Sugeng Rawuh
image

PEPADI JATENG


Hambangun budi pakarti tumrap jagad pewayangan
Unduhan
Pengunjung

KEPUTUSAN KONGRES PEWAYANGAN 2005

 

KEPUTUSAN KONGRES PEWAYANGAN 2005

 

I.     Pengantar

Bangsa Indonesia telah memasuki era kesejagatan yang berakibat pada adanya perubahan cara pandang dan cara pikir masyarakatnya. Sementara itu pada kalangan masyarakat tertentu pemahaman terhadap nilai budayanya cenderung semakin tipis. Wayang merupakan harta kuitural yang tidak hanya bersifat konkrit tetapi lebih bersifat simbolik. Pengembangan wayang menjadi sesuatu yang naturalis-realis-konkrit justru akan menghilangkan ciri khas wayang itu sendiri. Akibatnya wayang akan kalah bersaing dengan media audio visual seperti film dan TV. Oleh karena itu, ciri khas simbolik wayang harus dipertahankan sebagai media tontonan, tuntunan, dan tatanan ketika disadari adanya proses pengikisan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap wayang.

Tujuan Kongres Pewayangan ini adalah memunculkan formula-formula kesepakatan yang pada gilirannya ditindaklanjuti dengan berbagai upaya untuk mendekatkan kembali wayang dengan masyarakatnya. Dengan cara demikian salah satu fungsi wayang sebagai media syiar, karena didalarnnya bermuatan tuntunan, akan semakin diminati oleh masyarakat modern sehingga dapat membawa masyarakat menuju suatu tatanan sosial budaya yang berkepribadian luhur.

       Setelah mencermati, menyarikan, dan mengolah later belakang, masalah, dan tujuan Kongres Pewayangan, makalah-makalah yang dipresentasikan, makalah yang lolos seleksi namun tidak dipresentasikan, dan usulan pendapat, komentar para peserta pada sidang-sidang baik pleno maupun planel, maka dirumuskan hasil keputusan Kongres Pewayangan 2005 berikut ini.

 

II.   Rumusan Keputusan Hasli Kongres Pewayangan 2005

1.    Wayang telah diangkat sebagai karya agung budaya dunia oleh UNESCO tanggal 7 Nopember 2003 atau masterpiece of oral and Intangible Heritage of Humanity, oleh karena itu Kongres Pewayangan 2005 mendukung dan akan menindaklanjuti keputusan tersebut

2.    Wayang sebagai artefak maupun pertunjukan merupakan harta kultural yang harus dilestarikan, dikembangkan dan diberdayakan oleh masyarakatnya.

3.    Di kalangan generasi muda dan anak-anak terjadi proses pengikisan apresiasi dan tanggapan terhadap kehidupan wayang, oleh karena itu, perlu dicari upaya yang tepat agar minat dan bakat anak terhadap wayang dapat ditumbuhkan, baik daiam perspektif materi maupun metode.

4.    Pelestarian, pemberdayaan dan pengembangan perlu dilakukan pada wayang yang bercorak konvensional maupun modern

5.    Tanggung jawab pelestarian, pengembangan dan pemberdayaan wayang dilakukan oleh pemerintah melaiui instansi terkait, baik negeri maupun swasta, lembaga swadaya masyarakat, maupun masyarakat yang pada gilirannya akan  membuka wadah bagi  pelestarian,  pengembangan dan pemberdayaan wayang berupa sanggar, kelompok seni, dll

6.    Penumbuhan minat dan bakat terhadap wayang pada anak dilakukan meialui jalur pendidikan keluarga dengan cara mendekatkan kembali pada lingkungan budayanya, pembiasaan berbahasa !okal pada anak sesuai bahasa ibunya, jalur forma! melalui kurikulum muatan lokal bahasa Jawa dari tingkat dasar, menengah pertama, menengah atas maupun perguruan tinggi yang mempunyai pembelajaran budaya maupun bahasa lokal dengan pemilihan materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa, dan perubahan budaya. Jalur non formal dilakukan melalui sanggar, kelompok seni, dst.

7.    Salah satu bentuk alternatif pemberdayaan wayang melalui jalur formal, misalnya dengan rumus "Sapta Ma" (7 M), yaitu: (1) Melihat (misalnya melihat pertunjukan wayang yang sesungguhnya ataupun wayang kreasi dengan OHP ; (2) Mendengar (misalnya mendengarkan ceritera wayang): (3) Membaca (misalnya membaca ceritera wayang); (4) Membicarakan (siswa diajak membahas tentang wayang); (5) Menulis (siswa diajak menuliskan pikirannya tentang wayang); (6) Membuat (siswa diajak membuat atau mencipta hasil karya berupa wayang atau gambar wayang); (7) Memainkan (siswa diajak mempertunjukan kemampuannya memainkan wayang)

8.    Sesuai dengan perubahan sosial budaya yang telah, tengah dan akan terus terjadi, maka dalam rangka pelestarian dan pengembangan periu dirancang dan dilaksanakan program-program krsatif melalui media audio visual, multimedia, internet, dll.

9.    Pesan-pesan moral dalam masyarakat Jawa disampaikan lewat media seni wayang, dongeng, tembang, pitutur, piwellng para orang tua secara turun-temurun menunjukkan bahwa eksistensi dan esensi moralitas dijunjung tinggi dalam budaya Jawa,

10. Wayang  mengandung  nilai-nilai  ajaran  moral  yang  bersifat universal. Demikian pula wayang memberikan sejumlah alternatif pilihan tentang watak atau karakter yang dapat dijadikan figur daiam hidup untuk pendidikan budi pekerti. Untuk itu diperlukan upaya menggali makna kembali dan menyosiaiisasikan nilai-niiai ajaran moral tersebut kapada generasi rnuda.

11. Upaya pelestarian, pengembangan dan pemberdayaan pertunjukan wayang dspat diiakukan secara holistik. Untuk itu, Diperlukan manajemen baru yang rnampu menata agar pertunjukan wayang dapat menjadi sumber penghidupan bagi para pelakunya.

12. Pemberdayaan dan pengembangan wayang meliputi pengembangan dan penciptaan cerita, kreativitas seni bentuk wayang, media dan properti pertunjukan pendidikan calon dalang,   kesadaran   masyarakat   penanggap   dan   penonton, periuasan arena pusat pergeSaran beserta perlengkapannya.

 

Hasil keputusan kongres tersebut diharapkan dapat dijadikan pedoman dan referensi instansl pemerintahan terkait daiam menentukan kebij'akan kebudayaan dan strategl kebudayaan khususnya da/am bidang pewayangan dan pedalangan. Untuk itu, Kongres Pewayangan 2005 merumuskan pula rekomendasl yang dapat dijadikan tltik tolak rancangan dan pelaksanaan program pelestarlan, pernberdayaan dan pengembangan wayang.

 

III.         Rekomendasi

1.    Pernyataan sikap untuk menindaklanjuti keputusan UNESCO bahwa wayang ditetapkan sebagai karya agung budaya dunia pada kongres pewayangan di Yogyakarta, tanggal 14-18 September 2005, maka pemerintah Indonesia, dalam hal ini instensi yang terkait, perlu rnenetapkannya melalui surat keputusan yang berkekuatan hukum agar wayang dapat tetap dilesrarilan dan diberdayakan.

2.    Sebagai produk budaya bangsa yang sudah berkekuatan hukum, pemerintah wajib melindungi dan mslestarikan hasli budaya tersebut agar terhindar dari kepunahan.

3.    Tanggung jawab pelestarian, pengembangan dan pernberdayaan wayang dllakukan o!eh pemenntah dan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah melalui Dinas Kebudayaan perlu merancang program dan mengalokasikan sumber dana bagi kepentingan tersebut.

4.    Untuk kepentingan butir nomor 3, pemerintah perlu bekerja sama dengan lembaga-lembaga pewayangan yang dibentuk oleh masyarakat, sehingga terjadi upaya kolaboratif yang sinergis antara pemerintah dan swasta, ataupun sebaliknya.

5.    Perlu segera disusun rnateri pembeiajaran wayang yang dapat dijadikan alternatif dalam kurikulum muatan lokal bahasa Jawa untuk semua jenjang persekolahan.

6.    Wayang sebagai harta kultural harus dilestarikan, dikembangkan dan diberdayakan oleh masyarakatnya dalam posisinya sebagai artefak maupun sebagai pertunjukan.

7.    Tanggung jawab pelestarian, pengembangan dan pemberdayaan wayang dilakukan oleh pemerintah melalui instansi terkait, baik negeri maupun swasta, lembaga swadaya masyarakat, maupun masyarakat yang pada gilirannya akan membuka wadah bagi peiestarian, pengembangan dan pemberdayaan berupa sanggar, kelompok seni, dst.

8.    Pemerintah perlu meninjau ulang keputusan membatasi jam tayang televisi pada malam hari, karena menghambat pengembangan pagelaran wayang.

9.    TVRI sebagai salah satu lembaga pemerintah perlu merealisasikan kembali penayangan pagelaran wayang secara rutin, sebagai salah satu perhatian pemerintah terhadap upaya pelestarian dan pengembangan wayang.

 

Berdasarkan usulan dari sebaglan besar peserta, maka diperlukan tindak-lanjut Kongres Pewayangan 2005. Tindak lanjut tersebut berupa usulan program lanjutan.

1.    Konsolidasi dengan lembaga pewayangan maupun pedalangan di tingkat pusat maupun daerah serta Instansi terkait untuk mengadakan : Kongres Pewayangan secara periodik tiga tahun sekali

2.    Konsolidasi dengan penulis, guru, dan dinas pendidikan untuk menyusun buku ajar wayang tingkat dasar dan rnenengah sebagai salah satu alternatif muatan lokal.

3.    Konsolidasi dengan lembaga pewayangan maupun pedalangan di tingkat Pusat dan Daerah, merangkum kesepakatan untuk mengadakan progam pelestarian dan pengembangan dalam bentuk penyelenggaraan pementasan wayang yang dikemas menjadi ragam pakeliran yang disalenggarakan secara intensif serta menindaklanjuti rekomendasi hasil keputusan kongres pewayangan 2005.

4.    Merapatkan kerjasama dengan Instansi terkait/ lembaga pewayangan dan pedaiangan baik tingkat pusat maupun daerah untuk menggalang kerjasama dengan pemangku kepentingan (stakeholder) agar dapat melaksanakan program penyelenggaraan pementasan.

                                                                            Hotel Inna Garuda

                                                                  Yogyakarta, 18 September 2005

 

 

 

Tim Perumus

1.    Prof. Dr. Suminto A. Sayuti

2.    Prof. Dr. Timbul Haryono

3.    Drs. Sulebar Sukarman

4.    Sri Harti Widyastuti, M.Hum

5.    Dr. Purwadi

Mon, 23 Jul 2012 @09:46


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Pepadi Jateng · All Rights Reserved