Sugeng Rawuh
image

PEPADI JATENG


Hambangun budi pakarti tumrap jagad pewayangan
Unduhan
Pengunjung

Wayang, Karya Agung Dunia

    Wayang, Karya Agung Dunia

            Oleh : Drs.Singgih Wibisono

Dewasa ini pengaruh kebudayaan industri telah melanda kehidupan masyarakat kita dalam segala bidang. Seni pertunjukan wayang yang awalnya masih mengutamakan nilai-nilai adiluhung, kini telah bergeser dan mengalami pendangkalan mutu. Pertunjukan wayang yang kini cenderung ‘melayani’ selera pasar sebagai sarana hiburan sehingga estetikanya terabaikan. Hal itu terlihat dari filsafat wayang yang sarat dengan pesan-pesan moral tidak lagi menyentuh hati nurani penontonnya, dan lebih tertarik pada penampilan para pelawak dan penyanyi dangdut yang disisipkan pada adegan-adegan Limbuk-Cangik dan Goro-goro. Acara hiburan ini berlangsung sampai   berjam-jam dan sesudah itu penonton banyak yang meninggalkan arena pertunjukan.

Adapun sisa waktu yang tinggal sedikit tidak cukup untuk membentangkan jalannya cerita sesuai dengan lakon yang dipergelarkan. Akibatnya pertunjukan wayang kehilangan intisarinya sebagai tuntunan hidup, dan tinggal sebagai tontonan yang kurang berbobot. Di beberapa daerah bahkan sering terjadi kerusuhan di kalangan para penontonnya yang suka mabuk-mabukan. Tampilnya para penyanyi dangdut dan campursari yang biasanya masih muda dan cantik-cantik , sering menjadi pemicu keonaran penonton preman yang hanya ingin berhura-hura. Mereka tidak segan-segan mengancam dalangnya untuk segera mulai dengan acara dangdutan dan memaksa para penyanyi tampil dengan berdiri di tengah arena. Sering juga terjadi tawuran antarkelompok dan sampai mengakibatkan korban jiwa.

Pelayanan selera pasar tidak saja terbatas di tempat pergelaran, tetapi juga merambah ke siaran televisi. Penampilan dalang yang diselingi dengan hiburan lawakan dan lagu-lagu pop sering kebablasan bahkan ikut juga merusak mutu seni pedalangan. Memang dengan cara penayangan di televisi seperti itu , jumlah penonton bisa mencapai ratusan ribu dan inilah yang diharapkan oleh para pengusaha dengan pemasangan iklan di televisi.

Tidaklah tertutup kemungkinan pergelaran wayang di televisi menjadi lahan bisnis yang bisa meraup keuntungan cukup besar. Namun demikian, dampak negatifnya sebagai sebuah pelecehan kesenian adiluhung samasekali tidak menjadi perhatiannya. Menghadapi begitu besar dan beratnya persaingan dalam konteks komersial, para dalang yang mumpuni dalam penguasaan seni pedalangan sering tidak berdaya untuk menolak pihak penanggap yang menginginkan acara pergelaran wayang hanya dilihat dari kacamata ”hura-hura”. Akibatnya pertunjukan wayang lebih berat pada hiburannya dibandingkan dengan fungsi pendidikan moralnya.

Kalau saja para empu yang dengan penuh pengabdian jiwanya pada seni pewayangan bisa menyaksikan rusaknya pergelaran wayang seperti itu, bisa dibayangkan betapa hancur luluh perasaannya. Padahal ketika menciptakan karya seni pewayangan, meliputi bentuk wayangnya, karawitannya, gubahan ceritanya yang sarat dengan nilai-nilai filsafat serta seni yang serba adiluhung, sikap jiwanya dalam berkarya senantiasa mendekatkan jiwanya dengan Sang Maha Pencipta.

Dengan sikap jiwa dan pengabdian secara total itulah tercipta seni adiluhung. Kita sebagai pewaris budaya seharusnya bisa melestarikannya, mengembangkan dan mengagungkannya, dan tidak malah melecehkannya.

Sikap Kokoh

Untunglah bahwa masih banyak dalang yang memiliki sikap kokoh dalam upaya mempertahankan keadiluhungan wayang. dan seni pedalangannya. Berkat sikap seperti itulah wayang masih bisa dikenali sebagai warisan budaya leluhur yang patut dilestarikan. Upaya melestarikan tidak berarti bahwa tradisi seni pedalangan menjadi statis. Seperti halnya setiap kebudayaan pasti mengalami perubahan sesuai dengan zaman dan perkembangan masyarakatnya, demikian pulalah seni pedalangan banyak mengalami perkembangan. Teknologi modern dimanfaatkan untuk meningkatkan daya pesona pertunjukan wayang. Tata cahaya dan tata suara kini dikelola dengan canggih sehingga menghasilkan efek-efek yang mengesankan. Garapan ceritanya tidak terbatas pada pakem-pakem lama saja, tetapi digubah secara kontekstual dengan situasi dan suasana kehidupan masyarakat dewasa ini.

Di samping itu lembaga yang bergerak di bidang seni pewayangan juga tiada henti- hentinya berupaya untuk mempertahankan nilai-nilai seni dan mengembangkannya lebih lanjut. Di antara lembaga pembinaan wayang yang cukup berprestasi adalah SENAWANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia)   dan PEPADI   (Persatuan Pedalangan Indonesia).

Di dunia internasional wayang juga telah tercatat sebagai karya seni budaya yang adiluhung. Lembaga internasional yang menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation.). UNESCO adalah salah satu lembaga PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang berkantor pusat di Paris, Perancis. Tahun 1972 UNESCO menggariskan suatu konvensi untuk mengutamakan warisan budaya yang kasatmata seperti monumen, situs budaya dan pemandangan alam. Kemudian berkembanglah kesadaran bahwa warisan yang bersifat lisan dan tak benda juga sangat penting untuk dilestarikan.
Warisan jenis ini justru merupakan hasil kreativitas dan menjadi jati diri dan keanekaragaman budaya manusia. Sangat dikhawatirkan warisan budaya yang tidak berujud benda, tetapi sarat dengan nilai-nilai b udaya itu lambat laun akan lenyap, terdesak oleh arus globalisasi, peperangan atau kerusakan lingkungan.

K epedulian UNESCO


Pada tahun 1989 UNESCO memusatkan perhatian kepada perlindungan budaya tradisional. Di mana-mana disebarluaskan upaya pelestarian dan pengembangan budaya tradisional, juga termasuk adat istiadat dan kesenian di Indonesia. Pada tahun 1997 UNESCO menyusun peraturan mengenai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (Karya-karya Agung Lisan Tak Benda Warisan Manusia) dengan tujuan:

 

 

a.   meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap nilai warisan budaya tak benda;

b.   mengevaluasi dan mendaftar situ s dan warisan budaya tak benda;

c.   membangkitkan semangat pemerintah negara supaya mengambil tindakan-tindakan hukum dan  

     administrasi guna melestarikan warisan budaya tak benda ;

d. Mengikutsertakan seniman setempat dalam dokumentasi pelestarian dan pengembangan

     warisan budaya tak benda.


Setiap negara boleh mencalonkan satu karya agung budaya untuk diproklamasikan setiap dua tahun sekali. Pengajuan calon karya agung budaya itu disertai dengan identifikasi, konservasi, pelestarian, dokumentasi dan perlindungan. Semua berkas yang diajukan selanjutnya diperiksa oleh budayawan dan NGO internasional, baru diperiksa oleh delapan belas juri yang terdiri dari para pakar budaya dunia. Setelah segala persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan UNESCO dipenuhi dan disetujui maka warisan budaya tak benda itu diproklamasikan sebagai Karya Agung Budaya Dunia. Maka terbukalah peluang bagi Indonesia untuk menampilkan wayang kepada UNESCO.

Selanjutnya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menugaskan SENAWANGI untuk mempersiapkan pencalonan wayang Indonesia sebagai salah satu karya agung dunia.
Ada 6 persyaratan yang harus dipenuhi untuk dinyatakan sebagai karya agung dunia. a. Nilai luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia. b. Berakar dalam tradisi budaya atau sejarah budaya masyarakat yang bersangkutan c. Berperan sebagai sarana pernyataan jati diri bangsa atau suku bangsa yang bersangkutan, fungsinya sebagai sumber inspirasi pertukaran budaya, sebagai sarana membuat rakyat semakin dekat satu sama lain, serta peran sosialnya masa kini dalam masyarakat yang bersangkutan d. Kegunaan dalam penerapan keterampilan dan sifat teknik yang diperlihatkan e. Peranannya sebagai tradisi budaya yang hidup f. Risiko budaya yang bersangkutan bisa punah karena kekurangan sarana untuk melestarikan dan melindunginya.


Setelah bekerja keras dalam jangka waktu yang relatif terbatas maka semua persyaratan UNESCO tersebut dapat terpenuhi semuanya oleh SENAWANGI sebagai pengemban tugas mulia ini. SENAWANGI mempersiapkan 5 jenis waya
n g yang mewakili untuk diteliti yaitu:

  wayang kulit purwa Jawa dari Jawa Tengah ;
  wayang parwa Bali dari Bali ;
• wayang golek Sunda dari Jawa Barat
;
• wayang Palembang dari Sumatera Selatan
;
• wayang Banjar dari Kalimantan Selatan
;

Wayang Indonesia diproklamasikan oleh UNESCO sebagai karya agung budaya dunia pada tanggal 7 November 2003, di Paris Perancis. Sungguh suatu prestasi budaya bangsa Indonesia yang sangat gemilang. Penghargaan seluruhnya ada 30 negara yang karya budayanya dinyatakan sebagai karya agung dunia.


Dalam rangka penerimaan penghargaan wayang sebagai karya budaya dunia itu Indonesia mengirimkan misi ke Paris Perancis, untuk mempergelarkan pertunjukan wayang kulit dan wayang golek. pada tanggal 14 sampai 30 April 2004. Dua orang dalang yang dikirimkan sebagai misi adalah Ki Mantep Sudharsono untuk pergelaran wayang kulit purwa, dan Ki Eka C. Supriadi untuk pergelaran Wayang Golek Sunda. Kedua jenis pergelaran wayang itu mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton yang berasal dari berbagai negara.

(Penulis adalah Staf Ahli Bidang Seni Budaya Museum Pusaka)

 

Mon, 23 Jul 2012 @09:56


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Pepadi Jateng · All Rights Reserved