenan ngelik  (Ibid, hal 81)

                  (raden) Jarwa nendra, narendra yaksa ngalengka

(kadangku dewe)

                Rukun tresna, dadi srana njunjung praja.

3) Patet Jingking Banyumasan, slendro manyura  ( Ibid, hal 48)

        … yen kembanga, kembang menur tinandur neng pinggir sumur,

            Aja mundur, aja mundur, nggayuh nagri adil makmur .. dst

4) Gd Randu Kintir mgh Ldr Ayun-ayun, pelog 6 (Supadmi,1999:1-2,di Kempalan Sindhenan Gendhing )

Cakepan: Wangsalan

            -Jarwa mudha (ya mas) mudhane  sang prabu Kresna (rama, rama)

              Mumpung anom, mumpung anom ngudi saranane praja.

            -Kawi lima, putra priya Dahyang Durna

  Pancasila dhasaring nagri utama, ( ya mas).. dst    

 b. Sindhenan Khusus.

Pada kelompok gendhing klasik, cakepan sindenan yang mengandung isi bela Negara, cinta tanah air, dan sebangsanya, kebanyakan dinyanyikan dalam gerongan . Sindhenan khusus yang dinyanyikan secara individu tidak banyak ditemukan, diantaranya:

1).Ayak-ayak Pamungkas, slendro manyura  (Gitosaprodjo, 2009: 19-20, Gerong lengkap, jilid IA)

Bagian lagu:

Dhuh Allah, mugi-mugi, keparenga paring rahmat

               Dhuh Allah, lestaria, Indonesia merdika

               Wasana wos ing pangidung, tarlen amung amemuji

               Mugi bangsa Indonesia, sepuh anem jaler estri

              Samya kersa a manunggal, gumolong geleng ing kapti.

2)  Ktw Ibu Pertiwi, pelog 6, (Ibid, hal 88)

            Ibu Pertiwi, paring boga lan sandhang kang murakabi

            Peparing rejeki manungsa kang bekti

            Ibu Pertiwi, ibu Pertiwi, sih sutresna ing sesami

            Ibu Pertiwi kang adil luhur ing budi

            Ayo sungkem mring Ibu Pertiwi

3) . Palaran Dhandhanggula Yogyakarta, pelog barang  (Supadmi, tt:  70, di Tembang-Tembang Palaran cengkok Surakarta-Yogyakarta)

Iku uga den pepeling

Kalamun mulya kang praja

Mupangati mring wong akeh

Ing rina wengi ywa pegat

Nenedha mring Pangeran

Tulusing karaton prabu

Miwah harjaning nagara   

4) Gendhing gendhing baru seperti :

                        a) Galo kae genderane, abang putih ngawe-awe….dstnya

                        b) Kuwi apa kuwi, e, kembang melati. Sing tak puja puji, aja da korupsi.

                            Marga yen korupsi, negarane rugi… dst

                        c) Holobis kuntul baris…dst

                        d) Modernisasi Desa, dsb.

                                                  

Selain cakepan sindhenan gendhing yang digarap secara khusus, banyak sindhenan menggunakan tembang macapat sebagai cakepan. Dibandingkan dengan sindhenan, tembang-tembang macapat lebih jelas memperdengarkan isi teks tanpa ‘terganggu’ suara gamelan, abon-abon, atau hal lain yang mengalihkan perhatian dari isi. Meskipun demikian pada tembang macapat klasik juga jarang ditemukan nasehat cinta Negara dan bangsa, lebih banyak berisi nasehat nasehat agar seseorang menjadi manusia yang baik,  taat beragama, pasrah kepada Tuhan, mematuhi hukum, tidak melakukan kejahatan, menghindari iri dengki, serakah, sembrono, dan lain-lain, yang lebih ke arah pembentukan karakter pribadi individu. Sastra Jawa kebanyakan ditulis dalam bentuk tembang, baik itu cerita rakyat, filosofi, maupun karya besar lainnya seperti Serat Rama, Wulangreh, Weddatama, dll. Dari beberapa cakepan tembang macapat,  ada cerita tentang setia bangsa dan Negara, misalnya adalah kisah Kumbakarna berperang untuk Alengka, Adipati Karna berperang untuk Hastina, patih Sumantri yang  mati demi tugas Negara. Salah satu contohnya adalah kisah Kumbakarna, dalam tembang macapat Dhandhanggula Maskentar (Subasiti) slendro 9 (Sri Hastjarja, 2000:12, di Macapat 1 ), sbb:

                             Kumbakarna kinen mangsah jurit

            Mring kang raka sira tan lenggana

           Nuhoni kasatriyane

            Ing tekad datan purun

           Among nyipta labuh nagari

           Miwah kang yayah rena

           Myang leluhuripun

          Wus mukti aneng Ngalengka

         Mangke arsa rinusak ing bala kapi

         Punagi mati ngrana

  Rata-rata tembang macapat dipergunakan dalam sindhenan sebagai bawa, atau palaran,   meskipun ada beberapa yang menjadi jineman, salah   satu pola lagi dari sindhenan.

Jineman   yang berisi kalimat setia Negara, bela Negara, biasanya merupakan karya baru, setelah masa kemerdekaan. Sebagai contoh adalah jineman Uler kambang pelog 6 (Supadminingtyas, 2009:12  bagian Jineman, di Tuntunan Sindhenan Ketawang, Ladrang, Jineman ) yang isinya adalah sbb:

Buka celuk :      Kawi sekar , sekar pepunden Sri Kresna..

                        (Sayuk sayuk rukun, rukun karo kancane

                       Aja lali lho mas kowe, gotong royong nyambut gawe)

                        Lir puspita warnane kusumeng pura

       Brambang sak sen lima, berjuang labuh Negara

       Brambang sak sen telu, berjuang dimen bersatu) ( ya mas)

                       (Ora butuh godong kayu, butuhku tentrem rahayu …. Dst

 Memperhatikan hasil penelusuran, secara umum dapat dikatakan bahwa  cakepan sindhenan yang mengandung pendidikan kebangsaan dan bela Negara lebih sedikit dan sulit dicari bila dibandingkan dengan isi cakepan sindhenan yang bercerita tentang kehidupan umum keluarga, kisah cinta, memuji keindahan alam, pemujaan tokoh tertentu sebagai teladan tentang watak pribadi, agar menjadi manusia yang baik, dll. Dari jumlah yang kecil tersebut muncul pertanyaan: apakah dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun watak generasi muda agar mencintai bangsa dan tanah air?

E. Pengaruh Globalisasi pada Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

E1. Perubahan Karakter Bangsa dan Budaya dalam Era Globalisasi

            Dari kenyataan diketahui bahwa proses globalisasi telah merubah pandangan dan sikap masyarakat terhadap Negara dan pemerintah. Keterbukaan informasi, transparansi dan sikap elite yang seperti “membiarkan” berbagai aliran pemikiran dari luar masuk secara bebas demi praktek demokrasi, serta latihan otonomi yang menimbulkan pemikiran untuk berdiri sendiri atau memisahkan diri dari Negara, telah menimbulkan masalah baru dan sekaligus mengurangi kekuasaan Negara dan pemerintah terhadap warga negaranya. Di sisi lain tuntutan masyarakat untuk dilayani lebih baik berbanding terbalik dengan kemampuan dan keterbatasan pemerintah dan Negara dalam mencukupi, mengendalikan, mengontrol atau mengawasi, dan melarang kegiatan warganya. Seperti kotak Pandora, atau cupu manik Astagina yang dibuka, atau buah Pengetahuan tentang yang baik dan buruk di taman Eden, globalisasi bersamaan dengan praktek demokrasi dan transparansi, telah memberi dampak yang kurang menguntungkan bagi penyelenggaraan Negara. Namun apakah hal itu mengurangi juga semangat bela Negara diantara generasi muda? Sejauh mana budaya dapat digunakan untuk mengurangi dampak negatif globalisasi dalam arti generasi muda tidak lagi menghargai bangsa dan negaranya?

Pengaruh globalisasi di bidang kebudayaan telah membuat batas budaya antar bangsa semakin tipis, saling mengisi dan memperkaya, saling tumpangtindih, berjalan bersama, dan sebagian lagi saling menguasai. Bagi budaya yang bukan benda, tetapi berupa keahlian, ketrampilan, pengetahuan, akan lebih  dapat atau mudah berpindah tempat dan dipindahkan dengan cara transfer pengetahuan. Sistem keluar masuk barang dan manusia yang lebih cepat dan mudah pada jaman ini, semakin menipiskan batas tersebut, sehingga bila terjadi adopsi dan adaptasi serta asimilasi budaya lokal dengan import, maka sudah pasti akan terbentuk budaya baru. Ini merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Seberapa kuat budaya asli bertahan tergantung pada seberapa besar pengaruh budaya impor mampu menggeser atau membentuk budaya yang baru. Namun perlu disadari bahwa proses ini sudah dialami oleh orang Jawa, jauh sejak sebelum kemerdekaan, ketika perjalanan laut dimulai dan perdagangan antar negara berkembang pesat.

Lombard (1996/2005) dalam bukunya  Nusa Jawa: Silang Budaya, menyatakan bahwa Indonesia terutama pulau Jawa merupakan titik persilangan empat budaya yang utama  yaitu  India, Cina, Islam, dan Eropa. Selama dua ribu tahun sejarahnya. budaya budaya tersebut bertemu, diterima, diolah, dikembangkan dan diperbarui. Bahkan ditulis di kulit belakang buku Lombard, bahwa Pulau Jawa merupakan contoh yang luar biasa bagi sejarahwan untuk meneliti konsep tradisi, pengaruh budaya, kesukuan, dan akulturasi, melalui pendekatan geologi budaya. Dengan mengupas lapisan lapisan budaya menurut perjalanan sejarah, dan tiap lapisan diulas mulai dari yang tampak sampai yang terpendam Lombard  menunjukkan bukti berupa perkakas benda, peralatan, keahlian, dan kebiasaan masyarakat.Indonesia yang berakar dari budaya-budaya tersebut.(Lombard, 2005, terutama buku II).

Dari pengetahuan tentang percampuran budaya menurut Lombard, apa yang  disebut sebagai budaya Jawa saat ini mungkin merupakan bentukan baru dari hasil percampuran tersebut. Dengan kata lain, proses globalisasi sudah dialami orang Jawa sejak jaman sebelum Borobudur dibangun. Namun  demikian penciptaan  dan kreasi lokal juga selalu muncul, bertambah, tumbuh dan berkembang seiring dengan masuknya budaya lain. Tetapi klaim bahwa budaya tersebut milik satu kelompok perlu dipertanyakan. Ketika banyak orang Jawa bekerja ke luar negeri dan membawa budayanya bersama, kemudian mempraktekkan, melestarikan, dan membentuk kelompok budaya di Suriname, Malaysia, Hongkong, Medinah, dll., tidaklah salah apabila  mereka juga mengaku sebagai pemilik budaya tersebut ketika mereka dengan keluarganya sudah berimigrasi ke daerah-daerah tersebut. Sehingga, ketika Reog Ponorogo dan Kroncong diakui Malaysia, kasusnya akan sama dengan ketika Ramayana dan Mahabarata, musik Dangdut, dan tari Barongsai diberi label asli Indonesia. Sejarah perpindahan bangsa dan praktek budaya nenek moyang memberi indikasi bahwa memang ada sumbangan atau “share” genetika fisik dan kebiasaan, yang telah dibuktikan dengan penelusuran sejarah dan pemastian ‘DNA gen budaya’ pada bahasa, benda peralatan rumah tangga, arsitektur, pakaian, makanan, dan  tradisi upacara-upacara adat. Dengan demikian, satu budaya dapat saja dimiliki oleh beberapa kelompok bahkan bangsa.

E2. Posisi Budaya Jawa di situasi Plural .

Indonesia adalah Negara kesatuan dari beribu pulau dan penduduknya terdiri dari berbagai suku, etnik dan ras. Masing – masing mempunyai bahasa, adat dan budaya, dan semua  diwujudkan dengan berbagai bentuk kegiatan. Sebagai bangsa yang heterogen, pluralisme merupakan kekuatan tetapi bisa sekaligus menjadi sumber perpecahan dan kelemahan apabila bagian-bagian yang lemah tidak dipelihara dengan layak dan diperlakukan adil. Situasi naik dan turunnya kualitas hubungan antara bagian, akan ikut mempengaruhi suhu politik dalam negeri. Namun bangsa Indonesia juga sedang belajar berdemokrasi yang benar, sehingga mestinya naik turunnya suhu politik tersebut tidak akan memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya negara sebagai wilayah hidup, dan bangsa sebagai identitas kelompok di antara bangsa lain, budaya lokal dan adat tradisi menjadi semacam ‘tanda’ identitas suku dan menjadi  semacam “pembeda”  dalam ikatan pluralism internal antar suku, dan pluralisme eksternal antara bangsa Indonesia dengan bangsa lain, sampai nanti terbentuk satu budaya dunia.      

Pluralisme budaya menuntut kesamaan posisi budaya, sehingga tidak harus ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, meskipun masing-masing dalam diri mungkin menganggap budaya merekalah yang tertinggi atau adiluhung, sedangkan yang lain adalah pop, murahan . Yang ada ialah yang lebih sederhana dan mudah diterima, dan disukai orang banyak,  atau yang lebih rumit dan sulit dipelajari secara cepat, dan tidak disukai umum. Dalam ikatan plural, maka sangat diperlukan empati serta emansipasi bagi budaya yang tak disentuh, tidak dilirik, dijauhi, tersingkir, atau akan punah. Pelestarian salah satu bagian obyek budaya yang hampir punah, diartikan untuk menghidupkan dan mengembangkan lagi, dan kembali harapan tersebut diletakkan di pundak para generasi muda. Sebaliknya, generasi muda juga harus secara sadar memahami, menghormati, menyintai, dan memelihara seni budaya etnisnya masing-masing sebagai warisan sejarah dan sebagai bagian dari hidupnya sehari-hari. Dengan cara ini, budaya lokal tetap terjaga, ide pluralism tetap menjadi ikatan, dan dari pemahaman dan kesadaran yang tinggi terhadap budaya tradisi sebagai identitas etnis dan bangsa, diharapkan tumbuh rasa hormat dan cinta tanah air.

Pemuda dan remaja adalah pembawa dan penerima perubahan yang lebih aktif dibanding orang dewasa dan kaum tua. Watak dan karakter yang masih mudah dipengaruhi merupakan tempat yang subur untuk tumbuhnya budaya baru atau munculnya kreatifitas mencampurkan dua atau lebih jenis budaya. Hal yang berbeda terjadi pada kelompok ‘status quo’ atau kelompok tua yang merasa sudah mantap dengan pilihannya dan susah berubah. Posisi semacam ini juga terjadi pada  situasi perkembangan politik dan pemerintahan, dimana kaum muda merupakan massa mengambang, yang masih bisa ditarik ke semua golongan, sehingga menarik untuk dijadikan target kelompok garapan. Dengan kondisi seperti ini, tidak terlalu berlebihan bila upaya pemberian pemahaman tentang budaya tradisional diberikan ke kelompok penerus ini sebagai target penerima dengan porsi yang lebih besar, sedangkan kelompok pelaku budaya bersikap sebagai pelaksana penerusan tersebut dengan berbagai cara.

E3. Kekuatan   Sindhenan bagi  Kehidupan Berbangsa dan Bernegara .          

Secara filosofi, memainkan gamelan adalah bagai hidup bermasyarakat, ada pengikut, ada pemimpin (kendang) dan masing masing anggota masyarakat tersebut  ibarat mempunyai fungsi politik tertentu di suasana  demokratis dimana semua berbunyi tetapi penyuaraan bunyi tersebut harus dilakukan secara teratur, sesuai aturan memainkan alat gamelan, agar dapat menghasilkan harmoni bunyi yang indah, enak didengar, dan dapat dinikmati.  Bermain gamelan adalah gambaran hidup dalam masyarakat plural, berbeda-beda tetapi dalam satu kesatuan, kadang bermain bersama, kadang hanya beberapa, tetapi tujuannya sama: menghasilan harmoni bunyi yang indah. Sindhenan merupakan pengisi dari permainan gamelan, dengan tema dan tujuan tertentu. Gendhing adalah konsep harmoni suara alat musik gamelan, sedangkan cakepan sindhenan merupakan pedoman suara, dalam bentuk bahasa yang bermakna, yang ditujukan untuk memberi penjelasan tentang isi konsep harmoni bunyi yang dimainkan. Selain rasa keindahan yang dihasilkan dari suara, isi sindhenan memberi pengetahuan dan pemahaman tentang kehidupan nyata melalui makna ucapan bahasa.

Sejauh mana teks Sindhenan mempunyai kekuatan sebagai alat pembentukan moral berbangsa dan bernegara dan untuk bersaing dengan kelompok seni budaya lain di dunia, agak sulit diramalkan, karena sedikitnya jumlah teks yang berkaitan langsung dan rendahnya minat pada seni ini di generasi muda Jawa, dibanding jumlah orang Jawa dan besaran masyakat yang menggunakan bahasa Jawa. Selain itu,  program pengembangan seni ini sangat terbatas, selain kecilnya dana dan jumlah orang yang mempunyai keahlian di bidang ini, seni ini juga memerlukan bakat musik dan modal suara dan minat tinggi bagi yang ingin menjadi menjadi pesindhen atau mengembangkan sindhenen dengan cara pendidikan, penelitian, dan penciptaan kreatif materi sindhenan.

Dari hasil penelusuran teks dan penggalian ide kearifan lokal, khusus tentang  cinta Negara dan tanah air, apa yang tertulis di teks sindhenan di gendhing Jawa  masih belum memadai dan tidak begitu bermanfaat atau  belum tentu dapat digunakan dalam pendidikan bela Negara atau cinta tanah air. Namun dari sisi yang lain, isi sindhenan tentang nasehat dan upaya menjadi manusia yang baik secara umum, dan ini meliputi sebagian besar cakepan sindhenan disamping ungkapan tentang cinta kasih, sudah mencakup makna menjadi warga masyarakat yang baik, warga Negara dan warga dunia yang baik, serta insan yang taat kepada Tuhan penciptanya. Dengan demikian, secara tidak langsung, bagi mereka yang memahami sastra tembang dan teks sindhenan dan menerapkannya dalam kehidupannya pribadinya sehari-hari, dapat diharapkan kecintaannya kepada bangsa dan Negara akan semakin tumbuh dan berkembang, minimal melalui kecintaannya terhadap budayanya sendiri.

Dikaitkan dengan perkembangan seni dan isi cakepan sindhenan di masa datang, dengan kerumitan struktur yang dimiliki dan kekayaan teknik teknik garap instrument gamelan dalam seni sindhenan, serta syarat bermain berkelompok dengan gamelan, sudah dipastikan peminat kursus sindhenan tidak akan seramai kursus bahasa Inggris atau Mandarin. Dari sisi ini, empati dan amansipasi sudah diperlukan untuk menghidupkan budaya ‘klenengan’ dan sindhenan di internal masyarakat Jawa. Namun dibandingkan dengan kelompok budaya etnis lain di Indonesia, gamelan dan sindhenan Jawa justru sudah meng’global’ dan mengisi aula-aula jurusan Etnomusik di universitas–universitas besar di luar negeri. Posisi sindhenan sebagai suatu kegiatan  seni  di persaingan antar budaya dan unjuk diri identitas bangsa, pada kenyataannya  tidak terbatas pada banyak sedikit  jumlah cakepan, besar kecil jumlah “pandhemen”, atau nilai materi yang dihasilkan, melainkan terletak pada kemampuan seni Sindhenan dalam menjaga ke-khasan sebagai identitas etnis, sebagai tanda budaya, dan  kemampuan menjaga karya-karya sindhenan agar tidak terdistorsi atau hilang nilai seni dan manfaat sakralnya, serta proses regenerasi pencipta dan pelaku seni budaya sindhenan di dalam dan luar negeri. Calon sindhen-sindhen berkulit putih (USA, UK, Kanada, Belanda dll) dan kuning (Jepang) keluar masuk untuk belajar ke empu dan pesindhen terkenal di Yogya dan Surakarta. Mereka justru lebih tertarik mempelajari seni tersebut karena kekhasan   gamelan dan sindhenan. Dan lebih penting lagi, mereka belajar dengan kesadaran tinggi, minat tinggi, rasa hormat dan pemahaman tentang budaya local akan adanya ikatan plural budaya antar bangsa. Tentunya ini merupakan hal yang positif, karena sindhenan dapat menjadi pengikat hubungan antar  bangsa dan Negara, dan seharusnya menjadi cambuk bagi masyarakat etnis Jawa untuk mempelajari lebih banyak, mengembangkan dan melestarikan, agar di masa datang orang Jawa tidak harus ke luar negeri untuk belajar sindhenan.

F. Simpulan, Saran, dan Penutup .

Sindhenan dan gamelan sudah menjadi ‘penanda’ identitas bangsa Indonesia, terutama etnis Jawa, Sunda, dan Bali. Meskipun tidak banyak teks sindhenan yang secara eksplisit mengungkapkan rasa cinta tanah air dan membela bangsa dan Negara, namun keberadaan gamelan dan sindhenan, dan posisinya diantara budaya lain di dalam dan luar negeri, sudah merupakan prestasi sendiri. Posisi ini perlu lebih ditingkatkan dengan menciptakan lebih banyak lagi ungkapan bela Negara dan cinta tanah air dalam cakepan  sindhenan.Tentunya akan lebih baik lagi apabila masyarakat muda Jawa juga tertarik dan menyintai, serta mempelajari agar dapat melakukan dan mampu menciptakan kreasi-kreasi untuk menyempurnakan teks-teks yang sudah ada, karena memang merekalah yang harus meneruskan dan melestarikan budaya Jawa di masa datang. Untuk mencapainya tentunya diperlukan program internalisasi melalui pendidikan, promosi, dan system award bagi yang melakukan lebih baik. Semua ini dapat dilakukan dengan  strategi  pengembangan yang tepat dari fihak-fihak yang berkompeten.

  Strategi utama yang disarankan adalah upaya menginternalisasi gamelan dan sindhenan di kalangan generasi muda Jawa, melalui pengajaran bahasa Jawa dan menggunakan tembang-tembang sebagai dasar pemahaman bahasa, sastra, dan moral Jawa, disertai peningkatan kemampuan membaca dan menulis kreatif di sekolah formal dan kursus, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Strategi berikutnya adalah pengenalan dan praktek seni budaya tradisional Jawa yang akan melibatkan seni musik, tari, dan teater, yang kemudian dapat digunakan untuk pengembangan keahlian menulis cerita, mencipta lagu, dan menggarap musik dan tari tradisional Jawa. Demikian seterusnya, sehingga internalisasi yang dilakukan mampu menumbuhkan usaha kreatif dibidang seni dan budaya masyarakat terutama Jawa.

Yang terakhir, ketika seni ini sudah menjadi bagian dan penghidupan pelakunya dan bermanfaat bagi kehidupan budaya dan pariwisata di daerah, diperlukan manajemen kelompok budaya yang baik dan adil, sehingga semua dapat menerima manfaat dari berkesenian, dan dengan cara yang sesuai dengan budaya Jawa, sebagai mana dilantunkan dalam sebuah tembang Dhandhanggula, sbb:

Iku ingkang kudu den parsudi ,    (Itulah yang harus dicari)

bebasane : ywa kegeden empyak , (ibaratnya :jangan besar keinginan )

peyok yen kurang cagake .   (rusak bila cagaknya kurang/ tidak lengkap persiapannya )

Marma aja kalimput,  (Maka jangan lupa/salah strategi )

kudu tartib dennya miwiti,  ( harus tertib ketika memulainya )

sinangkan pangupaya ,   (disertai usaha keras )

den ajeg asayuk ,   (tetaplah bersatu )

sabiyantu lan pra warga ,  ( bekerja sama dengan seluruh warga/anggota )

lilimbangan met pikiran kang premati , (membuat pertimbangan dengan  pemikiranyang teliti)

tiniti patrap sira. (  memperhatikan tingkah laku kita sendiri ).

(Sumber: Djajawigati, tt:16, di Serat Pepeling lan Pamrayoga ).

                                                          Semarang, Oktober 2011.

                                                DAFTAR KEPUSTAKAAN

Darsono, 2009, Pengetahuan Dasar Swarawati , bahan kursus dasar swarawati se Jawa Tengah,  ISI Surakarta.

Djayawigata, --tt, Serat Pepeling lan Pramayoga , Dahara Prize, Semarang.

Gitosaprodjo, 2009, Gerong Lengkap jilid IA , Cendrawasih, Surakarta.

Lombard,D.  2005, Nusa Jawa: Silang Budaya, jilid II , Gramedia, Jakarta

Soeranto,JB, dan Mulyani, S,  2004, Budaya Jawi , Cenderawasih, Surakarta.

Sri Hastjarja,G., 2000, Macapat 1 , Cenderawasih, Surakarta.

  -‘-                      , 2005, Macapat 2 , Cenderawasih, Surakarta.

.Supadmi, --tt, Tembang-tembang Palaran Cengkok Surakarta, Yogyakarta , Cendrawasih,  Surakarta.

-‘-                    1999, Kempalan Sindhenan Gendhing , Cendrawasih, Surakarta

-‘-                     2002, Sindhenan Gendhing Iringan Pakeliran Wayang Kulit Purwa  Gagrak Surakarta, Cendrawasih, Surakarta.

-‘-                     2009, Sindhenan Cengkok Srambahan lan Abon-abon , ed. revisi,

                       Cendrawasih, Surakarta.

Supadminingtyas, 2009, Tuntunan Sindenan Ketawang, Ladrang, Jineman , --, untuk

                          lingkungan sendiri, Surakarta

-‘-                     2010, Tembang-Tembang Andhegan, Palaran, Bawa Langgam ,-- , untuk  lingkungan sendiri, Surakarta.

Susetya, W, 2007, Dhalang, Wayang dan Gamelan , Narasi, Yogyakarta

 

Wed, 11 Jan 2012 @03:20


6 Komentar
image

Tue, 3 Dec 2013 @09:45

mrs cho

thanks... ^^

image

Fri, 24 Jan 2014 @17:16

Eunike Brahmantyo

Tulisan yang sangat berguna dan sangat Indonesia. Terima kasih buat sang penulis, Sri Yuwanti. Mohon ijin saya bagikan ke teman-teman Face Book saya, ya...
Nuwun.

image

Fri, 24 Jan 2014 @17:18

Eunike Brahmantyo

Saya membagikan ke Face book dengan tetap mencantumkan Penulisnya.
Nuwun.

image

Wed, 18 Jun 2014 @16:06

Ki Sutadi

Terima kasih atas catatan atau komentarnya.
Salam saya, Ki Sutadi Ketua PEPADI Jawa Tengah

image

Tue, 17 Mar 2015 @17:16

Sugiyono

Matur nuwun sedaya informasinipun

image

Sun, 6 Sep 2015 @07:37

Melinda della saputri

Tulisanya sangat bagus,tetapi agAk dibesarkanya.


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Pepadi Jateng · All Rights Reserved